BAB 4 DAN 5 Sikap Mahasiswa Terhadap Pemberitaan LGBT di Liputan6.cm (Studi Pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Profil Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Malikussaleh

       Awal mula Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh diawali dengan berdirinya Akademi Ilmu Agama (AIA), Jurusan Syariah pada tahun 1969 melalui Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Aceh Utara Nomor : 01/TH/1969 tanggal 12 Juni 1969, yang pada saat itu dijabat oleh Bupati Drs. Tgk. Abdul Wahab Dahlawy. Selanjutnya pada tanggal 15 September 1970, akademi tersebut dilengkapi dengan Jurusan Ilmu Politik melalui Surat Keputusan Yayasan Perguruan Tinggi Islam Malikussaleh Nomor: 001/YPTI/1971.

         Akademi Ilmu Agama kemudian diubah namanya menjadi Perguruan Tinggi Islam Lhokseumawe dengan Jurusan Akademi Syariah, Jurusan Akademi Ilmu Politik, Jurusan Akademi Tarbiyah, serta Jurusan Dayah Tinggi/Pesantren Luhur. Perguruan Tinggi Islam ini mengalami perubahan namanya lagi menjadi Perguruan Tinggi Malikussaleh dengan Singkatan PERTIM   tanggal 24 Mei 1972. Dalam perjalanannya, PERTIM mengalami keadaan yang tidak menentu antara tahun 1972 s/d 1980, hingga diadakan rapat Pengurus Yayasan dengan melahirkan beberapa keputusan yaitu membentuk perguruan baru dan mengubah nama Yayasan Perguruan Tinggi Islam Malikussaleh menjadi Yayasan Universitas Malikussaleh dengan singkatan UNIMA. Yayasan Universitas Malikussaleh ini diperkuat melalui Akta Notaris Nomor 9. Dalam naungan Yayasan ini terdapat 3 Fakultas yaitu Fakultas Syariah, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, serta Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat.

           Pada saat itu Universitas Malikussaleh belum mampu memenuhi syarat-syarat yang dituntut untuk suatu Universitas, maka Yayasan Universitas Malikussaleh melalui Akta Notaris Nomor 054 tanggal 16 Februari 1981 diubah lagi menjadi Yayasan Perguruan Tinggi Malikussaleh yang di dalamnya terdapat Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara dengan Jurusan Ilmu Pemerintahan dan Jurusan Administrasi Niaga dengan Program Studi D-3 Kesekretariatan.

           Dalam sejarahnya yang panjang dan melalui proses yang rumit akhirnya pada tanggal 18 Juli 1984 melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan Republik Indonesia Nomor : 0607/01984, Sekolah Tinggi Administrasi Negara memperoleh Status Terdaftar. Dengan memperhatikan kondisi daerah yang terus-menerus dilanda konflik, perubahan paradigma pemerintahan daerah, serta persoalan pembangunan sosial dan politik, maka pihak pengelola tergugah untuk membuka Fakulas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Malikussaleh. Pada tanggal 12 Desember 2000, Rektor Universitas Malikussaleh mengusulkan pendirian fakultas tersebut kepada Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia melalui Surat Nomor: 640/Unima.H/2000.

        Pada tanggal 5 September 2003 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh mendapat Izin Menteri melalui Surat Keputusan Nomor: 2289/D/T/2003 tentang Penyelenggaraan Program-Program Studi Baru pada Universitas Malikussaleh Lhokseumawe serta perubahan nama Fakultas Ilmu Administrasi menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh dengan Jurusan Ilmu Administrasi Negara, Ilmu Komunikasi, Ilmu Politik, Antropologi, dan Sosiologi.

      Seiring dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Propinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarno Putri mengabulkan permintaan masyarakat Aceh dalam menindaklanjuti Keistimewaan Aceh di bidang pendidikan berdasarkan KEPPRES Nomor 95 Tahun 2001 tentang Status Negeri kepada Universitas Malikussaleh.

    Berdasarkan Keppres tersebut, maka Universitas Malikussaleh menjadi Universitas Negeri ketiga di Nanggroe Aceh Darussalam setelah Universitas Negeri Syiah Kuala dan IAIN Ar-Raniry. Sejak penegerian Universitas Malikussaleh, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik telah meluluskan sebanyak 240 orang Sarjana Sosial yang tersebar dan mengabdi di berbagai instansi pemerintahan maupun swasta.

       Seiring dengan perubahan status Universitas Malikussaleh dari Perguruan Tinggi Swasta (PTS) menjadi Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik melakukan pembenahan dan pengembangan. Pengembangan yang dilakukan adalah dengan membuka program studi (Prodi) baru, yaitu Prodi Ilmu Politik, Prodi Ilmu Komunikasi, Prodi Sosiologi dan Prodi Antropologi. Pengembangan Prodi ini diharapkan mampu memberikan kontribusi positif, baik bagi Fakultas pada khususnya maupun bagi Universitas dan daerah pada umumnya.

           Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas disediakan ruang untuk berkreasi dan berorganisasi di bidang apapun. Mahasiswa tidak hanya diberikan selalu teori-teori saja tetapi juga didukung oleh praktek yang ada demi meningkatkan kemampuan mahasiswa nantinya di lingkungan kerja. Di bidang kemahasiswaan ada unit pendukungnya seperti Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Badan Eksekutif Mahasiswa FISIP (BEM), Himpunan Mahasiswa Administrasi Negara (HIMIAN), Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (HIMIPOL), Lingkungan Kerabat Antropologi Unimal (LIN-KA), Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMAKO) dan Himpunan mahasiswa Sosiologi (HIMASOS). Setiap bidang tersebut memiliki visi dan misi yang beragam.

        Selain itu mahasiswa juga mengadakan kegiatan-kegiatan yang positif salah satunya adalah seperti dari jurusan Ilmu Komunikasi mahasiswa membuat suatu pameran dan perlombaan foto yang merupakan hasil karya mahasiswa sendiri dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh jurusan yang lainnya.

Adapun nama pimpinan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh periode saat ini:

  • Periode 2016 – saat ini

    Dekan                                  : M. Akmal, S.Sos., MA

    Pembantu Dekan I              : Dr. M. Nazaruddin, SS., M.Si

    Pembantu Dekan II             : Muhammad Fazil, S.Ag., M.Soc.Sc

    Pembantu Dekan  III          : Zulham, BA., MA

    Gugus Jaminan Mutu          :  Subhani, S.Sos., M.Si

4.1.1.1 Visi, Misi, Tujuan dan Motto

        Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik berkeinginan mewujudkan standar kualitas yang baik di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat melalui peningkatan dan pengembangan kualitas sumber daya manusia, serta sarana dan prasarana belajar-mengajar sehingga akan tercipta atmosfer keilmuan yang bebas, jujur, kreatif, dan dinamis. Seperti ingin menjadikan suatu lembaga pendidikan tinggi dalam bidang Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang kearifan lokal dan kebudayaan multikultural di Indonesia pada Tahun 2025 akan datang.

        Dalam upaya mewujudkan visi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, perlu dijalankan misi-misi yang konkret salah satunya ialah melaksanakan pendidikan bidang ilmu sosial dan ilmu politik yang berkarakteristik kebijakan publik dan administrasi pembangunan, jurnalistik dan public relation, resolusi konflik dan politik lokal, pembagunan berkelanjutan berbasis kearifan lokal dan kebudayaan multikultural yang berlandaskan prinsip penjaminan mutu (quality assurance).

        Sesuai dengan visi dan misi sebagaimana disebutkan di atas, maka yang menjadi tujuan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik adalah sebagai mewujudkan Program Studi dan Kurikulum yang bermutu sehingga mampu meningkatkan kemampuan lulusan yang berkualitas dan berdaya saing tinggi, mewujudkan pengabdian kepada masyarakat secara partisipatif dan emansipatif melalui penyuluhan, pelatihan, dan pendampingan sosial yang sesuai dengan arah pembangunan. Serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh memiliki motto yaitu: “Unggul, Empati, dan Plural”.

4.1.1.2 Keadaan Dosen

        Adapun keadaan dosen yang ada pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh memiliki 69 orang dosen yang terbagi dalam lima jurusan yang ada. Untuk lebih jelasnya, tabel dibawah ini dapat memberikan gambaran umum tentang keadaan dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh sebagai berikut:

Tabel 4.1 Keadaan Dosen

No. Program Studi Status Dosen Jumlah
PNS BOPTN
1 Ilmu Administrasi Negara 14 2 16
2 Ilmu Politik 14 2 16
3 Antropologi 9 0 9
4 Ilmu Komunikasi 11 3 14
5 Sosiologi 14 0 14
Total 62 7 6
Sumber: Data FISIP Universitas Malikussaleh

4.1.2 Sikap Mahasiswa Terhadap Pemberitaan LGBT di Liputan6.com           (Periode Februari-Juli 2016)

      Pemberitaan LGBT memberikan dampak bagi pembaca yang dapat menghasilkan suatu sikap. Melalui media, maka seseorang telah menghadapi stimulus atau rangsangan yang hadir dalam dirinya. Sehingga melalui stimulus-stimulus tersebut terbentuknya sikap seseorang. Berkaitan informasi yang diterima oleh mahasiswa sudah puaskah atau sebaliknya hal ini disesuaikan dengan hasil wawancara penulis dengan mahasiswa Ilmu Administrasi Negara (IAN) bernama Dewi Yulia (21) semester 8, yaitu sebagai berikut:

“…Dalam berita liputan6.com dijelaskan kalau tidak perlu UU LGBT         tetapi   Indonesia Negara pancasila. Negara pancasila itu istilahnya            Negara yang menghargai jadi, Indonesia perlu UU LGBT. Jadi,       menurut saya berita yang disampaikan ini tidak puas.”            (Wawancara, 13 Februari        2017)

       Hasil wawancara penulis dengan Agum Arif Gumilang (22), mahasiswa Ilmu Komunikasi semester 9:

“Ya cukup puas sih dengan berita LGBT di liputan6.com. Cuman           berita   LGBTnya lebih banyak menerbitkan masalah LGBT yang ada        di luar negeri. Tapi, sudah cukuplah untuk menambah wawasan tentang LGBT itu apa.” (Wawancara, 13 Februari 2017)

     Menyangkut hasil wawancara di atas, berikut pernyataan dari mahasiswa sosiologi yang bernama Suriati (22), semester 10:

“Puas karena, informasi yang dikeluarkan disini memang sudah   cukup kuat tentang LGBT itu. Buat pembaca yakin dan percaya    tentang masalah   LGBT ini sendiri.” (Wawancara, 20 Februari 2017)

         Namun, berbeda dengan sikap mahasiswa yang bernama Reka Ditta Amelia (22) mahasiswa Ilmu Komunikasi semester 9, yaitu:

“InsyaAllah saya puas karena berita LGBT pada liputan6.com engga  saja  di indonesia pemberitaan LGBT itu tapi, diluar negeri ada bahka  lebih banyak pemberitaan LGBT tersebut.” (Wawancara, 14 Februari 2017)

          Ketergantungan yang tinggi pada media massa akan membentuk kebiasaan dan perilaku seseorang. Perihal mahasiswa mengetahui LGBT berbagai hal yang disebabkan salah satunya melihat suatu peristiwa secara langsung, baik dialami sendiri maupun kondisi lingkungannya ada sebagian informan di lapangan tahunya dari media massa, cetak, penyiaran dan internet, komunikasi interpersonal (saling tatap muka) LGBT juga menyebar dari mulut ke mulut atau menjadi isu di tengah masyarakat. Berikut hasil wawancara penulis dengan Agum Arif Gumilang (22) semester 9, jurusan Ilmu Komunikasi yaitu:

“Dari kecil agum udah tahu seputaran rumah agum di medan banyak       bencong yang berkeliaran ada yang bekerja sebagai PSK. Jadi, agum        gak asing lagi lihatnya.” (Wawancara 13 Februari 2017)

         Hasil wawancara penulis dengan Indah Savitri Tampubolon (22), mahasiswa Ilmu Komunikasi Semester 10:

Indah sering lihat orang yang termasuk dalam LGBT, banyak kali pun bahkan kalau dibilang kaya udah hal yang biasa. Kalau misalnya kita disini lihat orang pacaran jalan berdua biasa. Disana kaya lesbi, gay itu banyaklah apalagi kalau yang remaja-remaja itu orang ini kan karena pergaulannya juga.” (Wawancara, 16 Februari 2017)

        Hal di atas menunjukkan bahwa mahasiswa dipengaruhi oleh pengalaman masa lampau. Dimana, informan tersebut memiliki sikap yang stabil maka menentukannya sifat perilakunya sekarang maupun akan datang. Dalam hal ini, penulis tidak dapat merubah sikap informan tersebut.

           Proses penyampaian pesan setelah penerima memperoleh pesan dari sumber melalui media, penerima pesan berarti telah mendapatkan efeknya. Efek tersebut dapat terlihat dari pengetahuan yang tergambar dari berbagai penerima pesan. Berikut adalah hasil dengan Firmanda (23), mahasiswa Sosiologi Unimal Semester 13:

LGBT itu awalnya dari faktor pengaruh sosial lalu lama-kelamaan   merasa nyaman. Misalnya, lesbi mereka ini tidak mengungkapkan ketika menjalin hubungan tetapi karena kenyamanan yang membawa mereka semakin lengket kemana saja berdua. Apalagi di kos yang sering bertemu sehingga munculnya rasa nyaman sesama wanita itu.”     (Wawancara, 13 Februari 2017)

          Namun ada yang mengatakan bahwa LGBT juga karena faktor jiwanya seperti hasil wawancara penulis dengan Ayu Nadira (20) mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Semester 4:

Banyak kemungkinan yang menyebabkan terjadinya kelainan tersebut, ya bisa saja karna pengaruh jiwanya yang ke cowokan nafsu dia itu engga ada sama cowok nafsu dia cuman sama cewek. Kalau yang sekarang banyak yang dihasut untuk masuk ke dalam lingkungan  itu.” (Wawancara, 14 Februari 2017)

         Hal tersebut senada dengan pernyataan yang disampaikan Ayu (21), mahasiswa Ilmu Komunikasi Semester 6:

“Hal yang menyebabkan terjadinya kelainan tersebut kalau untuk lingkungan Indonesia sendiri sih ayu merasa dari penagaruh kejiwaan, kalau sosial kayanya gak juga terlalu karena Indonesia sendiri komunikasi antarsesama kita itu kan lebih erat gitu persaudaraannya dibanding sama dengan yang di luar. Jadi, lebih ke penyakit kejiwaan kak.” (Wawancara, 14 Februari 2017)

       Setelah seorang menerima informasi, selain ia mendapatkan efeknya ia juga dapat memberi umpan balik atau tanggapan atas informasi yang telah ia terima. Umpan balik terhadap berita LGBT dapat terlihat dari pernyataan hal apa yang menarik dari berita LGBT di liputan6 yang mengarah kepada zona penerimaan (informasi yang masih bisa diterima dan seseorang mampu merubah sikap informan sebelumnya). Berikut adalah hasil wawancara penulis dengan Dewi Yulia (21), mahasiswa Ilmu Administrasi Negara (IAN) Semester 8:

“Isi beritanya bagus, karena kita dapat melihat bahwa dengan adanya      pemberitaan ini LGBT sudah berkembang di masyarakat luas dan sudah  merambah ke seluruh Negara Indonesia.” (Wawancara, 13 Februari 2017)

      Hal tersebut juga disampaikan dalam pernyataan Ade Julianaswa (21), mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Semester 8:

“Berita LGBT di liputan6.com belum baca isinya aja udah geli  lihatnya. Dibaca sekilas biar ada pemahaman tentang LGBT     kedepannya itu gimana, biar wawasan kita luas supaya kita jangan   sampai seperti LGBT itu dan kita bisa menegur orang-orang itu. Selain  itu lihat gambarnya di berita ini lucu.” (Wawancara, 20 Februari 2017)

       Wawancara penulis dengan Ayu Nadira (20) selaku mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Semester 4, menyatakan bahwa:

 “Hal yang menarik dari berita LGBT di liputan6.com dari judulnya seperti mewah pesta pernikahan yang disetujui oleh orang tua, karena  jarang aja yang seperti ini. Kalau orang yang belum pernah tau tentang LGBT pasti kaget dan geli ketika tau atau membaca berita LGBT di liputan6.com ini. Intinya dari pemberitaan yang disampaikan di liputan6.com ini kebanyakan dari luar dimana Negara luar menyetujui pernikahan sesama jenis dan kurang bijak saja sih isinya.” (Wawancara,  14 Februari 2017)

            Menyangkut perihal tentang kekurangan dari isi pemberitaan LGBT di liputan 6.com, berikut hasil wawancara yang juga didapatkan penulis dari Fazarul Mirza (23), mahasiswa Ilmu Politik Semseter 14:

“Berdasarkan berita yang saya baca, berita LGBT pada liputan6.com kurang puas gak ada dijelaskan efek negatif dari LGBT itu apa. Tapi isi beritanya udah bagus buat menambah wawasan. Kan ini banyaknya dari berita tentang perkawinan di luar negeri. Maunya dijelasin efek negatifnya yang dapat menyebabkan HIV/AIDS.” (Wawancara, 7 Maret 2017)

        Seseorang cenderung untuk memberikan respon secara kognitif, emosi dan perilaku berupa reaksi (respons) dalam suka atau tidak suka, baik atau buruk, puas atau tidak puas, positif atau negatif penilaian terhadap suatu objek.

       Mengenai sikap pembaca terhadap berita LGBT, dapat terlihat pula dalam pernyataan mereka menanggapi berita yang dihadirkan, khususnya berita LGBT, berikut hasil wawancara penulis dengan Mardiana (22), mahasiswa Sosiologi Semester 10:

Berita LGBT itu penting, karena dapat mensosialisasikan kepada     khalayak luar agar mereka bisa mengenal dan tau apa itu LGBT dan        dampaknya apa saja yang ditimbulkan dari LGBT.” (Wawancara, 13           Februari 2017)

 

          Jawaban tersebut didukung oleh pernyataan Ayu Nadira (20), mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Semester 4 sebagai berikut:

Berita LGBT penting bisa menambah wawasan kita lihat      perkembangan zaman sekarang tentang LGBT kaya gimana.”          (Wawancara, 14 Februari 2017)

          Berdasarkan hal tersebut berikut hasil wawancara penulis dengan Reka Ditta Amelia (22), mahasiswa Ilmu Komunikasi Semester 10 :

Penting berita LGBT khususnya bagi para orang tua karena, informasi LGBT ini dapat memberikan wawasan kepada orang tua untuk mendidik dan menjaga anaknya agar tidak terjerumus ke dalam dunia LGBT itu. Jadi, orang tua melarang jika melihat salah satu   tingkah laku anaknya yang mengarah ke LGBT mencari tahu   bagimana pertemanan anaknya di luar.” (Wawancara, 14 Februari 2017)

       Penulis juga mendapatkan hasil wawancara yang senada dengan apa yang disampaikan oleh Reka Ditta Amelia, yaitu wawancara dengan Fazarul Mirza (23), Prodi Ilmu Politik Semseter 14 yang menyebutkan bahwa :

Kalau kita lihat sekarang berita LGBT itu penting karena masa        sekarang ini anak-anak muda mudah terpengaruh dan harus ditekankan lagi efek-efek negatif terkait masalah ini dan harus dibicarakan secara    rinci agar masyarakat jadi tahu.” (Wawancara, 7 Maret 2017)

         Melanjutkan pernyataan tersebut, berikut hasil wawancara dengan mahasiswi Fitriani (22), Prodi Antropologi Semester 10:

Menurut saya perlu berita LGBT terutama generasi muda. Kami dari        Antropologi itukan ada kajian penerapan ilmu moral terhadap anak.        Kehidupan orang tua karir sibuk kerja pergi pagi pulangnya malam          sehingga anak mereka cenderung berbuat hal itu. Apalagi pendidikan      agamanya yang kurang maka dapat memicu ketidaksadaran mereka        melakukan hubungan sesama jenis tersebut.” (Wawancara, 1 April 2017)

         Sikap yang berbeda diberikan oleh salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi hasil wawancara dengan Ade Julianaswa (21), semester 8:

“Engga penting karena, kita gak terlalu gimana dan tau tentang    kelompok-kelompok mereka dan gak penting-penting kali pun kak.       (Wawancara, 20 Februari 2017)

       Hal diatas dijelaskan bahwa sikap informan merasa tidak menerima atau menolak LGBT karena, bukanlah sesuatu hal yang berarti bagi dirinya. Maka, ia menganggap hal itu biasa-biasa saja. Sikap informan tersebut tidak dapat diubah dan diganggu gugat. Sebab sikap yang hadir berasal dari individu dan kemungkinan saja sikapnya akan terus seperti itu.

4.1.3 Faktor-Faktor Yang Membentuk Sikap Mahasiswa Terhadap      Pemberitaan LGBT di Liputan6.com

         Sikap mempunyai tiga aspek pokok yaitu kognitif, afektif, dan konatif. Ketiga komponen secara bersama merupakan penentu bagi jumlah keseluruhan sikap seseorang. Menyangkut sikap terhadap pemberitaan LGBT bukan hanya terlihat secara suka atau tidak suka, tapi sebabnya ia memberikan alasan tersebut berasal dari pengaruh secara sosial ataukah individu. Berikut wawancara dengan Dewi Yulia (21), mahasiswa Ilmu Administrasi Negara (IAN) semester 8:

 “Sanksi yang diberikan lebih ke secara individu karena, dasarnya hukuman itu datangnya dari diri kita sendiri gak boleh ikut-ikut     dengan orang. Apalagi dengan masalah LGBT ini hukuman yang  sebaiknya diberikan untuk pelaku LGBT jika telah membawa efek   negatif dan meresahkan masyarakat adalah dengan memasukkannya  ke panti rehabilitasi dan lebih ke hukuman manusia. Misalnya, kalau di Aceh dibawa ke rumah balai rehabilitasi Aceh agar menimbulkan   efek jera bagi para LGBT ini.” (Wawancara, 13 Februari 2017)

           Menanggapi hal tersebut, berikut ini hasil wawancara penulis dengan Agum Arif Gumilang (22), mahasiswa Ilmu Komunikasi Unimal Semester 10 :

“Sanksi yang agum berikan pada pelaku LGBT disebabkan karena Al-Quran. Artinya, lebih ke agama karena dalam Islam dilarang berhubungan sesama jenis. Apalagi pada masa kaum Nabi Ludh yang kena azab dari Allah. Kita itu sudah punya keyakinan karena balik lagi pada keyakinan kita masing-masing.” (Wawancara, 13       Februari 2017)

        Teori penilaian sosial khususnya mempelajari proses psikologis yang mendasari pernyataan sikap dan perubahan sikap melalui segala informasi atau pernyataan didengarnya (komunikasi). Sikap terbentuk dalam hubungannya dengan suatu obyek, orang, nilai, media dan sebagainya. Teori penilaian sosial menyebutkan bahwa suatu isu atau objek sosial yang berpatokan pada kerangka rujukan yang dimiliki oleh seseorang apakah menolak, menerima dan netral.

      Penerimaan dan penolakan dapat terlihat dari reaksi atau perlakuan jika melihat orang-orang yang berprilaku dalam kategori LGBT. Berikut sikap Firmanda (24), mahasiswa Sosiologi semester 13:

Perlakuan jika melihat LGBT secara sosial, berarti kita kucilkan dia dan memang gak suka dengan LGBT ini dan individu abang pun          memang gak suka. Walaupun karena faktor genetik tetap abang gak        suka dan sama sekali gak wajar.” (Wawancara, 13 Februari 2017)

         Lain halnya dengan Mardiana (22), mahasiswa Sosiologi semester 10, berikut ini sikap yang diambilnya ketika melihat orang yang berperilaku seperti LGBT:

Yang saya lakukan jika melihat orang-orang yang berperilaku           seperti LGBT dengan menegurnya secara baik-baik dan personal,           apabila udah kelewatan batas. (Wawancara, 13 Februari 2017)

       Dalam hal ini penulis melakukan wawancara dengan Ayu (20), selaku mahasiswi dari Prodi Ilmu Komunikasi Semester 6:

“Jika ayu melihat ada orang yang berprilaku seperti LGBT, Ayu lebih merangkul dia dan Ayu cari tau kenapa dia bisa jadi LGBT kaya gitu, faktor apa yang membuat dia jadi kaya gitu. Jadi, pengen gimana caranya mendekati dia dan tanya-tanya sama dia. Tetap bersahabatlah Ayu sama dia maka, Ayu akan mudah memberikan     masukan-masukan yang positif.” (Wawancara, 14 Februari 2017)

        Jawaban tersebut didukung oleh pernyataan Mutia Kara’ah (22), mahasiswa Ilmu Komunikasi Semester 12:

“Gimana ya LGBT itu kalau diberi nasihat belum berani belum ada kapasitas yang kaya gitu. Cuman kalau yang untuk pro rasanya engga jadi untuk saat ini masih diam aja dan masih melihat bagaimana perkembangannya kalau memang masih gak jelas dan makin besaR komunitas mereka mungkin bakalan ikut kontra terhadap mereka lah      gitu.” (Wawancara, 20 Februari 2017)

       Jawaban yang berbeda diberikan Ade Julianaswa (21), mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Semester 8:

 “Engga berani menegur mereka yang LGBT, karena gak terlalu  dekat         juga.”  (Wawancara, 20 Februari 2017)

       Hal tersebut dapat diperjelas dengan hasil wawancara penulis dengan Dewi Yulia (21), Prodi Ilmu Administrasi Negara (IAN) semester 8:

Jika melihat sesama jenis terlalu akrab secara berlebihan seperti        malam hari jalan berdua layaknya orang pacaran sampai cium pipi.       Yang saya lakukan cuma bisa ngomong dalam hati, kalau saya tegur        engga berani tapi, kalau orang yang kita kenal bisa bicara dengan   pendekatan lalu menasehatinya.” (Wawancara, 13 Februari 2017)

         Mendukung pernyataan diatas, berikut wawancara dengan Hafidzah (22), Prodi Antropologi Unimal Semester 12:

“Melihat orang yang berperilaku seperti banci dan cowok yang   lemah   gemulai terus ceweknya yang tomboy. Sikap saya biasa saja, agak jengkel dan jijik lihatnya karena pandangannya gak bagus. Tindakan kakak ya diamin saja karena, kakak gak mau ikutin urusan pribadi orang. Itu hak dia memang perilakunya gak bagus tapi mau gimana lagi kembalikan dia lagi kepada orang tuanya.” (Wawancara, 1 April 2017).

       Hal tersebut juga disampaikan dalam pernyataan Fazarul Mirza (23), mahasiswa Ilmu Politik Semseter 14 sebagai berikut:

Jika saya melihat ada orang yang berprilaku seperti LGBT, saya       cuman berdoa saja supaya dia bisa berubah.” (Wawancara, 7 Maret 2017)

     Sikap seseorang tidak dibawa sejak lahir, tetapi harus dipelajari selama perkembangan hidupnya. Sikap itu dapat dipelajari apabila ada syarat-syarat tertentu yang mempermudah berubahnya sikap pada orang itu. Karena itulah seseorang dapat menganggap LGBT adalah hal yang biasa karena ia terbiasa melihat hal tersebut di lingkungannya. Hal tersebut terjadi pada orang-orang yang tinggal di kota besar, berikut hasil wawancara dengan Indah Savitri Tampubolon (22), mahasiswa Ilmu Komunikasi Semester 10 yang berasal dari kota Medan:

“Biasa saja kalau di Medan udah sering lihat yang seperti itu dan  gak aneh lagi sih cuman gak sampai kepikiran ini Aceh kota Serambi  Mekkah kenapa bisa sampai ada LGBT dan faktronya apa. Tapi, gak tahu juga sih ya kita gak terlalu ini kan hidup orang.” (Wawancara, 16 Februari 2017)

       Dari hasil uraian diatas, maka berikut ini hasil wawancara dengan Agum Arif Gumilang (22), mahasiswa Ilmu Komunikasi Semester 10:

“LGBT biasanya tertutup tidak nampak secara terbuka. Tapi, kalau secara terang-terangan sih kasihan kadang mereka lakukan itu bukan kemauan dari mereka sendiri. Contohnya waria, yang bisa saja karna   faktor kebutuhan ekonomi. Selain dapat uang, enak juga bagi dia ya kasihan aja kalau misalkan ada pekerjaan yang lebih baik dia pasti tidak melakukan itu.” (Wawancara, 13 Februari 2017)

          LBGT merupakan suatu perilaku yang menyimpang, namun apa jadinya bagi manusia yang normal jika pelaku LGBT mengatakan bahwa ini sebuah pilihan hidup bagi pelaku-pelaku tersebut. Terkait hal ini sikap tentang perlakuan LGBT karena pilihan hidup dibantah oleh Fitriani (22), mahasiswa Antropologi Semester 10, berikut hasil wawancaranya:

Saya engga setuju dengan pernyataan itu karena setiap insan yang         lahir itu orang tua udah mengajarkan kita moral yang baik tidak ada        orang tua mengajarkan hal yang buruk. Menurut saya itu 80 % bukan      karena mereka suka secara pribadi tapi ada faktor lain yang pengaruhi    mereka.” (Wawancara, 1 April 2017)

       Selain itu penulis juga mendapatkan pernyataan yang senada dengan Mutia Kara’ah (22), mahasiswa Ilmu Komunikasi Semester 12 sebagai berikut:

“Itu memang udah perilaku yang menyimpang jad rasanya gak bisa membenarkan pernyataan dan tindakan mereka seperti itu. Karena   setahu kakak itu perilaku menyimpang dan yang kakak pelajari dan        yang tahu selama ini memang gak ada pembenaran tentang kasus     mereka itu. Kelakuan mereka gak ada positifnya jadi kakak menolak        dengan pernyataan seperti itu.” (Wawancara, 20 Februari 2017)

         Menanggapi hal tersebut, berikut ini hasil wawancara penulis dengan Fazarul Mirza (23), Prodi Ilmu Politik Unimal Semseter 14:

“Tergantung dia punya agama apa kalau dia punya agama Islam y bahasa kasarnya seperti itu payah ta sipak (payah kita sepak) karena otomatis kalau orang islam dari kecil sudah dididik oleh orang tuanya bahwasanya LGBT itu dilarang oleh agama dan kalau dia mengatakan  bahwasanya itu pilihan hidup mereka saya rasa itu tidak relevan.”(Wawancara, 7 Maret 2017)

           Melihat dari keilmuan Sosiologi, berikut ini pernyataan yang diberikan Suriati (22), Prodi Sosiologi Unimal Semester 10:

“Jika ada yang menyatakan memang sih ini pribadi mereka,          karakter dari mereka yang menjalani kehidupan yang tidak sempurna    karena dari kaum LGBT ini untuk lebih memilih menjadi LGBT            menyayangkan sekali. Dengan menikah sesama jenis bagaimana bisa        menjadi keluarga yang utuh sebab tidak bisa punya anak dan sebuah        keluarga tidak akan bahagia jika didalamnya tidak diisi dengan cinta,   kasih sayang yang utuh.” (Wawancara, 20 Februari   2017)

     Menyangkut perihal tentang perlakuan LGBT karena pilihan hidup, hasil wawancara juga didapatkan penulis dari Dewi Yulia (21), mahasiswa Ilmu Administrasi Negara (IAN) Semester 8:

“Melakukan pendekatan spiritual, karena kembali lagi dengan ajaran   agama yang benar. Bahkan namanya juga Negara yang butuh   warganya untuk mensejahterakan Negara. Kalau misalny laki-laki kawin dengan laki-laki sebab Negara ini tidak akan berkembang. Bisa jadi itu wallahuwalam.” (Wawancara, 13 Februari 2017)

       Sikap sosial adalah kesadaran individu yang menentukan perbuatan yang nyata, yang berulang-ulang terhadap obyek sosial, sedangkan sikap individual adalah sikap yang hanya dimiliki oleh perorangan saja, sikap ini dapat berupa kesukaan atau ketidaksukaan pribadi.

     Berikut ini adalah hasil wawancara penulis dengan Hafidzah (22), mahasiswa Antropologi Unimal Semester 12 dalam menanggapi budaya luar yang telah melegalkan menikah sesama jenis:

 “Kalau di Indonesia dibuat UU LGBT seperti di Negara Amerika saya engga setuju karena kita mayoritasnya agama Islam.”   (Wawancara, 1 April 2017)

      Pernyataan di atas dibenarkan oleh Mardiana (22), mahasiswa Sosiologi semester 10, berikut wawancaranya:

“Tidak setuju apabila dilegalkan nikah sesama jenis. Namun, balik           itu hak orang tetapi pribadi saya tetap kurang senang. Karena, LGBT      sebuah penyimpangan sosial dan juga udah dilarang oleh agama kita      selaku agama Islam. Dan saya kurang setuju apabila UU LGBT dibuat        kurang positif aja, sebab dampaknya ini tidak bagus.” (Wawancara, 13      Februari 2017)

     Berikut pernyataan yang disampaikan oleh Ayu (21), mahasiswa Ilmu Komunikasi semester 6, sebagai berikut:

 “Dalam etika norma hukum agama Islam LGBT itu dilarang, jadi merasa lebih ditegaskan lagi UU kalau di Indonesia. Kalau di luar negeri mungkin agama mereka tidak terlalu kuat sama Negara  kita. Ayu tidak setuju jika LGBT diakui di Negara Indonesia gak    pantas LGBT dilegalkan.” (Wawancara, 14 Februari 2017)

      Perkawinan sesama jenis yang telah terjadi pada masyarakat budaya Barat ditanggapi oleh Suriati (22), jurusan Sosiologi semester 10 yang mengatakan:

 “Tidak mungkin budaya Indonesia menerima LGBT itu sebuah pilihan yang salah. Apa jadinya nanti budaya Indoensia yang syariat Islamnya kuat tapi kita setuju atau diam saja jika Indonesia melegalkan LGBT.”    (Wawancara, 20 Februari 2017)

         Hal-hal yang membentuk sikap dan perubahan sikap yaitu faktor intern yaitu faktor yang terdapat dalam pribadi diri manusia itu sendiri. Faktor ini berupa daya pilih seseorang untuk mengolah pengaruh yang datang dari luar. Pilihan terhadap pengaruh dari luar itu biasanya disesuaikan dengan sikap, emosi, motif, minat, pengaruh pengalaman masa lampau dan sebagainya.

       Faktor ekstern yaitu faktor yang berupa interaksi sosial atau lingkungan fisik diluar kelompok, dengan hasil kebudayaannya sampai pada media, misalnya surat kabar, televisi dan lainnya. Menanggapi kasus LGBT yang banyak ditolak oleh masyarakat, maka sudah seharusnya Pemerintah yang mempunyai wewenang membuat aturan dan sanksi bagi masyarakat yang melanggar nilai dan norma. Hal ini disesuaikan dengan hasil wawancara penulis dengan Reka Ditta Amelia (22), jurusan Ilmu Komunikasi semester 9 sebagai berikut :

Kalau hukumnya seperti apa kembali kepada pemerintah aja             bagaimana menilai tentang kelompok LGBT tersebut. Mungkin ada            Qanun yang mengatur tentang komunitas LGBT. Yang setahu saya             untuk mengantisipasinya kembali lagi kepada orang tuanya bagaimana mereka mendidik anaknya yang benar.”(Wawancara, 14 Februari 2017)

Firmanda (23), Prodi Sosiologi Unimal Semester 13:

 “Cara meminimalisisr kelompok yang bergabung pada LGBT, khususnya di Aceh dengan meminta bantuan terhadap pihak yang terkait seperti pemerintah kabupaten kota. Agar pelaku LGBT merasakan efek jeranya kalau kita bertindak sendiri gak bisa juga tanpa didasar undang-undang.” (Wawancara, 13 Februari 2017)

Fazarul Mirza (23), Prodi Ilmu Politik Unimal Semseter 14:

“Semua agama itu melarang yang namanya hukum menikah sesama  jenis. Tapi, hampir di semua Negara yang menganut paham liberal melegalkan hal itu, dan kalau di Indonesia kita melegalkan hal yang demikian apa kata dunia sebab, Indonesia ini mayoritas penduduknya    agama Islam.” (Wawancara, 7 Maret 2017)

Ayu (21), Prodi Ilmu Komunikasi Semester 6:

 “Cara menguranginya mungkin dengan diasingkan atau dirubah   gitu. Jadi, jiwa dia juga dirangkul pelan-pelan tapi disitu dia juga  gak ganggu masyarakat jika sampai menganggu berarti dia harus kita rehab. Jangan nanti dia malah bawa dampak-dampak buruk bagi lingkungan sekitar dia gimana caranya buat kesibukan yang   akan membuat dia nyaman dan berharap mereka bisa merubah  menjadi orang yang lebih baik lagi.”(Wawancara, 14 Februari 2017)

        Hal tersebut dapat diperjelas dengan hasil wawancara penulis dengan Fitriani (22), mahasiswa Antropologi Unimal Semester 10 sebagai berikut:

“Cara meminimalisir kelompok yang bergabung pada LGBT, di Aceh, pertama ya tetap berpandu pada binaan ajaran agama tentang tuntutan anaknya nilai moral sedini mungkin. Diajarkan nilai moral kemudian, remajalah yang paling rentang karena kalau udah remaja ada tahap namanya puber. Di tahap itulah mereka mencari jati diri   tapi, kalau salah mereka mencari jati diri terperosok tidak benar    disitulah membutuhkan bimbingan orang tua, keluarga, orang di sekeliling, dan pendidikan yang baik.” (Wawancara, 1 April 2017

4.2 Pembahasan

4.2.1.   Mahasiswa dan Sikap Terhadap LGBT

         Pemberitaan LGBT pada mahasiswa FISIP Unimal 10 orang diantaranya banyak mengetahui dari media massa. Selain media massa, sebagian informan ternyata juga mengetahui pemberitaan LGBT dari hubungan interpersonal (antarpribadi). Adapula seseorang melihat suatu peristiwa LGBT secara langsung, baik dialami sendiri maupun kondisi lingkungannya. Penyebarluasan informasi didasari prinsip kebenaran dan rasa tanggung jawab. Oleh karena itu dalam pengiriman informasi, jurnalis atau wartawan harus menaati kode etik dan peraturan-peraturan yang berlaku.

       Pada akhir proses penyampaian pesan, seorang penerima akan memperoleh efek yang dapat terlihat dari pengetahuan yang tergambar dari berbagai penerima pesan. Hal tersebut dapat membentuk sikap seseorang terhadap objek yang dilihatnya. Sikap yang relatif stabil terus-menerus akan menentukan sifat, baik perbuatan sekarang maupun perbuatan yang akan datang. Dalam arti lain, sikap adalah pola yang menetap yang merupakan hasil dari pengalaman-pengalaman sebelumnya lalu informasi yang datang pada dirinya dievaluasi sehingga dihasilkanlah suatu sikap. Dari hasil penelitian penulis, efek yang diterima informan disebabkan faktor pengaruh sosial dan kejiwaan.

     Selain penerima pesan mendapatkan efeknya ataupun dampak, ia juga dapat memberi umpan balik atau tanggapan atas informasi yang telah ia terima. Umpan balik terhadap berita LGBT dapat terlihat dari pernyataan hal apa yang menarik dari berita LGBT di liputan6. Sebagian besar informan memberikan sikap positif yang mengatakan bahwa beritanya sudah bagus, terlihat dari segi judulnya. Akan tetapi kekuarangan pada berita LGBT di liputan6.com adalah tidak menjelaskan terkait treatmen recommendation atau solusi yang diberikan penulis berita terhadap informasi yang dihadirkan.

          Sikap adalah kesadaran manusia untuk bertindak atau bertingkah laku dengan satu cara tertentu terhadap orang lain, lembaga, obyek atau peristiwa. Sikap adalah kecenderungan untuk memberikan respon dari pengetahuan, emosi dan perilaku berupa reaksi (respons) dalam penilaian. Sikap tidak berasal sejak lahir ataupun turun dari masa lalu, tetapi terbentuk melalui pengalaman serta memberikan pengaruh langsung kepada seseorang. Karena itulah sikap selalu berubah-ubah.

           Sikap informan peneliti terhadap berita LGBT di liputan6.com, dapat terlihat dalam pernyataan mereka menanggapi berita yang dihadirkan. Hampir semua informan menganggap liputan6.com perlu selalu menghadirkan pemberitaan LGBT untuk memberikan pemahaman pada masyarakat yang belum mengetahui LGBT serta mengetahui dampak atau efek yang ditimbulkan agar tidak terjerumus pada hal tersebut. Selanjutnya pentingnya pemberitaan LGBT agar masyarakat mengetahui perkembangan LGBT dan solusi untuk menghadapi keadaan tersebut.

4.2.2.     Faktor Pembentuk Sikap Mahasiswa Unimal Terhadap Pemberitaan             LGBT di Liputan6.com

      Secara kognitif, sikap menunjukkan bahwa berita itu memberikan efek, pengaruh dan dianggap penting. Penelitian ini berhubungan dengan teori penilaian sosial, yang mendasari sikap dan perubahan sikap melalui informasi yang didapat dari komunikasi secara proses psikologis (isu sosial ditolak atau diterima). Artinya, manusia melakukan perbandingan dari pertimbangan perasaan dan pengalaman dengan pengaruh lingkungan, baik dari suatu obyek, orang, nilai, media dan sebagainya.

          Dari hasil penelitian penulis, pendapat informan terbagi menjadi tiga bagian, diantaranya adalah ada yang berpendapat kasus dan pelaku LGBT disebabkan karena faktor individu dan sosial dan sebaiknya diberikan sanksi yang diserahkan pada Pemerintah maupun lembaga terkait. Misalnya, diserahkan berdasarkan Qanun Aceh yang bersumber dari Al-Quran dan direhabilitasi.  Penerimaan dan penolakan terhadap kasus LGBT dapat terlihat dari reaksi atau perlakuan jika melihat orang-orang yang berprilaku dalam kategori LGBT.

        Pada informan penelitian ini, sebagian besar menolak akan tetapi reaksi (secara konatif) mereka lebih memilih diam dengan berbagai alasan. Salah satu alasannya adalah karena mereka ingin memberikan sanksi sosial dengan mengucilkan mereka namun ada pula yang tidak memiliki keberanian untuk menegur. Selain itu beberapa informan juga menjawab bahwa mereka berani menegur secara tegas namun ada yang menegur karena bersimpati untuk merangkul dan merubah jalan hidup mereka yang salah.

     Sikap seseorang dipelajari selama perkembangan hidupnya dengan beberapa syarat tertentu yang mempermudah berubahnya sikap pada orang itu. Karena itulah seseorang dapat menganggap LGBT adalah hal yang biasa karena ia terbiasa melihat hal tersebut di lingkungannya. Hal tersebut terjadi pada orang-orang yang tinggal di kota besar. Setidaknya tterdapat dua informan peneliti yang berasal dari Medan. Tanggapan mereka mengenai LGBT biasa karena telah terbiasa melihat hal tersebut sejak kecil.

       Lesbian adalah suka sesama perempuan, Gay merupakan istilah untuk suka sesama laki-laki, Biseksual adalah orientasi seksual dimana seseorang memiliki ketertarikan pada laki-laki maupun perempuan, sedangkan Transgender merupakan seseorang yang mengubah jenis kelaminnya. Begitu pula pada jawaban informan yang memiliki sikap menolak dan tidak setuju bila Indonesia memberlakukan UU LGBT layaknya budaya Barat. Alasannya adalah karena perkawinan sesama jenis tidak sesuai dengan ajaran agama Islam dan budaya di Indonesia.

        Hal yang membentuk dan perubahan sikap yaitu faktor intern berupa daya pilih seseorang disesuaikan dengan sikap, emosi, motif, minat, pengaruh pengalaman masa lampau dan sebagainya. Faktor ekstern yaitu faktor yang berupa interaksi sosial atau lingkungan dengan pengaruh kebudayaannya dan media. Menanggapi kasus LGBT yang banyak ditolak oleh masyarakat, maka sudah seharusnya Pemerintah yang mempunyai wewenang membuat aturan dan sanksi bagi masyarakat yang melanggar nilai dan norma. Hal tersebut disesuaikan dengan hasil wawancara penulis dengan berbagai informan dari mahasiswa FISIP Unimal baik, dari jurusan IAN, Politik, Antropologi, Ilmu Komunikasi dan Sosiologi.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

         Berdasarkan pada hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada BAB sebelumnya, maka peneliti dapat menyimpulkan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Sikap mahasiswa terhadap pemberitaan LGBT di liputan6.com Periode Februari-Juli 2016 menunjukkan sikap positif. Dimana terlihat dari pernyataan berupa masukan mahasiswa bahwa media liputan6.com perlu selalu      menggambarkan berita LGBT baik di luar negeri maupun di dalam negeri          untuk memberikan pemahaman pada masyarakat tentang masalah LGBT serta  dampak yang ditimbulkan. Sedangkan, hampir semua mahasiswa memiliki    sikap negatif terhadap LGBT setelah membaca berita LGBT di liputan6.com.
  2. Faktor pembentuk sikap mahasiswa terhadap pemberitaan LGBT di com ialah faktor individu, faktor sosial, faktor intern, serta faktor ekstern. Dimana ke empat faktor ini saling mempengaruhi dan berhubungan. Karena, sikap mahasiswa menanggapi kasus LGBT yang kebanyakan dari mereka itu menolak, ada yang bersikap biasa saja (akibat pengalaman masa lalu yang cukup kuat), dan tidak setuju bila Indonesia memberlakukan UU LGBT layaknya budaya Barat.

5.2 Saran

       Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut:

  1. Kepada media online com harus menekankan lagi menjelaskan terkait treatmen recommendation atau solusi yang diberikan penulis berita terhadap    informasi yang dihadirkan. Karena, dari hasil penelitian menunjukkan berita  yang disajikan di liputan6.com hanya menggambarkan pernikahan sesama jenis      saja tanpa memberikan efek negatif dari LGBT tersebut.
  2. Bagi mahasiswa harus lebih peka tentang masalah LGBT. Sudah seharusnya        kita yang muda lebih memahami tentang efek samping dari LGBT seperti apa.    Selektif dalam memilah-milah media berita yang ada. Terkadang media online tidak akurat dan kurang efektif dalam penyajiannya. Fakta dan         kebohongan dipersatukan demi mempengaruhi pembaca dengan maksud dan  alasan tertentu

 

 

 

 

Advertisements

BAB 4 DAN 5 STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN WARUNG KOPI MODERN DAN TRADISIONAL DI KOTA LHOKSEUMAWE

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1  Gambaran Umum Kota Lhokseumawe

     Kota Lhokseumawe  adalah sebuah  kota  di provinsi  Nanggro Aceh Darussalam yang berada persis di tengah-tengah jalur timur Sumatera, di antara Banda Aceh danMedan, sehingga kota ini merupakan jalur distribusi dan perdagangan yang sangat penting bagi Aceh.  Lhokseumawe   ditetapkan  statusnya   menjadi   pemerintah  kota berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2001 tanggal 21 Juni 2001. Secara Geografis Kota Lhokseumawe berada pada posisi 04° 54’ – 05° 18’ Lintang Utara dan 96° 20’ – 97° 21’ Bujur Timur, yang diapit oleh Selat Malaka batas – batas sebagai berikut :

–     Sebelah Utara dengan Selat Malaka.

–     Sebelah Barat dengan Kecamatan Dewantara Kabupaten Aceh Utara.

–     Sebelah Selatan dengan Kecamatan Kuta Makmur Kabupaten Aceh Utara.

–     Sebelah Timur dengan Kecamatan Syamtalira Bayu Kabupaten Aceh Utara.

       Kota Lhokseumawe memiliki luas wilayah 181,10 km², yang secara Administratif Kota Lhokseumawe terbagi kedalam 4 Kecamatan dan 68 Gampong.

Kecamatan-kecamatan di Kabupaten Lhokseumawe :

  1. Kecamatan Banda Sakti
  2. Kecamatan Muara Dua
  3. Kecamatan Blang Mangat
  4. Kecamatan Muara Satu

        Di kota Lhokseumawe , terdapat banyak warung kopi yang tersedia, hampir seluruh wilayah di kota Lhokseumawe terdapat warung kopi , baik warung kopi tradisional atau modern.

          Letak warung kopi modern sebagai tempat penelitian adalah berjumlah dua:

         Pertama ,  Warung Kopi Black Castle, terletak di Jalan Merdeka, No 38 , Simpang Empat, Banda Sakti, Kota Lhokseumawe berada pas di depan Mesjid Islamic Canter. Warung kopi terletak, di pusat kota dan sangat mudah untuk ditemui. warung kopi black castle, mempunyai desain yang sangat bagus, bahkan beberapa kali digunakan sebagai tempat foto prewedding atau foto biasa dan membuat banyak minat masyarat untuk berkunjung.

      Kedua,  Warung Kopi New Corner, terletak di Jalan Merdeka, tidak jauh dari pasar ikan,  Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. Yang mempunyai desain yang simple , cendrung penggunjung warung kopi ini adalah laki-laki, bentuk desainnya yang simple namun menarik, menjadi salah satu minat para pengunjung untuk datang ke New Corner.

Letak warung kopi tradisinol sebagai tempat penelitian berikutnya berjumlah dua yaitu :

          Pertama, warung kopi wan Kupi berada di Jalan, Medan-Banda Aceh, Menasah Mesjid, Muara Dua, Kota Lhokseumawe, 24351. Warung kopi yang sederhana, yang terletak bukan dipusat kota dan mempunyai bentuk sederhana tidak ada desain khusus seperti warung kopi modern lainnya.

       Kedua, warung kopi Rz kupi berada di Jalan Medan Banda Aceh, Kandang, Muara Dua, Kota Lhokseumawe, 24351. Sama seperti warung kopi wan kupi, tidak terdapat desain khusus,berbentuk sederhana dan tidak terletak dipusat kota Lhokseumawe.

       Penelitian pada 4 lokasi yang telah disebutkan diatas yaitu 2 warung kopi modern , Black Castle serta New Corner dan 2 warung kopi tradisional, wan kupi serta Rz kupi yang berada di kota Lhokseumawe.

4.1.2  Komunikasi Pemasaran Warung Kopi Modern Black Castle        dan      New Corner dengan Teori Strategi Marketing Mix

          Warung kopi adalah sebuah tepat yang sangat diminati oleh masyarakat Aceh, dengan kenikmatan cita rasa yang dimiliki oleh sebuah kopi membuat hampir semua warung berjenis untuk penikmat kopi atau bahkan di warung makan biasa pun terdapat banyak menu kopi yang tersedia.

           Warung kopi di kota Lhokseumawe sudah menjadi tempat yang sangat banyak atau tempat yang paling mudah ditemui sepanjang kota Lhokseumawe, dimana warung kopi sebagai tempat kumpul kaum laki-laki bahkan perempuan. Dengan  adanya berbagai warung kopi yang ada dikota lhokseumawe khusunya warung kopi Modern yang bersifat, mengikuti alur zaman yang semakin berkembang. Dimana awal mulanya kemunculan sebuah warung kopi, didasari oleh keinginan seorang pemilik warung kopi ingin menciptakan atau memasarkan warung kopi agar setiap pembeli menikmati dan terus kembali ke warung kopi tersebut.

           Peneliti ingin meneliti mengenai warung kopi tradisional dan modern  dengan teori strategi mix berikut beberapa penjelasan dan kaitan dengan penelitian di warung kopi modern:

  1. Product pada Strategi Marketing Mix

        Product adalah bagian dari segala sesuatu yang dihasilkan atau yang digunakan untuk di pasarkan , dimana di penelitian ini kopi adalah produk yang harus di pasarkan.

        Berikut pernyataan, Akmal Hanif  (29) Pemilik warung kopi New Corner :

“awalnya, saya membangun sebuah warung kopi, karena kopi adalah peluang pasar yang amat bagus dipasarkan di Lhokseumawe , dan saya membangun warung kopi modern.  karena saya masih sangat muda, saya ingin membuat warung kopi yang dimana bukan hanya sebagai tempat minum kopi hanya sebentar namun, saya ingin para penikmat kopi nyaman dengan keberadaan warung kopi New Corner ini dengan berbagai perbedaan dari warung kopi lainnya hingga usaha saya dapat tetap berkelanjutan” (wawacara, 29 November 2017) .

       Pernyataan senada juga disebutkan oleh, Agung (25) Pemilik warung kopi Black Castle:

“awalnya, saya membangun warung kopi karena saya salah satu pecinta kopi , dan juga dengan bantuan modal dari kedua orang tua dan warung kopi ini juga warung kopi lanjutan, yang dulunya bernama Kana Coffe sekarang menjadi Black Castle” (wawancara 30 November 2017)

       Awal  membangun sebuah warung kopi modern adalah percaya jika kopi adalah sebuah peluang besar bagi penikmat kopi , dimana kopi adalah salah satu minuman favorit masyarakt Aceh.

      Seperti pernyataan oleh, Agung (25) Pemilik warung kopi Black Castle:

“iya, selain yang saya sebutkan tadi , kita uda ketahui jika kopi adalah salah satu minuman favorit bagi masyarakat Aceh, dan itu salah satu alasan saya berminat meneruskan usaha yang juga sudah dibangun orang tua, namun saya rancang ulang mennjadi warung kopi yang lebih modern” (wawancara 30 November 2017)

        Pernyataan di atas juga menjelaskan jika, kopi adalah produk utama yang di pasarkan dari warung kopi, namun ada beberapa produk lainnya, sebagai strategi pemasaran agara, peminat tidak menjadi bosan atau dengan menambahkan menu-menu baru di warung kopi.

      Seperti pernyataan, Akmal Hanif  (29) Pemilik warung kopi New Corner :

“memang produk utama kami kopi, tapi kalo cuman kopi terkesan monoton atau membosankan, jadi kami menyediakan atau menyewa tempat untuk penjualan seperti , mie Aceh, sate Matang dan produk lain-nya seperti kacang , kue kering yang kami sediakan hingga banyak ragam makanan di warung kopi kami, agar pengujung tidak merasa bosan dan akan kembali lagi kesini untuk mengopi dan lainya ” (wawacara, 29 November 2017) .

      Hal senada juga di sampaikan oleh, Agung (25) Pemilik warung kopi Black Castle:

“iya, kami juga mempunyai produk sendiri selain kopi , setiap siang hingga sore ada nasi padang yang kami jual dan dengan itu para pengungjung di waktu siang tetap ke tempat kami, dengan membeli makanan ataupun ngopi sambil makan, ada juga beberapa cemilan seperti kacang dan lainnya serta kami juga menyewa tempat, untuk beberap penjualan makanan seperti dimsum, martabak duren dan lainnya” (wawancara 30 November 2017)

     Dengan banyaknya minat pecinta kopi di masyarakat Aceh, khususnya di Lhokseumawe, membuat semakin banyak berbondong untuk membangun sebuah warung kopi yang tetap hidup dan bersifat berkelanjutan tidak hanya sesaat saja. Namun sebagai penambahan sebuah warung kopi juga menyediakan produk lainnya seperti makanan ringan maupun berat hingga dapat membuat peminat tetap ke warung kopi dengan segala jenis ragam yang tersedia di warung kopi khususnya di warung kopi tradisional.

  1. Place pada Strategi Marketing Mix

       Selain, kopi sebagai produk untuk di pasarkan, tempat atau lokasi  menjadi salah satu hal yang sangat berpengaruh dalam menentukan kesuksesan sebuah bisnis ataupun usaha yang ingin di raih, tempat yang strategis juga sangat membantu dalam memasarkan sebuah kopi, khusunya diwarung kopi modern.

      Berikut pernyataan oleh, Agung (25) Pemilik warung kopi Black Castle:

iya, tempat memang sangat membantu sekali dalam membuat usaha apalagi, warung kopi , dan baiknya saya disini sudah memiliki lokasi yang  srategi, lokasi yang sudah lama mendirikan warung kopi dan black castle hanya mengubah nama dan desain bagunan saja selebihnya ini tetap kana coffe namun dibuat menjadi lebih modern atau dengan sebutan warung kopi modern, tempat ini sendiri tempat di daerah perkotaan Lhokseumawe, khususnya dekat dengan Mesjib Islamic Center” (wawancara 30 November 2017)

         Hal senada juga di sampaikan oleh, Akmal Hanif  (29) Pemilik warung kopi New Corner :

“tempat yang strategis itu sangat penting, saya membangun warung kopi ini di daerah sekitaran rumah makan dan tidak jauh dari kota, jadi dengan mudah ditemukan dan setiap orang sangat gampang melihat warung kopi ini , karena pas di kota Lhokseumawe atau dekat dengan pasar juga” (wawacara, 29 November 2017) .

       Pernyataan yang telah disampaikan, jika tepat yang strategis sangat menentukan kesuksesan sebuah warung kopi modern, dimana warung kopi ini identik di perkotaan khususnya pusat kota Lhokseumawe.

    Seperti Pernyataan di sampaikan oleh, Akmal Hanif  (29) Pemilik warung kopi New Corner :

“iya, kalo saya memilih tempat yang jauh dari perkotaan , tidak banyak yang kunjungi, warung kopinya susah di temui oleh sebab itu pusat kota adalah tempat yang strategis dalam menyukseskan bisini warung kopi ini” (wawacara, 29 November 2017) .

       Lokasi atau tempat dimana warung kopi terletak juga, harus di sesuaikan, karena warung kopi modern, juga pintar dalam memasarkan suatu warung kopi modern karena tempat juga sebuah peluang pemasaran hingga semua masyarakat dengan mudah dan tidak sulit menemukan tempatnya.

  1. Promotion pada Strategi Pemasaran Mix

     Selain produk dan place atau tempat, promotion atau promosi juga hal yang paling penting dalam sebuah strategi pemasaran, dimana dalam membangun sebuah warung kopi juga memerlukan pemasaran yang bagus dan baik agar masyarakat dapat berminat dan terus datang untunk menikmati kopi di warung kopi tersebut.

      Berikut pernyataan oleh, Agung (25) Pemilik warung kopi Black Castle:

“jelas, kami pasti punya perbedaan dari warung kopi lainnya, salah satunya kami memajangkan logo dengan gambar dan tulisan yang berbeda dari warung kopi lainnya sebagai daya tarik hingga banyak peminat yang tertarik selain dengan desain warung kopi juga dengan pajangan atau logo warung kopi yang kami iklankan atau pajang di atas warung kopi kamu, hingga yang dijalan dapat membaca dan melihat dengan jelas dengan mengharapkan kedatangannya ke warung kopi kami” (wawancara 30 November 2017)

   Hal senada juga disebutkan oleh, Akmal Hanif  (29) Pemilik warung kopi New Corner:

“iya, salah satu strategi kami juga dengan mengiklankan atau memasarkan melalui logo yang ada percis di dalam warung kopi kami, kami berusaha membuatkan dengan baik agar di pandang dengan bagus dan dapat menarik pengunjung untuk terus datang ke warung kopi kami” (wawancara 30 November 2017)

        Logo dan nama yang bagus adalah salah satu strtegi pemasaran yang diiklankan langsung tampak di luar maupun didalam warung kopi modern, dengan harapan agar dari logo dan nama , dapat mudah di ingat dan disukai agar pengunjung tersus berkunjung ke warung kopi tersebut. Selain itu warung kopi modern juga memanfaatkan media sosial seperti, blog, facebook dan Instagram sebagai tempat promosi.

      Seperti pernyataan yang disampaikan oleh,  Akmal Alkaysan  (29) Pemilik warung kopi New Corner:

“selain itu dalam mengiklankan kami juga meggunakan media sosial, seperti blog dan  facebook ini bertujuan memperkenalkan warung kopi kami kepada masyarakat khusunya masyarakat Lhokseumawe, dimana menurut saya media sosial sesuatu yang banyak digunakan, jadi saya memanfaatknya sebagai tempat promosi bagi warung kopi New Corner ini” (wawancara 30 November 2017)

      Hal senada juga di sampaikan oleh Agung (25) Pemilik warung kopi Black Castle:

“salah satu strategi lainnya juga dengan memanfaatkan media sosial, kami punya blog, facbook dan Instagram, dimana itu sangat membantu kami mempromosikan warung kopi, dan salah satunya mempermudah kami, saat itu kami membutuhkan pegawai , kami hanya memposting peryataan di Instagram, dengan itu kami tidak bersusah payah mencarinya dengan memasang iklan disurat kabar , memanfaatkan media sosial sudah sangat membantu kami” (wawancara 30 November 2017)

    Selain mengiklankan dengan logo dan memanfaatkan media sosial untuk memasarkan warung kopi, warung kopi juga mendesainkan sesuai dengan warung kopi modern.

        Seperti yang sampaikan oleh Agung (25) Pemilik warung kopi Black Castle:

“selain logo atau nama warung kopi dan pemanfaatan media sosial , kami juga mendesaikan warung kopi kami, kita ketahui jika sekarang adalah jaman dimana tempat foto sangat dicari oleh masyarakat, oleh karena itu kami mendesaikan warung kopi yang dapat nikmatin dengan kaum muda namun, tidak dapat dinikmati juga bapak-bapak usia lanjut, karena bapak-bapak salah satu peminat yang cukup menyukai kopi” (wawancara 30 November 2017)

     Hal senada juga disampaikan oleh,  Akmal Hanif  (29) Pemilik warung kopi New Corner:

“hal lainnya, adalah desain bagunan yang kami buat seunik mungkin, dasarnya desain kami layaknya warung kopi biasanya tapi cendrung lebih elegan dan modern” (wawancara 30 November 2017)

      Beberapa pernyataan dari informan, juga menjelaskan jika penjualan dan strategi pemasaran membutuhkan mengingklankan dengan beberapa arternatif, hingga dapat menarik pengunjung agar dapat selalu kembali ke warung kopi tersebut.

  1. Price pada Strategi Pemasaran Mix

       Price dalam pemasaran mix adalah harga yang diperoleh atau didapatkan untuk membangun suatu usaha. Dalam hal ini warung kopi modern juga mempunyai perincian sendiri dalam menbangun warung kopi berjenis modern.

     Berikut pernyataan yang disampaikan oleh,  Akmal Hanif  (29) Pemilik warung kopi New Corner:

“iya, membangun usaha ini dengan jenis warung kopi seperti ini , cukup banyak membutuhkan biaya dan itu dapat dikatakan di atas 50 juta” (wawancara 29 November 2017)

        Seperti yang sampaikan oleh Agung (25) Pemilik warung kopi Black Castle:

“iya, modal yang kami keluarkan sangat banyak, dari desain bagunan, iklan dan lainnya membutuhkan modal yang sangat banyak” (wawancara 30 November 2017)

    Pernyataan juga menyebutkan, modal yang diperoleh sangat banyak, dan memungkin kan menaikan harga jual di warung kopi modern.

      Seperti Seperti yang sampaikan oleh Agung (25) Pemilik warung kopi Black Castle:

“iya , kan modal sudah banyak keluar, jadi kami juga menyesuaikan harga sesuai jadi kami tetap mendapat keuntungan dari hal itu” (wawancara 30 November 2017)

       Hal senada juga di sampaikan oleh,  Akmal Hanif  (29) Pemilik warung kopi New Corner:

“iya, harga kopi kami sesuaikan dengan produk dan dengan yang kami keluarkan sebelumnya ” (wawancara 30 November 2017)

        Harga modal yang sangat banyak sebanding dengan harga jual yang dipasarkan dengan warung kopi modern, hingga dapat keuntungan yang di harapakan dari warung kopi modern dan tetap berusaha berkelanjutan hingga tidak terjadi kerugian dan tidak bersifat sementara.

4.1.3   Komunikasi Pemasaran Warung Kopi Tradisional  dengan Teori          Strategi Marketing Mix

      Warung kopi disini , berjenis warung kopi tardsional, dimana awal mulanya ada warung kopi hingga baru berkembang bermunculan warung kopi modern. Meski banyak warung kopi yang bejenis modern namun, di kota Lhokseumawe, warung kopi tradisional juga masih banyak bertahan hingga sekarang.

      Peneliti ingin meneliti mengenai warung kopi tradisional dan modern  dengan teori strategi mix berikut beberapa penjelasan dan kaitan dengan penelitian di warung kopi Tradisional:

  1. Product pada Strategi Marketing Mix Warung Kopi Tradisional

        Product adalah bagian dari segala sesuatu yang dihasilkan atau yang digunakan untuk di pasarkan , dimana di penelitian ini kopi adalah produk yang harus di pasarkan.

       Berikut pernyataan,  Bapak Irwan (51) Pemilik warung kopi Tradisional dikenal sebagai Wan coffe :

“iya, produk yang kami jual disini jelas, yaitu kopi dan lebih identik dengan kopi saring” (wawacara, 28 November 2017)

     Pernyataan senada juga disebutkan oleh, Bapak Rizky Khalid  (45) Pemilik Warung Kopi Tradisional dikenal sebagai Rz Kopi:

“iya, karena saya pecinta kopi dan juga kalo membuat warung kopi juga sesuatu yang biasa saya minum jadi sudah tahu sebelumnya jika kopi juga produk yang cukup menjanjikan” (wawancara 28 November 2017)

     Awal  membangun sebuah warung kopi Tradisional karena percaya jika kopi adalah salah satu minuman favorit masyarakt Aceh. Selain kopi , warung kopi tradisional juga beberapa menu atau produk lain sebagai penambahan daya tarik pelanggan.

      Berikut , seperti pernyataan oleh, Bapak Rizky Khalid (45) Pemilik Warung Kopi Tradisional dikenal sebagai Rz Kopi:

“selain kopi, kami juga menjual snack ringan yang dititip untuk dijual oleh warung saya, dan juga mie aceh, untuk warung seperti ini, belum terlalu banyaak menu karena ini juga warung kopi sederhana” (wawancara 28 November 2017)

     Hal senada juga di sampaikan , Bapak Irwan (51) Pemilik warung kopi Tradisional dikenal sebagai Wan coffe :

“iya,kopi tetap ha utama yang kami jual, tapi tambahan lainnya hanya mie Aceh dan martabak selain itu belum ada lagi ” (wawancara 28 November 2017)

   Pernyataan di atas menyebutkan, jika kopi tetap menjadi produk utama bagi warung kopi tradisional. Namun, hanya beberapa saja produk tambahan yang disediakan oleh warung kopi tradisional.

  1. Place pada Strategi Marketing Mix

   Lokasi adalah tempat yang, sangat berperan dalam menentukan suatu usaha. Namun, warung kopi tradisional identik lebih jauh dari lokasi yang srategis atau cendrung ada berdomisili di perdesaan atau masyarakat Aceh menyebutkan di Gampong.

     Berikut , seperti pernyataan oleh, Bapak Rizky Khalid (45) Pemilik Warung Kopi Tradisional dikenal sebagai Rz Kopi:

“lokasi yang kami punya memang bukan berada dipusat kota, namun, dan sasaran kami lebih ke warga sekitar warung kopi kami” (wawancara 28 November 2017)

     Hal senada juga di sampaikan , Bapak Irwan (51) Pemilik warung kopi Tradisional dikenal sebagai Wan coffe :

“iya, lokasi kami di gampong kami sendiri, dan yang lebih cendrung datang orang sekitaran gampong kami ” (wawancara 28 November 2017)

     Lokasi atau tempat dimana warung kopi terletak juga, harus di sesuaikan, Namun, bagi warung kopi tradisional, letak yang srategis adalah gampong atau desa tempat mereka tinggal , karena pemasaran lebih ke masyarakat gampong sendiri.

  1. Promotion pada Strategi Pemasaran Mix

     Selain produk dan place atau tempat, promotion atau promosi juga hal yang paling penting dalam sebuah strategi pemasaran, dimana dalam membangun sebuah warung kopi juga memerlukan pemasaran yang bagus dan baik agar masyarakat dapat berminat dan terus datang untunk menikmati kopi di warung kopi tersebut.

     Berikut pernyataan oleh, Bapak Irwan (51) Pemilik warung kopi Tradisional dikenal sebagai Wan coffe :

“promosi pasti ada, kami biasa hanya melalui mulut kemulut, jadi dari itu pengunjung datang ke warung kopi saya ” (wawancara 28 November 2017)

       Hal senada juga di sampaikan oleh , Bapak Rizky Khalid (45) Pemilik Warung Kopi Tradisional dikenal sebagai Rz Kopi:

“kami hanya mempromosi melalui dari mulut ke mulut, dari tetangga saudara dan dari beberapa orang dikenal lainnya” (wawancara 28 November 2017)

     Beberapa pernyataan dari informan, juga menjelaskan jika penjualan dan strategi pemasaran membutuhkan mengingklankan. Namun warung kopi tardisional masih sangat minim peiklanan hanya dari mulut ke mulut dan belum ada alternatif lainnya.

  1. Price pada Strategi Pemasaran Mix

       Price dalam pemasaran mix adalah harga yang diperoleh atau didapatkan untuk membangun suatu usaha. Dalam hal ini , warung kopi modern mempunyai harga tesendiri dalam membangun warung kopi tradisional

    Berikut pernyataan yang disampaikan oleh,  Bapak Rizky Khalid (45) Pemilik Warung Kopi Tradisional dikenal sebagai Rz Kopi:

“kami, dengan modal yang lumayan tidak terlalu banyak, dan juga dengan modal yang sedikit makanya kami baru bisa membangun warung kopi sederhana ini” (wawancara 28 November 2017)

     Hal senada di sampaikan oleh , Bapak Irwan (51) Pemilik warung kopi Tradisional dikenal sebagai Wan coffe :

 “iya, harga modal kami tidak terlalu banyak, untuk itu saja kami harus mencari pinjaman meskipun hanya membangun  warung kopi tradisiona” (wawancara 28 November 2017)

      Selain modal yang tidak banyak , warung kopi tradisional juga menyesuaikan , harga yang kami sediakan dalam menjualan di warun kopi tradisional.

      Seperti Bapak Irwan (51) Pemilik warung kopi Tradisional dikenal sebagai Wan coffe :

 “karena modal dikit, jadi juga harga jual kami juga rendah , ittu juga salah satu strategi kami agar tetap bisa bertahan sebagai warung kopi yang sederhana ini” (wawancara 28 November 2017)

       Hal senada juga disampaikan oleh, Bapak Rizky Khalid (45) Pemilik Warung Kopi Tradisional dikenal sebagai Rz Kopi:

“nilai, jual rendah kopi di warung kami juga rendah dan itu strategi daya tarik agar pengunjung tetap mau berkunjung” (wawancara 28 November 2017)

    Harga modal yang rendah dan nilai jual yang rendah juga menjadi salah satu daya tarik warung kopi tradisional dalam memeprtahankan agar tetap hidup dan berjalan hingga pengunjung selalu bersedia untuk kembali.

4.1.3  Hambatan  Komunikasi Pemasaran Warung Kopi Modern dan Tradisional

  1. Hambatan di Warung Kopi Tradisional

      Setiap usaha yang dijalankan , pasti ada hambatan atau kekurangan dari setiap usaha yang dijalankan, dan ini berlaku juga bagi pengusaha baik warung kopi modern maupun warung kopi tradisional, dimana punya kekurangan yang dapat menghambat beberapa kinerja yang dijalankan dalam membangun warung kopi.

    Sepeti pernyataan Bapak Irwan (51) Pemilik warung kopi Tradisional dikenal sebagai Wan coffe :

“hambatan pasti, banyak seperti warung kopi ini kurangnya menu lain tidak seperti warung kopi besar lainnya, jadi kadang hal itu yang membuat jarang ada pelnggan” (wawancara 28 November 2017)

     Hal serupa juga disampaikan oleh Angga (20), pengunjung warung kopi Tradisioal dikenal sebagai Wan coffe :

“Saya memang beberapa kali ke warung kop pak iwan, tapi kadang cari tempat lain juga karena kuranngya makanan, di warung kopi tersebut, paling kalo kesitu karena cuman niat ngopi” (wawancara 28 November 2017)

      Hambatan yang di alamai, warung kopi tradisional adalah kurangnya menu penambah, karena pecinta warung kopi juga membutuhkan makanan tambahan sebagai tambahan untuk tetap singgah di warung kopi tradisional. Selain itu hambatan lainnya juga adalah mengenai modal.

        Seperti pernyataan disampaikan oleh, Bapak Rizky Khalid (45) Pemilik Warung Kopi Tradisional dikenal sebagai Rz Kopi:

“iya, kan menu kami kurang banyak , alasannya kami juga kekurangan modal untuk menambah menu lainnya” (wawancara 28 November 2017)

    Hal senada juga disampaikan oleh, Bapak Irwan (51) Pemilik warung kopi Tradisional dikenal sebagai Wan coffe :

“iya, kami juga membutuhkan modal besar kita ingi n menambahkan menu lain sebagai daya tarik penjualan kopi” (wawancara 28 November 2017)

       Pernyataan menjelaskan, jika  memang modal adalah hal utama yang membuat warung kopi kurang adanya menu tambahan, karena menu tambahan membutuhkan modal yang cukup besar juga. Selain itu tidak adanya fasilitas tambahan seperti warung kopi modern.

     Seperti pernyataan disampaikan oleh, Bapak Rizky Khalid (45) Pemilik Warung Kopi Tradisional dikenal sebagai Rz Kopi:

“iya, kami tidak ada fasilitas wifi, seperti yang ada di warung kopi besar lainnya ” (wawancara 28 November 2017)

   Hal senada jga disampaikan oleh, Gunawan (22), pengunjung warung kopi tradisional bapak Rizky Khalid:

“iya, di warung kopi pak riky tidak ada fasilitas wifi” (wawancara 28 November 2017)

     Hal serupa juga disampaikan oleh Angga (20), pengunjung warung kopi Tradisioal dikenal sebagai Wan coffe :

“iya , kami kan anak muda , apalagi dijaman sekarang, internet kebutuhan bagi anak muda, jadi kami juga butuh wifi, sesekali aja pergi ke warung kopi pak wan, karena ini pun dekat rumah” (wawancara 28 November 2017)

      Hambatan yang di lalui oleh warung kopi tradisional adalah , kurangnya fasilitas seperti wifi dan menu tambahan lainnyaa dikarena modal dan biaya yang dikeluarkan untuk itu semua lumayan besar dan tidak sebandimg dengan nilai jual  rendah yang di jual oleh warung kopi tradsional.

  1. Hambatan di Warung Kopi Modern

   Hambatan juga terjadi bukan hanya di warung kopi tradisional, warung kopi modern juga tidak lepas dari hambatan-hambatan yang di lalui.

    Berikut pernyataan yang di sampaikan oleh,  Akmal Alkaysan  (29) Pemilik warung kopi New Corner:

“hambatan yang kami lalui , kadang kami sedikit telat untuk menyajikan pesanan, seperti malam minggu atau hari minggu yang cendrung lebih rame jadi membuat kami kelabahan walaupun karyawan sudah banyak” (wawancara 29 November 2017)

    Hal serupa juga disampaikan oleh , Diwa (23) pengunjung warung kopi New Corner:

“ada sesekali ke warung kopi , New Corner tapi kadang terlalu rame membuat kami risih dan terlabat pesanan” (wawancara 29 November 2017)

      Hal senada juga  disampaikan oleh Agung (25) Pemilik warung kopi Black Castle:

“beberapa kali pelanggang mengeluh karena keterlambatan, paadahal karyawan kami sudah cukup banyak” (wawancara 30 November 2017)

   Keterlambatan pesanan , pada warung kopi modern juga dirasakan sebagai hambatan , meskipun sudah banyak karyawan tapi hal tersebut masih tetap terulang dan membuat sebagian pelanggan mengeluh.

    Berikut pendapat di sampaikan oleh , Yuda (23) Pengunjung warung Kopi Black Castle :

“iya, kalo di warung kopi yang modern juga kurang rasa sosialnya, kalo warung kopi tradisional kekeluagaannya masih erat” (wawancara 30 November 2017)

     Hal serupa juga disampaikan oleh , Diwa (23) pengunjung warung kopi New Corner:

“iya kalo di warung kopi ini cendrung hanya sesama kawan aja bicara sama yang lainnya seperti orang asing, tapi klo warung kopi yang di dekat kampung atau tradisional masih sangat kuat silahturahminya” (wawancara 29 November 2017)

     Selain, kurangnya sosialisasi antar pengunjung, warung kopi tradisional juga identtik dengan menu dan hargaya yang cukup lumayan dan hal tersebut juga.

    Berikut pernyataan yang di sampaikan oleh,  Akmal Alkaysan  (29) Pemilik warung kopi New Corner:

“meski mahal, kami tetap pertahankan karena sesuai fasilitas dan bagunan serta letak yang kami punya karena kalo disamakan dengan warung kopi biasa kami bisa bangkrut” (wawancara 29 November 2017)

      Hal senada juga  disampaikan oleh Agung (25) Pemilik warung kopi Black Castle:

“iya , dibilang mahal, padahal semua sesuai dan kami juga dengan itu tetap meningkatkan kualitas supaya sebanding” (wawancara 30 November 2017)

   Hal senada juga di sampaikan oleh , Yuda (23) Pengunjung warung Kopi Black Castle :

“iya, disini emang lebih mahal, jadi kalo kami lagi kurang uang yah beralih ke warung kopi biasa yang harga jual lebih murah ” (wawancara 30 November 2017)

    Setiap pejualan dan pemasaran setiap masing-masing usaha atau warung kopi semua disesuaikan, agar usaha tersebut tetap berjalan lancar dan segala bentuk usaha juga paasti memiliki kendala, serta bagaimana kedepannya untuk membuat strategi yang bagus hingga tetap berjalan usahanya.

4.2 Pembahasan

4.2.1    Strategi Pemasaran dengan Teori Mix pada Warung Kopi Tradisional             dan Modern  

   Komunikasi pemasaran adalah komunikasi yang dilakukan dengan tujuan memasarkan sesuatu baik barang maupun sebuah jasa. Dalam hal ini, penelitian menggunakan kopi sebagai produk yang harus dipasarkan dengan dua jenis warung kopi yang berbeda yaitu warung kopi tradsional dan modern.

  1. Warung Kopi Modern

        Istilah warung kopi modern adalah warung kopi yang identik dengan kemajuan zaman, dimana di era globalisasi, warung kopi perlahan menuju ke warung kopi yang beradapatasi layaknya perkembangan zaman sekarang. Dalam penelitian ini, peneliti ingin menganalisa strategi pemasaran yang dilakukan oleh warung kopi, disini khususnya warung kopi modern yaitu warung kopi Black Castle dan New Corner. Pada penelitian ini, peneliti mengaitkan strategi komunikasi pemasaran dengan teori strategi mix: yaitu dengan 4 macam, Product,  Place, Promotion, dan Price yang dilakukan oleh warung kopi Black Castle dan New Corner.

      Pertama, Produkt yang dimaksudkan adalah kopi, kedua warung kopi Black Castle dan New Corner menggunakan kopi sabagai produk utama di warung kopi tersebut, strategi lainnya, kedua warung kopi menambahkan menu lain, agar menambah daya tarik pengunjung untuk kembali ke warung kopi, seperti warung kopi Black Castle , menambah menu makanan masakan padang dari siang hingga sore hari, serta menu lainnya yaitu, martabak telur, duren, kanji rumbi, empek-empek, dimsum serta makanan ringan lainya. Warung kopi New Corner juga , menambah menu yang sama untuk menarik, pelanggang untuk bukan hanya sekedar untuk mengopi saja, tapi juga ikut menikmati menu lainnya, seperti Mie Aceh, Sate Matang dan menu lainnya hingga membuat pelanggan menjadi tetap kembali ke warung kopi tersebut hingga tidak terjadi rasa bosan.

    Kedua, Place yaitu tempat yang dijalankan untuk membangun usaha mereka, warung kopi Black Castle dan New Corner, sama-sama membangun usaha di tempat yang strategis seperti dipusat kota, jika warung kopi Black Castle di sekitaran Islami Center dan pajak Inpres di Kota Lhokseumawe, dan salah satu yang membantu warung kopi tersebut adalah warung kopi penerus yang pernah di buat sebelumnya jadi, nama Black Castle dengan mudah ditemui dan dikenal. Warung kopi New Corner juga memilih tempat yang srategis yaitu, bertepatan dengan di pajak dan pusat kota Lhokseumawe, sehingga mudah untuk ditemui.

      Ketiga, Promotion yaitu pemasaran iklan yang dilakukan oleh pihak warung kopi modern, seperti pada warung kopi Black Castle, menggunakan logo serta nama yang uniknya di pasang tepat di atas bagunan, jadi setiap masyarakat kota Lhokseumawe pergi ke pusat kota dengan mudah nampaknya logo serta nama yang tertulis Black Castle. Hal serupa juga di buat oleh warung kopi New Corner, dimana membuat nama serta logo yang besar tepat di atas dan didalam warung kopi tersebut. Selain nama dan logo, kedua warung kopi modern juga menggunakan media sosial sebagai pemasaran atau iklan. Warung kopi Black castle menggunakan, facebook, blog, dan Instagram sebagai tempat perkenalan di media sosial. Warung kopi New Corner juga melakukan hal yang sama, menggunakan facebook dan blog sebagai tempat promotionnya.

      Keempat, Price atau harga yang dikeluarkan dan didapatkan dalam menjalankan strategi yang dibuat oleh waarung kopi. Warung kopi modern, memerlukan biaya mebangun warung kopi tersebut cukup besar oleh karna itu, warung kopi Black Castle dan New Corner, lebih menaikan harga jual yang sesuai dengan yang dikeluarkan selama ini, yaitu harga kopi dan menu lainnya cendrung lebih mahal dibandingkan di warung kopi tradisional.

  1. Warung Kopi Tradisional

          Warung kopi tardisional, adalah warung kopi yang identik sederhana, dan kurang mengikuti perkembangan jaman sekarang. Namun, hal meskipun begitu warung kopi tradsional masih mempunyai pelanggannya yang membuat sebuah warung kopi tradisional masih tetap hidup hingga saat ini. Tetapi setiap perkembangan zaman, pasti tetap ada strategi pemasaran dalam sebuah warung kopi tradisional.

            Pertama, Produkt produk utama yang dipasarkan tetap sama seperti warung kopi modern lainnya, yang membedakan ada beberapa hal dari warung kopi modern tidak tersedia selain kopi, yaitu warung kopi tradisional hanya menambah menu tambahan seperti, mie Aceh dan martabak telor. Diluar dari menu lain, tidak terdapat menu-menu tambahan sebagai produk pemasaran di warung kopi, dengan itu pengungjung tidak dapat menikmati yang disediakan warung kopi modern.

            Kedua, Place yaitu lokasi sebagai tempat pemasaran sebuah warung kopi atau letak warung kopi tradisional, warung kopi tradisional cendrung terletak di desa atau suatu Gampong, sangat jarang terletak di pusat kota, karena warung kopi masih sangat sederhana yang luasnya juga tidak seluas warung kopi modern lainnya.

        Ketiga, Promotion adalah suatu promosi atau iklan yang dilakukan dalam strategi pemasaran, warung kopi tradisional juga melakukannya dan hanya dengan satu cara yaitu dari mulut ke mulut, tidak ada nama, logo ataupun pemanfaatan media sosial seperti warung kopi modern lainnya, seperti namanya, warung kopi tradisional hanya sederhana dan tidak banyak hal-hal lain yang dilakukan untuk memasarkan warung kopinya.

            Keempat, Price dimana harga juga salah satu, cara warung kopi tradisional memasarkan produk kopi yang dijual, warung kopi tradisional cendrung memasarkan dengan harga yang rendag dari warung kopi modern hingga salah satu alasan pengunjung tetap datang berkunjung ke warung kopi tradisional, dengan rasa dan minuman yang sama lebih rendah harga di warung kopi tradisional.

4.2.2 Hambatan pada Warung Kopi Tradisional dan Modern

           Hambatan selalu ada disetiap usaha yang dilakukan, dan ini juga berlaku pada warung kopi tradisional dan juga modern. Meski warung kopi modern tampaknya sudah sangat berkembang dan banyak peminat untuk berkunjung di warung kopi modern. Namun, warung kopi modern tetap merasakan hambatan-hambatan yaitu keluhan pengunjung terhadap keterlambatan pesanan, meskipun pegawai warung kopi modern telah banyak tetapi masih juga menerima keluhan dari pelanggan, berikutnya harga kopi atau menu di warung kopi modern cendrung lebih mahal dari warung kopi tradisional, ini kadang menyulitkan tetapi warung kopi modern tetap bertahan dengan harga sama, dikarenakan semau sebanding dengan modal yang telah dikeluarkan. Selanjutnya warung kopi modern sangat bising, karena keramaian , dan kurangnya interaksi sosial yang ada seperti di warung kopi tradisional.

        Namun , bukan hanya warung kopi modern saja yang mengalami hambatan dalam menjalankan usahanya, warung kopi tradisional juga mengalami hal serupa,yaitu warung kopi tradisional kurangnya fasilitas seperti wifi yang tersedia di warung kopi modern lainnya, dan juga warung kopi tradisional hanya beberapa menu tambahan sepeti mie Aceh dan martabak telur selebih dari itu penggujung tidak dapat menikmati menu makanan yang nikmat lainnya seperti pada warung kopi modern lainnya.

BAB V

PENUTUP

5.1 KESIMPULAN

      Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :

          Penelitian mengenai strategi pemasaran yang dilakukan oleh warung kopi tradisional dan modern sudah melakukan pemasaran sesuai dengan jenis warung kopi tersebut. Dimana warung kopi tardisional lebih, kuat dalam memasarkan warung kopinya dengan berbagai cara mulai dari nama, logo, letak yang strategi, namun, juga tetap mengalami hambatn-hambatan dalam mejalankan usahanya.  Begitu juga dengan warung kopi tradisional, sangat kurang dalam memasarkan ,letak yang kurang srategi, memasarkan hanya dengan mulu-ke mulut namun  tetap mempunyai tempat tersendiri bagi pengunjungnya dengan kesederhanaan yang ada pada warung kopi tradisional. Dan juga memiliki hambatan-hambatan sama sepeti warung kopi modern. Inti dari penelitian ini, warung kopi tradisional dan modern memiliki kelebihan dan kekurangannya msaing-masing hingga tetap memiliki pengunjung tetapnya di setiap warung kopi.

5.2 Saran

      Dari penjelasan yang telah diuraikan pada bab di atas maka penulis memberikan saran sebagai berikut:

  1. untuk warung kopi modern, harus tetap terus mengembangkan strategi hingga pengujung tetap nyaman dan tidak mengalami keluhan dari pengunjung.
  2. Untuk warung kopi tradisional, tetap menyesuaikan dan mengembangkan pemasaran pada warung kopi agar tidak tertinggal dengan warung kopi modern.

BAB 1 dan 3 Sikap Mahasiswa Terhadap Pemberitaan LGBT di Liputan6.com (Studi Pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

        Media massa menjadi elemen yang sangat mempengaruhi dan dibutuhkan manusia saat ini. Media berfungsi sebagai penyebar informasi, pengetahuan maupun hiburan yang mampu menggerakkan perubahan melalui proses perombakan sistem maupun nilai dalam masyarakat. Pesan atau informasi yang disampaikan oleh media bisa jadi mendukung masyarakat menjadi lebih baik, membuat masyarakat merasa senang akan diri mereka, merasa cukup atau sebaliknya mengempiskan kepercayaan dirinya atau merasa rendah dari yang lain.

 

     Pengaruh media massa berbeda-beda terhadap setiap individu. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan pola pikir, perbedaan sifat yang berdampak pada pengambilan sikap, hubungan sosial sehari-hari. Pergeseran pola tingkah laku yang diakibatkan oleh media massa dapat terjadi di lingkungan keluarga, sekolah dan dalam kehidupan bermasyarakat. Meskipun dampak yang diberikan media massa tidak secara langsung terjadi, namun cukup signifikan dalam mempengaruhi seseorang, baik dari segi kognisi, afektif, maupun konatif.

          Pada awal tahun 2016 media massa di Indonesia marak memberitakan tentang Lesbian Gay Biseksual Transgender (LGBT). Hal ini dilatarbelakangi dengan ditemukannya sebuah akun berbau LGBT di sosial media twitter dan facebook. Yang lebih mengejutkan, postingan gambar tidak senonoh yang dipublikasikan di akun ini dilakukan oleh anak-anak di bawah umur.

       LGBT tidak mengenal batasan usia, jenis kelamin, status sosial, pekerjaan bahkan agama. Serangkaian diskriminasi, penolakan bahkan penyerangan oleh oknum tertentu terkait gerakan LGBT semakin memperbesar tekanan yang dihadapi oleh pelaku atau komunitas LGBT itu sendiri. Keadaan ini mengakibatkan ketidaknyamanan dalam bermasyarakat. Diskriminasi yang tidak jarang disertai tindakan kekerasan membuat mereka tidak mempunyai rasa aman dalam hidup bermasyarakat.

         Para LGBT lebih eksis di media sosial karena di dunia nyata mereka merasa dikekang, tidak leluasa berpacaran, tidak dapat berkomitmen secara formal, dan posesif terhadap pasangan. Hal ini yang membuat LGBT terus mewabah di kalangan anak muda. Keberadaan LGBT sudah lama. Pada akhir tahun 1960-an, gerakan LGBT mulai berkembang dengan kegiatan pengorganisasian yang dilakukan oleh wanita transgender atau yang sering dikenal dengan waria. LGBT di Indonesia belum diterima sebagaimana orang-orang berorientasi seksual normal (heteroseksual).

       Masyarakat masih menganggapnya sebagai sesuatu yang patut dijauhi dan kerap dikucilkan. Hal ini dikarenakan media massa menggambarkan kaum LGBT sebagai kaum yang menyimpang. Persepsi yang mengarah pada sikap stereotipe negatif, demikian terjadi karena ada peran media massa dalam pemberitaan kaum LGBT tersebut.

         Melalui proses framing oleh media, ketidakadilan sosial terus berjalan. Tekanan-tekanan dari kepentingan seperti agama tidak bisa terelakan dari bagaimana media massa mengonstruksi realita tentang LGBT. Berdasarkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa masyarakat kian menyudutkan kaum LGBT yang berimbas pada perlakuan diskriminasi masyarakat terhadap mereka. Hasil penelitian dari Arus Pelangi 2013 yang dikemukakan oleh Renate, menyatakan 33,7% kaum LGBT di Indonesia pernah ingin bunuh diri dan 20,1% berusaha bunuh diri. Hal ini terjadi karena adanya diskriminasi sebanyak 89,3% di Indonesia (majalah sikap, http://www.suarasikap.com/2016/03/posisimedia.html, diakses pada 29 Agustus 2016).

     Kata-kata berantas, menjijikkan, menyimpang, penyakit, ancaman sosial, membahayakan dan sebagainya. Hal ini merupakan bagaimana media online menampilkan atau menggambarkan isi pemberitaan terhadap masalah LGBT. Dengan isi pemberitaan yang seperti itu dapat hadirnya berbagai sudut pandang, pengetahuan yang dapat merubah sikap seseorang. Baik itu perubahan sikap yang negatif maupun positif. Pemberitaan di media online terkadang langsung menyimpulkan siapa pihak yang bersalah atau tidak bersalah sebelum mencari tahu kembali fakta yang sebenarnya. Dan seakan media telah menjadi hakim dalam membangun opini-opini publik.

         Dalam laporan pemetaan awal pemberitaan LGBT, bahwa hasil pemetaan kurun waktu tanggal 15 Juli-20 Agustus, dari 10 media cetak dan 10 media online muncul 113 pemberitaan. Media online paling banyak menurunkan berita tentang LGBT mencapai 107 kali (86,99%). Sedangkan media cetak hanya menurunkan 16 berita (13,01%). Beberapa media cetak berbasis majalah dan tabloid berdalam kurun 35 hari itu sama sekali tidak menurunkan berita tentang LGBT, alias perhatian pada kelompok ini rendah. Sedangkan pada media online jika dibuat rata-rata, setidaknya setiap hari, ada tiga media online menurunkan masing-masing satu berita tentang kelompok LGBT.

      Laporan ini menjelaskan bahwa media online arus utama lainnya seperti http://www.detik.com menurunkan 15 berita, http://www.viva.co.id menurunkan 14 berita, http://www.merdeka.com menurunkan 13 berita, dan http://www.suara.com menurunkan 10 berita. Jumlah ini menunjukkan perhatian media online cukup besar pada isu LGBT. Sedangkan media yang banyak menurunkan berita LGBT tampak dari kategori Liputan6.com menjadi media yang paling sering menurunkan berita LGBT dibanding media yang lain, dengan jumlah berita 16 tulisan. Atau jika dibuat rata-rata setidaknya dalam dua hari, liputan6.com menurunkan satu tulisan tentang LGBT (http://laporan_pemetaan_awal_pemberitaan_LGBTI, diakses pada tanggal 15 November 2016).

        Berkaitan dengan hasil laporan diatas penulis tertarik untuk meneliti sikap mahasiswa terhadap pemberitaan Lesbian Gay Biseksual Transgender (LGBT) di liputan6.com. Bahwa dari hasil tersebut liputan6.com lebih sering menyajikan pemberitaan tentang LGBT, pemberitaan mengenai LGBT pastilah sangat sangat sensitif untuk dibahas.

        Dalam penelitian ini penulis berfokus pada mahasiswa FISIP (Fakulitas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) untuk menjadi objek penelitian ini. Karena, penelitian ini berkaitan dengan permasalahan-permasalahan sosial. Khususnya mengenai permasalahan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Trasngender). Penulis berasumsi bahwa setiap orang ketika dihadapi suatu informasi yang menyenangkan atau malah sebaliknya terdapat faktor-faktor yang dialami oleh dalam diri individu tersebut. Karena pada dasarnya bahwa perubahan sikap seseorang dipengaruhi oleh beberapa aspek sikap. Yang nantinya akan menjadi permasalahan dalam penelitian penulis.

        Berdasarkan data empiris dan permasalahan di atas, penulis melihat bahwa pemberitaan media membawa pengaruh besar bagi pembacanya, terutama mengenai pemberitaan tentang LGBT di liputan6.com. Sebab itu, berdasarkan latar belakang masalah tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan mengangkat judul penelitian sebagai berikut:

         “Sikap Mahasiswa Terhadap Pemberitaan LGBT di Liputan6.cm (Studi Pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh)”. Alasan peneliti mengambil judul ini dikarenakan, berdasarkan observasi awal penulis dari 3 orang mahasiswa yang penulis wawancarai bahwa semuanya menunjukkan penolakan mereka terhadap LGBT setelah membaca berita di media online liputan6.com. Berkaitan dengan hal tersebut, penulis ingin melihat lebih dalam lagi faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhi sikap mahasiswa terhadap pemberitaan LGBT. Baik secara kognitif, afektif maupun konatif.

1.2 Rumusan Masalah

            Latar belakang masalah di atas, maka secara singkat permasalahan tersebut dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:

  1. Bagaimana sikap mahasiswa Unimal terhadap pemberitaan LGBT di com?
  2. Faktor apakah yang membentuk sikap mahasiswa Unimal terhadap pemberitaan LGBT di Liputan6.com?

1.3 Fokus Penelitian

          Rumusan masalah yang dipetakan akan dikongkritkan dengan fokus penelitian yang disajikan oleh penulis untuk memperjelas arah penelitian ini adalah:

  1. Sikap mahasiswa Unimal terhadap pemberitaan LGBT di liputan6.com Periode Februari-Juli 2016.
  2. Faktor-faktor yang membentuk sikap mahasiswa Unimal terhadap pemberitaan LGBT di liputan6.com.

1.4 Tujuan Penelitian

       Mengacu pada rumusan masalah dan fokus penelitian diatas, maka tujuan penelitian ini adalah:

  1. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan sikap mahasiswa Unimal terhadap pemberitaan LGBT di liputan6.com Periode Februari-Juli 2016.
  2. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan faktor-faktor yang menbentuk sikap mahasiswa Unimal terhadap pemberitaan LGBT di liputan6.com.

1.5 Manfaat Penelitian

         Adapun berdasarkan tujuan penelitian manfaat yang akan diperoleh dari suatu penelitian sebagai berikut:

1.5.1. Manfaat Teoritis

  1. Menjadi sebuah referensi atau informasi bagi para pembaca yang mencermati hasil penelitian ini dan penelitian yang sama khususnya tentang perubahan sikap mahasiswa terhadap pemberitaan LGBT di liputan6.com.
  2. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai penguatan referensi bagi pembaca yang penulis ambil seperti pendapat para ahli dari buku dan serta berhubungan dengan masalah yang penulis lakukan.

1.5.2. Manfaat Praktis

  1. Bagi penulis berguna untuk menambah ilmu pengetahuan serta pengalaman khususnya dalam membangun pola pikir yang bijak disetiap pemberitaan yang ada di media online, terutama tentang pemberitaan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender).
  2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi positif terhadap pihak terkait yaitu pada mahasiswa ilmu komunikasi fakultas ilmu sosial dan ilmu politik.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Hasil Penelitian Terdahulu

         Laili Usria, (2016) yang berjudul “Sikap Mahasiswa Terhadap Pemberitaan LGBT Di Media Online Edisi Januari-Februari 2016 (Studi Deskriptif Kuantitatif pada Mahasiswa Sosiologi Angkatan 2014 Fakultas Ilmu Sosial Dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta)”.

         Penelitian yang telah dilakukan bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya kecenderungan sikap negatif mahasiswa program studi sosiologi angkatan 2014 Fakultas Ilmu Sosial dan Humanior UIN Sunan Kalijaga terhadap pemberitaan LGBT di media online. Dari hasil penelitian, bahwa terdapat kecenderungan sikap negatif dengan nilai sebesar 2,40 yang mana nilai tersebut pada skala sikap masuk pada kategori cukup negatif. Hal ini membuktikan bahwa hipotesis dari penelitian ini diterima.

        Pada penelitian ini terjadi keterkaitan antara tiga komponen sikap, yaitu komponen kognitif, komponen afektif, dan komponen konatif, dimana ketiga komponen menunjukkan pada skala sikap cukup negatiif. Penelitian ini juga membuktikan bahwa terdapat keterkaitan yang sangat erat antara tiga komponen, yang mana satu dengan yang lain saling mempengaruhi.

          Hasil penenlitian yang dilakukan oleh Laili Usria dan penenliti sama-sama melakukan penelitian tentang sikap mahasiswa terhadap pemberitaan LGBT di media online, hanya saja peneliti lebih memfokuskan ke media online berita di liputan6.com, memiliki kesamaan objek penelitian yaitu mahasiswa hanya saja studi kasusnya di wilayah lain. Sedangkan perbedaan Laili Usria dan peneliti. Laili Usria menggunakan metode penelitian kuantitatif dan Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif. Sama-sama menggunakan teori penilaian sosial. Penelitian Laili dalam perumusan masalahnya lebih menitikberatkan ke cenderungan sikap negatif, sedangkan peneliti lebih ke dua sikap yang muncul yakni, sikap yang positif dan negatif saat mahasiswa membaca berita di liputan6.com.

          Nurul Hidayati, (2015) yang berjudul “Hubungan antara Intensitas Menonton Acara Mistik di Televisi dengan Sikap Syirik Remaja (Studi Kasus di Man 2 Wates Kulon Progo Yogyakarta). Hasil penelitian Nurul lebih menitikberatkan kepada tayangan mistik seperti “Masih Dunia Lain” yang mana dapat dipercaya mengikis keimanan seseorang dan mendekatkan seseorang kepada syirik yaitu berupa syirik kecil juga syirik besar yang dapat dilihat dari tiga dimensi sikap yaitu kognitif, afektif dan konatif.

      Penelitian Nurul menggunakan metode survey, teknik pengumpulan data menggunakan angket atau kuesioner. Teknik sampling menggunakan accidental sampling. Sedangkan penulis menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi.

           Dengan analisis data yang dilakukan diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,491. Nilai r tabel diperoleh dari N=35 sebesar 0.334. jadi nilai korelasi lebih besar dari nilai r tabel (0,491 > 0,334), maka dikatakan signifikan. Hubungan antara keduanya masuk dalam kategori sedang. Nilai korelasi syirik kecil dalam dimensi kognitif=0,380, afektif=0,521, konatif=0,335. Dari ke enam dimensi dalam semua dimensi dikatakan signifikan karena nilai korelasi lebih besar dari nilai r tabel. Ini berarti ada hubungan antara intensitas menonton acara “(Mistik) Dunia Lain” dengan sikap syririk dalam semua dimensi.

        Persamaan penelitian yang dilakukan oleh Nurul Hidayati dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah sama-sama meneliti tentang sikap. Hanya saja Nurul objeknya remaja sedangkan peneliti objeknya ialah mahahiswa. Sedangkan perbedaan penelitian yang dilakukan Nurul lebih memfokuskan pada tayangan acara horor yaitu, Masih Dunia Lain. Sedangkan penelitian yang peneliti lakukan lebih memfokuskan kepada pemberitaan LGBT di liputan6.com. Metode penelitian yang digunakan oleh Nurul adalah kuantitatif deskriptif. Sedangkan peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatif.

           Penelitian Nurul dan peneliti memiliki tujuan yang berbeda. Yang mana dalam penelitian Nurul bertujuan untuk mengetahui adanya intensitas menonton dan ada hubungan atau tidak antara intensitas menonton acara mistik Masih Dunia Lain dengan sikap syirik remaja siswa-siswi di MAN Wates Kulon Progo Yogyakarta. Sedangkan peneliti untuk mengetahui bagaimana sikap mahasiswa terhadap pemberitaan LGBT di liputan6.com.     

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Social Judgment Theory (Teori Penilaian Sosial)

         Sheriff dan Hovland (dalam Sarlito, 2001: 182) mengemukakan bahwa dalam pembentukan situasi mencakup faktor-faktor intern (sikap, emosi, motif, pengaruh pengalaman masa lampau dan sebagainya), maupun eksternal (obyek, orang-orang dan lingkungan fisik). Interaksi dari faktor-faktor intern dan ekstern inilah yang menjadi kerangka acuan (frame of reference) dari setiap perilaku.

      Perilaku di sini bukannya disebabkan atau dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal tersebut, melainkan perilaku itu mengikuti pola-pola tertentu yang diciptakan oleh faktor-faktor tersebut. Interaksi antara faktor-faktor internal dan eksternal sejalan dengan teori kognitif dan teori lapangan. Jika kondisi stimulus meragukan atau tidak jelas padahal motivasi cukup kuat, maka faktor-faktor internal akan lebih berpengaruh. Sebaliknya, jika faktor motif kurang kuat, padahal stimulusnya jelas, maka faktor luar akan lebih berpengaruh.

         Teori penilaian sosial khususnya mempelajari proses psikologis yang mendasari pernyataan sikap dan perubahan sikap melalui komunikasi. Anggapan dasarnya adalah bahwa dalam menilai, manusia membuat diskriminasi dan kategori manusia melakukan perbandingan-perbandingan antara berbagai cara dan salah satunya adalah standar yang disusun oleh individu untuk menilai stimulus-stimulus yang datang dari luar. Pembentukan ini dipengaruhi oleh pengalaman individu yang bersangkutan dengan stimulus-stimulus di dunia sekitarnya, tingkat keterlibatan ego dan sebagainya (Sarlito, 2001: 182).

           Menurut (Morissan, 2010: 19) teori penilaian sosial atau Social Judgment Theory memberikan perhatian pada bagaimana orang memberikan penilaian mengenai segala informasi atau pernyataan didengarnya. Teori penilaian sosial disusun berdasarkan penelitian Muzafer Sherif yang berupaya memperkirakan bagaimana orang menilai pesan dan bagaimana penilaian yang dibuat tersebut dapat memengaruhi sistem kepercayaan yang sudah dimiliki sebelumnya.

         Teori penilaian sosial menyebutkan bahwa teori penilaian sosial merupakan suatu proses pertimbangan suatu isu atau objek sosial yang berpatokan pada kerangka rujukan yang dimiliki oleh seseorang. Melalui kerangka rujukan tersebut menjadi patokan dalam menentukan bagaimana seseorang memposisikan suatu pesan yang diterima.

      Menurut Muzafer Sherif, ada 3 macam kerangka rujukan yang digunakan seseorang dalam merepson suatu stimulus yang dihadapi yakni (dalam Usria, 2016: 16):

  1. Latitude of acceptance (Zona Penerimaan)

      Pada zona penerimaan terdiri dari pendapat yang masih diterima dan ditoleransi. Kadar persespi yang menerima pesan menegaskan bagaimana penerima mampu menerima pesan yang disampaikan. Dalam hal ini, persuader, mampu merubah sikap seseorang yang dibujuk.

  1. Latitude of Rejection (Zona Penolakan)

           Pada zona ini, mencakup gagasan yangr ditolak karena rasional bertentangan dengan persepsi. Dalam hal ini persuader, tidak dapat merubah sikap seseorang.

  1. Latitude of Commitment (Zona Ketidakterlibatkan)

       Pada zona ini, suatu pesan tidak diterima dan tidak ditolak. Dalam hal ini, penerima pesan memposisikan diri seseorang yang netral, yakni tidak menolak maupun menerima. Sehingga penerima berada pada kondisi tidak adanya tanggapan atau keputusan dari suatu bujukan.

        Secara ringkas teori ini menyatakan bahwa perubahan sikap seseorang terhadap isu sosial merupakan hasil dari pertimbangan yang terjadi dalam diri seseorang tersebut. Proses mempertimbangkan suatu isu sosial atau fenomena sosial berpatokan pada kerangka rujukan yang dimiliki oleh orang tersebut. Dengan rangka rujukan tersebut seseorang akan mempertimbangkan pesan yang diterima dan membandingkannya dengan sudut pandang yang rasional.

      Dalam penelitian ini menggunakan teori penilaian sosial (Social Judgement Theory) dianggap paling relevan dengan penelitian yang akan peneliti lakukan. Dimana teori penilaian sosial (Social Judgement Theory) merupakan bagaimana seseorang memberikan penilaian mengenai segala informasi atau pernyataan yang didengarnya. Pemilihan teori penilaian sosial (Social Judgement Theory), lebih bersifat untuk melihat ketika mahasiswa menilai suatu pemberitaan LGBT di liputan6.com. Sebab, teori ini lebih menekankan pada interaksi antara garis-garis lintang atau kerangka rujukan tersebut yang akan menentukan sikap individu terhadap pernyataan-pernyataan tertentu dalam situasi tertentu. Kalau pernyataan itu jatuh pada garis lintang penerimaan, maka individu akan setuju dengan pernyataan itu. jika pernyataan itu jatuh ke garis lintang penolakan, individu tersebut akan tidak menyetujuinya.

2.3 Sikap

2.3.1. Definisi Sikap

    Dalam (kamus lengkap psikologi, 1981: 43) bahwa attitude adalah satu kecenderungan yang relatif stabil dan berlangsung terus-menerus untuk bertingkah laku atau untuk mereaksi dengan satu cara tertentu terhadap pribadi lain, obyek, lembaga, atau satu persoalan tertentu. Dilihat dari satu titik pandangan yang sedikit berbeda, sikap merupakan kecenderungan untuk mereaksi terhadap orang, institusi atau kejadian, baik secara negatif maupun positif.

        Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa sikap adalah kesadaran individu yang menentukan perbuatan nyata dan perbuatan-perbuatan yang akan terjadi, jadi merupakan suatu hal yang menentukan sikap sifat, hakikat baik perbuatan sekarang maupun perbuatan yang akan datang (Ahmadi, 2002: 162).

         Sikap adalah bereaksi dalam suka atau tidak suka terhadap suatu objek. Sikap merupakan emosi atau yang diarahkan oleh seseorang kepada orang lain, benda, peristiwa sebagai objek sasaran sikap. Sikap melibatkan kecenderungan respons yang bersifat preferensial. Dalam konteks itu, seseorang memiliki kecenderungan untuk puas atau tidak puas, positif atau negatif, suka atau tidak suka terhadap suatu objek sikap.

        Gerungan mengutarakan bahwa sikap adalah sikap terhadap obyek tertentu yang disertai dengan kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan sikap terhadap obyek tadi atau dengan kata lain yang lebih singkat sikap adalah kesediaan bereaksi terhadap suatu hal (Ahmadi, 2002: 164).

          Selanjutnya definisi sikap dari ahli Strickland menjelaskan bahwa sikap adalah kecenderungan untuk memberikan respon secara kognitif, emosi dan perilaku yang diarahkan pada suatu objek, pribadi dan situasi khusus dalam cara-cara tertentu. Sikap adalah sebuah pola yang menetap berupa respon evaluatif tentang orang, benda, atau isu.

         Sikap menurut Allport (Djaali, 2013: 114) ini menunjukkan bahwa sikap itu tidak muncul seketika atau dibawa lahir, tetapi disusun dan dibentuk melalui pengalaman serta memberikan pengaruh langsung kepada respon seseorang. Rupanya pengertian diatas sesuai dengan pendapat ahli psikologi yang bernama W.J. Thomas yang memberi batasan sebagai berikut: “Sikap adalah sebagai suatu kesadaran individu yang menentukan perbuatan-perbuatan yang nyata ataupun yang mungkin akan terjadi dalam kegiatan-kegiatan sosial” (Ahmadi, 2002: 162).

Dari paparan penjelasan di hadapan dapat disimpulkan bahwa sikap adalah:

  1. Bertindak terhadap suatu obyek. Objek sikap bisa berupa isu, benda, kata- kata, orang dan sebagainya.
  2. Seseorang yang menilai suatu obyek tertentu. Sehingga munculnya suatu reaksi berupa itu negatif dan positif.
  3. Sikap memiliki kecenderungan bertindak, bepersepsi, berfikir dan merasa dalam menghadapi suatu obyek.
  4. Sikap juga bisa muncul karena adanya perasaan terhadap apa yang dilihat atau objek. Bisa mendukung atau memihak dan bahkan sebaliknya tidak           mendukung atau tidak memihak.

2.3.2. Komponen Pokok dalam Sikap

      Sikap ini di dalamnya sedikitnya mempunyai 3 (tiga) aspek pokok. Ketiga komponen di bawah ini secara bersama merupakan penentu bagi jumlah keseluruhan sikap seseorang:

  1. Komponen Kognitif

           Komponen respons evaluatif kognitif adalah gambaran tentang cara seseorang dalam mempersepsi objek, peristiwa, atau situasi sebagai sasaran sikap. Fungsi kognitif adalah fungsi psikis manusia dibidang kesadaran, pemikiran, pengetahuan, interpretasi, pemahaman, idea, kecerdasan dan lain-lain. Fungsi-fungsi ini memancar dari daya (energi) masing-masing aspek psikis manusia (Baharuddin, 2004: 253). Misalnya, bagi pembaca bahwa berita itu penting dan bernilai. Tujuannya untuk mengetahui setiap peristiwa yang terjadi di negaranya baik di dalam negeri maupun luar negeri. Sikap pembaca terhadap berita itu mengandung pengertian bahwa berita itu penting.

  1. Komponen Afektif

         Komponen respons evaluatif afektif dari sikap adalah perasaan atau emosi yang dihubungkan dengan suatu objek sikap. Perasaan atau emosi meliputi kecemasan, kasihan, benci, marah, cemburu, atau suka. Selain itu komponen ini dalam (kamus lengkap psikologi, 1981: 13) merupakan perasaan-perasaan dan emosi-emosi yang disampaikan lewat ekpresi gerak-gerak wajah. Misalnya, jika pembaca mengatakan bahwa mereka suka berita itu, ini menggambarkan perasaan suka terhadap berita tersebut.

  1. Komponen Konatif

          Komponen respons evaluatif perilaku dari sikap adalah untuk berprilaku pada cara-cara tertentu terhadap objek sikap. Dalam hal ini, tekanan lebih pada berperilaku dan bukan pada perilaku secara terbuka. Misalnya, ketika orang melakukan tindakan diskriminatif terhadap anggota dari kelompok etnis tertentu, namun karena tindakan itu secara sosial dan legal dilarang, maka ia tidak melakukannya.

          Jadi, komponen konatif ini dipengaruhi oleh komponen kognitif. Komponen ini berhubungan dengan kecenderungan untuk bertindak. Apabila individu memiliki sikap yang positif terhadap suatu obyek ia akan siap membantu, memperhatikan, berbuat sesuatu yang menguntungkan obyek itu. Sebaliknya bila ia memiliki sikap yang negatif terhadap suatu obyek, maka ia akan mengencam, mencela, menyerang bahkan membinasakan obyek itu.

2.3.3. Ciri-Ciri Sikap

     Untuk dapat membedakan antara sikap (attitude) ini dengan motif kebiasaan maupun lainnya yang turut andil juga dalam membentuk pribadi seseorang, maka disini perlu penulis cantumkan ciri- ciri yang terdapat pada sikap yaitu (Ahmadi, 2002: 178):

  1. Sikap itu dipelajari (learnability)

        Sikap merupakan hasil belajar. Artinya sikap seseorang tidak dibawa sejak   lahir, tetapi harus dipelajari selama perkembangan hidupnya. Karena itulah   sikap selalu berubah-ubah dan dapat dipelajari Atau  sebaliknya, bahwa sikap itu dapat dipelajari apabila ada syarat-syarat  tertentu yang mempermudah berubahnya sikap pada orang itu.

    2. Memiliki kestabilan (stability)

        Sikap bermula dari dipelajari, kemudian menjadi lebih kuat, tetap dan stabil,    melalui pengalaman. Misalnya, perasaan suka dan tidak suka terhadap warna tertentu yang sifatnya berulang-ulang.

          3. Personal-societal significance

          Sikap melibatkan hubungan antara seseorang dan orang lain dan juga antara orang dan barang atau situasi. Jika seseorang merasa bahwa orang lain    menyenangkan, terbuka serta hangat, maka ini sangat berarti bagi dirinya, ia           merasa bebas dan suka.

4. Berisi kognitif dan afektif

          Komponen kognisi dari pada pada sikap adalah beirisi informasi yang faktual, misalnya, obyek itu dirasakan menyenangkan atau tidak   menyenangkan.

        5. Approach-avoidance directionality

          Bila seseorang yang memiliki sikap yang suka terhadap suatu obyek, mereka akan mendekati dan membantunya, sebaliknya bila seseorang memiliki sikap yang tidak suka, mereka akan menghindarinya.

        Selain itu sikap mempunyai daya pendorong atau motivasi. Sikap bukan sekadar rekaman masa lalu, tetapi juga menentukan apakah orang harus pro atau kontra terhadap sesuatu. Menentukan terhadap apa yang disukai, diharapkan dan diinginkan. Lalu mengesampingkan apa yang tidak diingkan apa yang harus dihindari. Sikap dapat diperteguh atau diubah, hal ini dikarenakan sikap timbul dari pengalaman dan merupakan hasil belajar.

       Jadi, pada kenyataannya tidak ada istilah sikap yang berdiri sendiri. Maksudnya, sikap harus diikuti oleh kata-kata “Terhadap” atau “Pada” obyek sikap. Bila ada yang berkata “Sikap Saya Positif”, kita harus mempertanyakan “Sikap Terhadap Apa atau Siapa?” (Rakhmat, 2004: 40).

2.3.4. Macam-Macam Sikap

    Sikap itu dibedakan menjadi 2 (dua) macam yaitu sikap sosial dan sikap individual, yaitu (dalam Ahmadi, 2002: 166):

  1. Sikap atau attitude sosial adalah kesadaran individu yang menentukan perbuatan yang nyata, yang berulang-ulang terhadap obyek sosial. Sikap sosial ini dinyatakan oleh cara-cara kegiatan yang sama dan berulang-ulang terhadap obyek sosial tersebut. Sikap sosial ini menyebabkan    terjadinya cara-cara tingkah laku yang dinyatakan secara berulang-ulang       terhadap obyek sosial.
  2. Sikap individual adalah sikap yang hanya dimiliki oleh perorangan saja, sikap ini dapat berupa kesukaan atau ketidaksukaan pribadi terhadap obyek- obyek, orang-orang atau semacam yang lainnya.

      Sikap sosial dan sikap individual secara jelas memiliki perbedaan antarkeduanya. Dimana sikap sosial menyebabkan terjadinya tingkah laku khas dan berulang-ulang terhadap obyek sosial dan oleh karena itu maka sikap sosial turut merupakan suatu faktor penggerak dalam pribadi individu untuk bertingkah laku secara tertentu. Hal ini berkaitan dengan penelitian ini yang mana pemberitaan LGBT merupakan obyek sosial.

        Sedangkan sikap individual obyeknya bukan merupakan obyek sosial melainkan hanya pada obyek individual saja. Seperti, sikap yang berupa kesenangan atas salah satu jenis makanan atau jenis yang lainnya. Individu sangat senang akan makanan Padang. Mungkin orang-orang lain meskipun dalam kelompoknya belum tentu senang akan makanan Padang. Jadi, obyeknya bukan obyek sosial.

2.3.5. Fungsi-Fungsi Sikap

              Dalam (Ahmadi, 2002: 179) fungsi sikap terbagi menjadi empat golongan, yaitu:

  1. Sikap Sebagai Alat Untuk Menyesuaikan Diri

          Bahwa sikap adalah sesuatu yang bersifat communicable artinya sesuatu yang mudah menjalar, sehingga mudah pula menjadi milik bersama, justru karena itu sesuatu golongan yang berdasarkan atas kepentingan bersama dan pengalaman bersama biasanya ditandai oleh adanya sikap anggotanya yang sama terhadap sesuatu obyek. Sehingga dengan demikian sikap bisa menjadi rantai penghubung antara orang dengan kelompok. Oleh karena itu, anggota kelompok yang mengambil sikap sama terhadap obyek tertentu dapat meramalkan tingkah laku terhadap anggota-anggota lainnya.

         2. Sikap Sebagai Alat Pengatur Tingkah Laku

          Kita tahu bahwa tingkah laku anak kecil merupakan aksi-aksi yang spontan terhadap sekitarnya. Antara perangsang dan reaksi tak ada pertimbangan, tetapi pada anak dewasa dan anak yang sudah lanjut usia perangsang itu pada umumnya tidak diberi reaksi secara spontan, namun terdapat proses secara sadar untuk menilai perangsang-perangsang itu, jadi antara perangsang dan reaksi terdapat sesuatu yang disisipkan yaitu sesuatu yang berwujud pertimbangan-pertimbangan terhadap perangsang tadi, dan penilaian terhadap perangsang itu sebenarnya bukan hal yang berdiri sendiri, namun merupakan sesuatu yang erat hubungannya dengan cita-cita orang, tujuan hidup orang, peraturan-peraturan kesusilaan yang ada dalam masyarakat, keinginan pada orang itu dan sebagainya.

  1. Sikap Sebagai Alat Pengatur Pengalaman-Pengalaman

          Dalam hal ini perlu dikemukakan bahwa manusia dalam menerima pengalaman-pengalaman dari dunia luar sikapnya tidak pasif, tetapi diterima secara aktif, artinya semua pengalaman yang berasal dari dunia luar itu tidak semuanya dilayani oleh manusia, tetapi manusia memilih mana yang perlu dan mana-mana yang tidak dilayani. Jadi semua pengalaman ini diberi penilaian, lalu dipilih.

          Tentu saja pemilihan itu ditentukan atas tinjauan apakah pengalaman itu mempunyai arti baginya atau tidak, jadi manusia setiap saat mengadakan pilihan dan semua perangsang tidak semuanya dapat dilayani. Sebab kalau tidak demikian akan mengganggu manusia. Tanpa pengalaman tak ada keputusan dan tak dapat melakukan perbuatan. Itulah sebabnya maka apabila manusia tidak dapat memilih ketentuan-ketentuan dengan pasti akan terjadi kekacauan.

          3. Sikap Sebagai Pernyataan Kepribadian

          Sikap sering mencerminkan pribadi seseorang, ini disebabkan karena sikap tidak pernah terpisah dari pribadi yang mendukungnya oleh karena itu dengan melihat sikap pada obyek-obyek tertentu, sedikit banyak orang bisa mengetahui pribadi, apabila kita akan mengubah sikap seseorang, kita harus mengetahui keadaan yang sesungguhnya dari pada sikap orang tersebut dan dengan mengetahui keadaan sikap itu kita akan mengetahui pula mungkin tidaknya sikap tersebut diubah dan bagaimana cara mengubahnya sikap- sikap tersebut.

2.3.6. Hal-Hal Yang Membentuk Sikap Dan Perubahan Sikap

        Dalam Psikologi Sosial terdapat dua faktor yang menyebabkan pembentuk perubahan sikap, yaitu (Ahmadi, 2002: 171):

  1. Faktor Intern

          Yaitu faktor yang terdapat dalam pribadi diri manusia itu sendiri. Faktor ini berupa selectivity atau daya pilih seseorang untuk menerima dan mengolah pengaruh-pengaruh yang datang dari luar. Pilihan terhadap pengaruh dari luar itu biasanya disesuaikan dengan motif dan sikap dalam diri manusia, terutama yang menjadi minat perhatiannya. Misalnya: orang yang sangat haus akan lebih memperhatikan perangsang dan menghilangkan hausnya itu dari perangsang- perangsang lain.

  1. Faktor Ekstern

          Yaitu faktor yang diluar pribadi manusia, faktor ini berupa interaksi sosial diluar kelompok. Misalnya: interaksi antara manusia dengan hasil kebudayaannya yang sampai kepadanya melalui alat-alat komunikasi seperti surat kabar, radio, televisi, majalah dan lain-lainnya.

          Dalam hal ini bahwa sikap itu dapat diubah atau dibentuk apabila: pertama, terdapat hubungan timbal balik yang langsung antara manusia. Kedua, adanya komunikasi (hubungan langsung) dari satu pihak. Faktor ini pun masih tergantung pula adanya sumber penerangan itu memperoleh kepercayaan orang banyak atau tidak, ragu-ragu atau tidaknya menghadapi fakta dan isi sikap baru itu.

         Pembentukan dan perubahan sikap tidak terjadi dengan sendirinya. Sikap terbentuk dalam hubungannya dengan suatu obyek, orang, kelompok, nilai, melalui hubungan antarindividu, hubungan di dalam kelompok, komunikasi surat kabar, poster, radio, televisi, dan sebagainya, terdapat banyak kemungkinan yang mempengaruhi timbulnya sikap. Selain itu juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan yang terdekat dengan kehidupan sehari-hari banyak memiliki peranan. Keluarga yang terdiri dari orang tua, saudara-saudara di rumah memiliki peranan penting yang dapat mempengaruhi perubahan sikap seseorang.

2.4 Konsep LGBT

2.4.1. Pengertian LGBT

              Dalam skripsi (Putri, 2016:18) Lesbian merupakan istilah bagi perempuan yang mengarahkan orientasi seksualnya kepada sesama perempuan atau disebut juga perempuan yang mencintai perempuan baik secara fisik, seksual, emosional atau secara spiritual. Lesbian adalah seorang yang penuh kasih. Pada saat ini lesbian digunakan untuk menunjuk komunitas gay wanita. Ada beberapa ciri yang sering dihubungkan dengan menjadi seorang lesbian:

  1. Butch

              Merupakan istilah dalam komunitas LGBT untuk mendeskripsikan sifat, gaya, perilaku, ekspresi, persepsi diri dan sebagainya yang bersifat maskulin dalam seorang wanita. Dalam konteks sebuah hubungan, butch seringkali dipakai sebagai pasangan dari femme (lebih bersifat feminim). Walaupun terdapat beberapa kasus butch berpasangan dengan butch (lebih bersifat tomboy), femme dengan femme. Butch seringkali mempunyai stereotip sebagai pasangan yang lebih dominan dalam hubungan seksual. Bahkan kadang hubungan anatar butch dan femme terjadi secara satu arah sehingga butch lebih digambarkan sebagai sosok yang tomboy, agresif, aktif, melindungi dan sebagainya.

  1. Femme

Istilah ini lebih mengadopsi peran sebagai feminim dalam suatu hubungan dengan pasangannnya. Femme yang berpenampilan feminim selalu digambarkan mempunyai rambut yang panjang berpakaian feminim.

              Sedangkan laki-laki memiliki orientasi seksual terhadap sesama laki-laki maka fenomena tersebut dikenal dengan istilah gay. Gay merupakan istilah untuk homoseks laki-laki. Homoseksual merupakan suatu realitas sosial yang semakin berkembang dalam kehidupan masyarakat. Homoseksual secara sosiologis adalah seseorang yang sejenis kelaminnya sebagai mitra seksual dan homoseksualitas sendiri merupakan sikap, tindakan atau perilaku pada homoseksual (Soekanto, 1990: 381).

              Homoseksualitas merupakan sebuah rasa ketertarikan secara perasaan dalam bentuk kasih sayang, hubungan emosional baik secara erotis ataupun tidak, dimana ia bisa muncul secara menonjol, ekspresif maupun secara ekslusif yang ditujukan terhadap orang-orang berjenis kelamin sama. Homoseksualitas merupakan salah satu bentuk orientasi seksual yang berbeda, tidak menyimpang, serta mempunyai kesejajaran yang sama dengan heteroseksual (Kadir, 2007: 66).

        Selanjutnya, biseksual adalah orientasi seksual dimana seseorang memiliki ketertarikan, baik pada laki-laki maupun perempuan. Dalam artian seorang perempuan menyukai perempuan dan ia juga menyukai laki-laki dan begitu pula sebaliknya. Jadi, memiliki daya ketertarikan seksual antarkeduanya. Callhon dan Acocella dalam skripsi (Nadya, 2013: 3), mengemukakan bahwa kegagalan dalam menjalankan identitias dapat menimbulkan konflik peran dalam diri individu. Konflik peran ditandai dengan munculnya kondisi psikologis seperti perasaan bersalah terhadap keluarga karena merasa berbeda, perasaan gelisah, keletihan fisik dan mental untuk tetap normal di depan orang lain sehingga menimbulkan rasa frustasi. Konflik tersebut dapat mengacu kesulitan dalam menghadapi peran yang seharusnya dijalankan.

           Dan yang terakhir ialah transgender, merupakan seseorang yang berkelamin laki-laki namun dalam jiwanya ia adalah seorang wanita, begitupula sebaliknya. Laki-laki yang berpenampilan layaknya wanita, begitu pula wanita yang berpenampilan layaknya seorang laki-laki. Istilah transgender digunakan untuk mendeskripsikan orang yang melakukan, merasa, berpikir, atau terlihat berbeda dari jenis kelamin yang sejak lahir mereka dapatkan. Istilah lain ialah seperti wanita yang maskulin, dan laki-laki yang gemulai atau yang sering dipanggil dengan sebutan waria (dalam Jurnal Studi Keislaman Tinjauan Hukum Internasional Ham dan Hukum Islam Terhadap LGBT Perspektif Human Dignity Mashood A. Baderin, 2015: 215).

2.5 Berita

2.5.1. Pengertian Berita

              Menurut Paul De Messenner dalam buku Here’s The News: Unesco Associate menyatakan, news atau berita adalah sebuah informasi yang penting dan menarik perhatian serta minat khalayak pendengar. Charley dan James M. Neal menuturkan, berita adalah laporan tentang suatu peristiwa, opini, kecenderungan, situasi, kondisi, interpretasi yang penting, menarik, masih baru dan harus secepatnya disampaikan kepada khalayak (Herdiansyah, 2010: 64).

         Berbagai definisi berita yang dikemukakan oleh para ahli, seperti Doug Newsom dan James A. Wollert mengemukakan, dalam definisi yang sederhana, berita adalah apa saja yang ingin dan perlu diketahui orang atau lebih luas lagi oleh masyarakat. Dengan melaporkan berita, media massa memberikan informasi kepada masyarakat mengenai apa yang mereka butuhkan.

              Berita adalah suatu kenyataan atau ide yang benar yang dapat menarik perhatian sebagian besar pembaca, Dean M. Lyle Spencer dalam News Wtiting. Michel V Charnley dalam Reporting (1965) menegaskan, berita adalah laporan tercepat mengenai fakta dan opini yang menarik atau penting. selanjutnya, Williard C. Bleyer dalam Newspaper Writing and Editing menulis, bahwa berita adalah sesuatu yang termasa yang dipilih oleh wartawan untuk dimuat dalam surat kabar, karena dia menarik minat atau mempunyai makna bagi pembaca surat kabar, atau karena dia dapat menarik para pembaca untuk membaca berita tersebut.

          Singkatnya, berita adalah semua hal yang terjadi di dunia. Yang mana ditulis oleh surat kabar, disiarkan di radio dan apa yang ditayangkan di televisi juga juga dipublish di media online. Berita harus menampilkan fakta tidak dibuat-buat atau ditulis dengan apa adanya. Berita biasanya menyangkut orang-orang, tetapi tidak setiap orang bisa dijadikan berita. Dan berita telah tampil sebagai kebutuhan dasar masyarakat modern di dunia.

2.5.2 Karakteristik Berita di Media Online

              Salah satu desain media online yang paling umum di publikasikan dalam praktik jurnalistik modern dewasa ini adalah berupa situs berita. Situs berita atau portal informasi merupakan gerbang informasi yang memungkinkan pengakses informasi memperoleh aneka fitur fasilitas dan berita di dalamnya.

         Jurnalistik Online atau Online Journalism juga disebut dengan “Cyer Journalism”, yakni proses kegiatan mencari, mengumpulkan, menyeleksi, menulis dan menyebarkan luaskan informasi kepada khalayak melalui media massa internet. Kemajuan teknologi media massa yang begitu pesat disertai kebiasaan masyarakat untuk dapat memperoleh informasi secara super cepat, memungkinkan online journalism berkembang pesat.

           Dalam proses kegiatan jurnalisme online, penyebaran luasan informasi didasari prinsip kebenaran dan rasa tanggung jawab, bukan sekedar menyebar luaskan informasi. Oleh karena itu dalam pengiriman informasi, jurnalis atau wartawan harus menaati kode etik dan peraturan-peraturan yang berlaku. Keunggulan berita di media online ialah (dalam Yosef, 2009:12):

  1. Memiliki jangkauan lebih luas dibanding media massa lainnya,
  2. Dapat dibaca secara berulang kali,
  3. Dapat dinikmati oleh semua orang yang melakukan akses di internet,
  4. Pengiriman informasi relatif jauh lebih cepat dibanding media massa lainnya,
  5. Proses penyebar luasan informasi relative lebih mudah.

2.6 Media Massa

2.6.1. Definisi Media Massa

           Media massa (dalam Nurudin, 2007: 9) merupakan alat-alat dalam komunikasi yang bisa menyebarkan pesan secara serempak, cepat kepada audience yang luas dan heterogen. Kelebihan media massa dibanding dengan jenis komunikasi lain adalah media massa bisa mengatasi hambatan ruang dan waktu. Bahkan media massa mampu menyebarkan pesan hampir seketika pada waktu yang tidak terbatas.

          Ketergantungan yang tinggi pada media massa tersebut akan mendudukkan media sebagai alat yang akan ikut membentuk apa dan bagaimana seseorang khususnya dikalangan mahasiswa. Dan sejauh ini mahasiswa masih mengutamakan media online sebagai alat untuk mencari informasi, berita dan referensi. Media massa telah mampu membentuk seperti apa masyarakat. masyarakat yang demokratis bisa dibentuk melalui media massa dan begitu juga sebaliknya. Kini media massa telah menjadi budaya. Ia diciptakan manusia, tetapi akhirnya media membentuk masyarakat itu sendiri. Media mampu mengarahkan masyarakat untuk mencapai suatu perubahan tertentu.

2.6.2. Bentuk-Bentuk Media Massa

              Bentuk – bentuk dari media massa (Cangara, 2012: 140) adalah sebagai berikut:

  1. Surat Kabar

              Surat kabar boleh dikata sebagai media massa tertua sebelum ditemukan film, radio, dan TV. Surat kabar memiliki keterbatasan karena hanya bisa dinikmati oleh mereka yang melek huruf, serta lebih banyak disenangi orang tua daripada kaum remaja dan anak-anak. Salah satu kelebihan surat kabar ialah mampu memberi informasi yang lengkap, bisa dibawa kemana-mana, terkodumentasi sehingga mudah diperoleh bila diperlukan.

  1. Film

              Film dalam pengertian sempit adalah penyajian gambar lewat layar lebar, tetapi dalam pengertian lebih luas bisa juga termasuk yang disiarkan di TV. Memang sejak TV menyajikan film-film seperti yang diputar di gedung-gedung bioskop, terdapat kecenderungan orang lebih senang menonton di rumah, karena selain lebih praktis juga tidak perlu membayar. Film dengan kemampuan daya visualnya yang didukung audio yang khas, sangat efektif sebagai media hiburan dan juga sebagai media pendidikan dan penyuluhan. Film bisa diputar berulang kali pada tempat dan khalayak yang berbeda.

  1. Radio

Di Indonesia diperkirakan ada 36 juta radio penenrima yang beredar di kalangan masyarakat Indonesia. Pertumbuhan stasiun-stasiun radio FM di kota-kota besar maupun di ibukota-ibukota kabupaten makin banyak mengalami kemajuan, selain sebagai penyebar informasi yang cepat untuk komunitas tertentu, juga sebagai saluran hiburan, iklan dan sarana dakwah. Salah satu kelebihan medium radio dibanding dengan media lainnya, ialah cepat dan mudah dibawa kemana-mana. Radio bisa dinikmati sambil mengerjakan pekerjaan lain, seperti memasak, menulis, menjahit dan semacamnya.

 

  1. Internet

              Penemuan fungsi komunikasi yang super canggih ini dijuluki dengan berbagai nama antara lain internet, media komunikasi maya, media superhighway dan semacamnya. Kelebihan jaringan komunikasi internet adalah kecepatan mengirim dan memperoleh informasi. Karena 30 tahun yang lalu orang tidak bisa membayangkan bahwa computer yang berbasis internet akan menjadi pepustakaan dunia yang dapat diakses melalui satu pintu yang namanya world wide word (www). Internet juga menjadi penyedia media informasi surat kabar (electronic newspaper), program film, TV, buku baru, serta lagu-lagu mulai dari yang bernuansa klasik sampai lagu-lagu kontemporer.

  1. Televisi

              Televisi telah mendominasi hampir semua waktu luang setiap orang. Hal ini disebabkan televis memiliki sejumlah kelebihan, terutama kemampuannya dalam menyatukan antarfungsi audio dan visual, ditambah dengan kemampuannya memainkan warna. Selain itu, TV juga mampu mengatasi jarak dan waktu sehingga penonton yang tinggal di daerah-daerah yang terpencil dapat menikmati siaran TV. TV membawa bisokop ke dalam rumah tangga, mendekatkan dunia yang jauh ke depan mata tanpa perlu membuang waktu dan uang untuk mengunjungi tempat tersebut.

              Media massa mengarahkan sikap, perilaku dan kebiasaan hidup kaum muda ditengah kehidupan modern saat ini sekaligus menjadi salah satu sumber pengetahuan dan panduan bagi masyarakat dalam memanfaatkan media massa. Namun seiring dengan kemajuan di bidang teknologi surat kabar mulai berkurang minat pembacanya.

            Yang mana saat ini dapat mengakses informasi dengan cepat dan mudah  Terutama dikalangan mahasiswa lebih sering mengakses informasi di media online. Semua informasi yang ada dapat diakses dengan membuka situs website berita seperti, website berita liputan6.com.

2.6.3. Fungsi Media Massa

              Sean MacBride (Cangara, 2012: 70) mengemukakan bahwa komunikasi tidak bisa diartikan sebagai pertukaran berita dan pesan, tetapi juga sebagai kegiatan individu dan kelompok mengenai pertukaran data, fakta dan ide. Oleh Karena itu, komunikasi massa berfungsi sebagai berikut:

  1. Informasi

          Yakni kegiatan untuk mengumpulkan, menyimpan data, fakta dan pesan,      opini dan komentar, sehingga orang bisa mengetahui keadaan yang terjadi di luar dirinya, apakah itu dalam lingkungan daerah, nasional atau           internasional.

  1. Sosialisasi

          Yakni menyediakan dan mengajarkan ilmu pengetahuan bagaimana orang     bersikap sesuai nilai-nilai yang ada, serta bertindak sebagai anggota masyarakat secara efektif.

  1. Motivasi

Yakni medorong orang untuk mengikuti kemajuan orang lain melalui apa      yang mereka baca, lihat dan dengar lewat media massa.

  1. Pendidikan

          Yakni membuka kesempatan untuk memperoleh pendidikan secara luas,        baik untuk pendidikan formal maupun untuk di luar sekolah. Juga    meningkatkan kualitas penyaian materi yang baik, menarik dan           mengesankan.

  1. Hiburan

          Media massa telah menyita banyak waktu luang untuk semua golongan usia dengan disfungsikannya sebagai alat hiburan dalam rumah tangga. Sifat          estetika yang dituangkan dalam bentuk lagu, lirik, dan bunyi maupun           gambar dan bahasa, membawa orang pada situasi menikmati hiburan seperti halnya kebutuhan pokok lainnya.

 

BAB 4 DAN 5 FENOMENA MEME DI MEDIA SOSIAL FACEBOOK

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Gambaran Umum Meme

      Meme merupakan sebuah bentuk kreatifitas manusia berupa gambar yang didalamnya terdapat sebuah pesan dengan bermacam  tujuan seperti memberi informasi, hiburan, mengkritik yang disebarkan melalui internet ataupun sosial media.

      Pada saat  ini meme sering digunakan penggunanya di sosial media, baik itu facebook, intagram, path, twitter, telegram, bbm dan sosial media lainnya. Dengan semakin banyaknya sosial media yang digunakan maka dengan mudahnya meme menjamur dan menyebarluas layaknya virus dari pengguna sosial media yang satu ke pengguna sosial media lainnya.

          Media sosial sosial, seperti Facebook, Twitter, Path dan Instagram adalah keluar biasaan sejarah yang telah merubah proses komunikasi manusia. Proses komunikasi yang selama ini dilakukan hanya melalui komunikasi tatap muka, komunikasi kelompok, komunikasi massa, berubah total dengan perkembangan teknologi komunikasi dewasa, khususnya internet. Perubahan tersebut akan membawa konsekuensi-konsekuensi proses komunikasi

          Dengan logika yang lebih sederhana, dapat di pahami bahwa  penyebaran atau pengembangbiakan meme dilakukan dengan cara replikasi dari meme yang sudah ada. Artinya, meme terus menerus melakukan replikasi melalui suatu kebiasaan atau gagasan tertentu sehingga menjadi pola yangberulang-ulang dan pada akhirnya membentuk sebuah pola kebudayaan dalam skala besar yang bisa dikatakan meme menjadi salah satu budaya populer.

        Meme mengalami proses evolusi atau perubahan dari waktu ke waktu, dan bersamaan dengan itu meme juga berusaha untuk bertahan dari pengaruh meme-meme yang baru.

        Menurut Merriam-Webster, Meme adalah idea, behavior, style, or usage that spreads from person to person within a culture, atausebuah ide, perilaku, gaya, atausesuatu yang penggunaan nya di sebarkan dari orang ke orang dalam suatu karakter budaya.

Kata meme di ambil dari bahasa Yunani mimesis, yang berarti sesuatu yang menyerupai atau tiruan, Dawkins memakai istilah ini untuk mendefinisikan lahirnya budaya dengan anggapan terjadinya bentukan dari banyak replikator.

        Hipotesis nya adalah manusia seharusnya melihat kelahiran budaya berasal dari banyaknya bentukan replikator, yang umumnya mereplikasi melalui hubungan dengan manusia, yang telah berevolusi sebagai peniru (walaupuntidaksempurna) informasi maupun prilaku yang efisien.

         Meme tidak selalu terkopi secara sempurna, bahkan dapat hilang, tercampur atau bahkan berubah dikarenakan pengaruh dari ide lainnya, sehingga menjadikan suatu meme yang baru. Meme tersebut (meme yang baru) dapatmenjadi lebih baik atau buruk sebagai replikator dibandingkan dengan meme sebelumnya, hal inilah yang menjadi kerangka hipotesis dari evolusi budaya, analogi tersebut membimbing kita menuju evolusi biologi yang berbasiskan gen.

       Meme di internet dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang menjadi terkenal melalui internet seperti gambar, video, atau bahkan orang. Internet meme biasanya tercipta saat seseorang membuat atau mengunggah sesuatu di internet, dan menyebar secara luas. Biasanya kita menikmati Meme dalam bentuk gambar.

Teknologi informasi nampaknya terus mendorong kreator untuk terus memproduksi meme baru, sehingga meme lama akan terus tergantikan dengan meme-meme yang baru tersebut, dan hanya sedikit saja yang bisa bertahan. Dengan kata lain proses evolusi dan geliat visual yang di alami oleh internet meme ini berjalan dengan sangat cepat. Jadi, ketika siapa saja bicara tentan gsesuatu yang sedang viral di internet, menurut Dawkins, itu bisa di sebut meme.

4.1.2 Penyebab Terjadinya PembuatanMeme

Meme merupakan sindiran yang menggelitik terhadap beberapa hal, biasanya sindiran tehadap hal-hal yang sedang terjadi atau hal-hal populer yang sedang diperbincangkan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya pembuatan meme sebagai berikut:

  1. LingkunganKeluarga

         Lingkungan keluarga yang membebaskan penggunaan internet yang berlebihan dapat menimbulkan efek-efek yang negatif diantarannya pembuatan meme yang provokatifdikarenakansalahmenerimainformasi dari internet.

  1. LingkunganSosial

        Lingkungan sosial dapat mempengaruhi membuat meme, dikarena kan seringnya diperihatkan sindiran- sindiran yang tidak membangun baik dari teman  sepergaulan, tetangga dll. Hal tersebut dapat memberikan efek untuk mengikuti membuat meme atau sindiran-sindiran yang bersifat profokasi.

  1. Menyampaikan sebuah ide dan gagasan

         Dengan adanya meme ini sendiri membuat orang-orang berlomba dalam menyampaikan ide dan aspirasinya melalui meme itu sendiri, seperti kasus yang sedang marak pada saat ini mengenai gubernur Jakarta yang sering disapa Ahok, banyak dari mereka yang menyampaikan aspirasinya melalui meme, baik itu kontra maupun pro.

  1. Larangan

        Tidak adanya larangan dari berbagai pihak membuat banyak orang bebas membua tsindiran-sindiran yang bersifat memprovokasi dari pada membangun.

4.1.3 Jenis-jenis  Meme

           Terdapat banyak jenis meme yang populer pada saat ini disosial media antara  lainnya seperti berikut :

  1. Meme hiburan

          Meme ini merupakan gambar yang berisi sebuah pesan yang bersifat lucu dan tujuannya hanya menghibur orang lain tanpa ada maksud menyinggung suatu pihak, organisasi, dan yang lainnnya, contoh dari meme hiburan :

images (1).jpg

  1. Meme informasi

         Meme ini kumpulan gambar yang biasanya lebih membahas tentang informasi-informasi yang ada disekitar kita, dan biasanya bersifat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan, contohnya seperti berikut :

download (4).jpg

  1. Meme politik

          Meme politik adalah meme yang menceritakan tentang kejadian politik, meme ini sangat populer ketika terjadi suatu permasalahan pada suatu kebijakan yang dikeluarkan oleh kepala negara, gubernur, menteri, dan sejenisnya untuk mengkritik kebijakan itu, namun meme ini juga sering digunakan pasukan cyber untuk menjatuhkan lawan politiknya dengan meme yang mereka buat sedemikian rupa, contoh meme politik seperti berikut :

download (3).jpg

  1. Meme kritikan

          Meme ini bersifat untuk mengkritik sebuah kebijakan yang ada pada saat ini, baik kebijakan dari seorang presiden, dpr, ataupun melihat situasi dan kondisi yang terjadi pada suatu daerah yang merugikan rakyat, contoh dari meme kritik ini sebagai berikut :

download (5).jpg

  1. Meme olahraga

Meme olahraga merupakan meme yang membahas mengenai dunia olahraga baik itu sepak bola, basket, tenis dan yang lainnya, meskipun banyak olahraga yang ada tetap saja meme sepak bola yang paling populer diantara semuanya, contoh meme olahraga seperti berikut :

images (2)

  1. Meme kehidupan sehari hari

           Meme yang sering kita lihat di sosial media manapun karena pembahasannya sangat luas dan familar dalam kehidupan kita sehari-hari, bahkan meme ini sering orang-orang gunakan untuk menunjukkan kegiatan dan situasi yang sedang mereka alami, contoh dari meme tersebut sebagai berikut :

1.jpg

  1. Meme jones

          Jones merupakan singkatan dari  jomblo ngenes, jadi dapat dikatakan meme ini menceritakan tentang kisah percintaan yang bertepuk sebelah tangan, maupun kehidupan seseorang yang selalu sendiri, contoh dari meme tersebut seperti berikut :

download (5).jpg

1.jpg

4.1.4 Profil Informan

           Adapun informan yang akan dibahas dalam penelitian ini diantaranya  adalah 10 orang pengguna facebook sebagai penikmat meme sepak bola.

  1. Ary sukma Lubis ( 22 tahun )

        Ary adalah mahasiswa Pertanian Universitas Muhamadiyah Sumatera yang baru saja Yudisium yang sudah mengenal meme sekitar 3-4 tahun yang lalu dan salah satu penikmat meme yang bertemakan sepak bola dan salah satu fans dari Chelsea fc, id facebook  nya “mhdArySukmaLubis ( AryadalahRezpector ) ”

  1. Adjie ( 24 tahun )

        Adjie adalah alumni mahasiswa ekonomi manajemen Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara yang sekarang sudah menjadi UIN. Sudah mengenal meme sekitar tiga tahun yang lalu dan juga merupakan penikmat meme yang bertemakan sepak bola, dan club kebanggaanya adalah Ac Milan, id facebook nya “Adjie Amry Alhasani ( adjie pratomo amry ).

  1. Fadhil ( 22 Tahun )

          Fadhil adalah mahasiswa Ilmu Administrasi Negara Universitas Malikussaleh. Ia sudah mengenal meme sejak tahun 2013 juga merupakan penikmat meme sepak bola dan club favoritnya Manchester City/Barcelona, id facebook nya fadhil Muctisha.

  1. Ferris ( 23 tahun )

          Ferris adalah mahasiwa Sosiologi Universitas Malikussaleh, ia sudah mengenal meme sejak tahun 2014 juga merupakan penikmat meme sepak bola, club favoritnya adalah Manchester United. Id facebook nya adalah ferris abdi pratama ( kiteng )

  1. Sabiq ( 20 tahun )

           Sabiq adalah mahasiswa Ekonomi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, ia sudah mengenal meme sejak tiga tahun yang lalu juga merupakan penikmat meme sepak bola, club favoritnya adalah Inter Milan.Id faceboo nya adalah Sabiq ( Emsabiq ).

  1. Oji ( 22 tahun )

        Oji adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh yang baru saja Yudisium, ia sudah mengenal meme dari tahun 2012 yang juga merupakan penikmat meme sepak bola, club favoritnya Real Madrid dan Barcelona.Id facebook nya adalah Fachrurrazi.

  1. Doni ( 24 tahun )

         Doni adalah salah satu staff bagian toefl di lab bahasa Pertanian Universitas Malikussaleh, ia sudah mengenal meme satu tahun lebih yang juga merupakan penikmat meme sepak bola, club favoritnya Real Madrid.Id Facebook nya adalah Doni Doni ( Lek Doni ).

  1. Dian Wen ( 22 tahun )

Dian adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh, yang sudah mengenal meme sekitar tiga tahun yang lalu dan juga merupakan penikmat meme sepak bola, club favoritnya Real Madrid. Id facebook nya adalah dian putra manda.

  1. Billy ( 24 tahun )

           Billy adalah alumni mesin Poltek Lhokseumawe yang sekarang bekerja di staff engineering Pltmg Arun, sudah mengenal meme dari tahun 2012 dan salah satu penikmat meme sepak bola, club favoritnya Real Madrid.Id Facebook nya adalah Billy Adi Muhamad.

  1. Rizal ( 22 tahun )

           Rizal salah satu mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh, sudah mengenal meme sejak tahun 2012 dan salah satu penikmat meme sepak bola, club favoritnya Barcelona.Id Facebook nya adalah Rizal Bugis.

 

PERJUDIAN ONLINE SEPAK BOLA (Studi Kasus Pada Mahasiswa Universitas Malikussaleh Di Keude Krueng Geukeuh Kecamatan Dewantara Kabupaten Aceh Utara)

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar belakang Masalah

      Pada zaman modern sekarang ini pemanfaatan teknologi informasi sangat beragam oleh para penggunanya. Berbagai macam fasilitas yang tersedia menjadi alternatif bagi manusia untuk memperoleh berbagai kemudahan dan cepat. Segala aspek kehidupan terpengaruh oleh adanya perkembangan teknologi informasi, tidak dapat dipungkiri bahwa dengan semakin berkembangnya teknologi akan segala aktivitas kehidupan manusia. Perkembangan teknologi informasi ini bukan hanya menyediakan fasilitas yang bersifat positif, akan tetapi juga menyediakan banyak layanan yang secara substansial sangat negatif. Dampak yang ditimbulkan di sisi positif dalam perkembangan teknologi ini misalnya kemudahan mengakses informasi, kemudahan dalam berkomunikasi dan lain-lain tetapi dampak negatifnya selalu mengiringi seperti membuat orang menjadi malas, selalu bergantung terhadap perkembangan teknologi yang ada dan mengakses hal-hal yang berbau pornografi.

       Sebagai pengguna internet aktif peneliti menemukan sebuah fenomena yang dimana internet tidak hanya digunakan sebagai media yang memudahkan manusia melakukan pekerjaan hariannya saja, tetapi juga terdapat beberapa pihak yang menggunakan internet untuk hal-hal yang negatif, peneliti menemukan fenomena yang menarik dimasyarakat dalam bentuk permainan perjudian online. Dampak yang diberikan oleh kemudahan teknologi tersebut disalahgunakan oleh pihak-pihak yang menyediakan jasa permainan perjudian online dalam bentuk website.

        Pada dasarnya perjudian merupakan salah satu bentuk penyakit masyarakat, satu bentuk dengan patologi sosial, sejarah perjudian sudah ada sejak beribu-ribu tahun yang lalu, sejak dikenalnya sejarah manusia (Kartini Kartono, 2011 : 57). Pada mulanya perjudian itu berwujud permainan atau kesibukan-kesibukan pengisi waktu senggang guna menghibur hati dan sifatnya rekreatif dan netral. sifat yang netral ini lambat laun ditambahkan unsur baru untuk merangsang kegairahan bermain dan menaikkan ketegangan serta pengharapan untuk menang, yaitu barang taruhan berupa uang, atau tindakan yang bernilai (Kartini Kartono, 2011 : 59).

          Permainan perjudian online yang saat ini sangat marak dan sangat mudah di akses di internet dan hal ini menjadi permasalahan serius akibat perkembangan teknologi informasi dengan ditambah lagi dengan kegemaran masyarakat akan olahraga sepak bola. Di Indonesia sendiri sepak bola sudah mendarah daging dan menjadi tontonan wajib bagi kebanyakan masyarakatnya. Penyedia jasa permainan judi online memberikan kemudahan bagi para pelaku untuk melakukan transaksi judi. Bersamaan dengan perkembangnya zaman permainan perjudian online pun mengalami perkembangan. Hal ini terjadi karena permainan ini memberikan kemungkinan keuntungan yang cukup besar apabila memenangkannya.

          Padahal apabila ditinjau dari sisi hukum jelas bahwa permainan judi online ini dilarang dan bahkan penikmat atau pecandu judi online ini dapat dijerat secara hukum dengan ancaman penjara. Hal itu telah diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 303 ayat 1 yang berbunyi barang siapa ikut serta permainan judi yang diadakan dijalanan umum ataupun dipinggirannya maupun ditempat yang dapat dimasuki oleh khalayak umum, kecuali jika untuk mengadakan itu ada izin dari penguasa yang berwenang, diancam dengan kurungan paling lama empat tahun atau denda paling banyak sepuluh juta rupiah. Sementara dalam UU ITE pengaturan mengenai perjudian dalam dunia siber diatur dalam pasal  27 ayat 2 UU No. 11 tahun 2008, setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan, mentransmisikan, atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik atau dokumen elektronik yang memiliki muatan perjudian, diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun atau denda paling banyak satu milyar rupiah. (Hukum Online, diakses 19 januari 2016).  Bukan hanya itu, bahkan bila dianalisa dari sudut pandang agama pula, hukum permainan judi online ini tergolong kedalam katagori haram.

       Pada dewasa ini fenomena permainan perjudian online marak terjadi dikalangan mahasiswa khususnya mahasiswa di kota Lhokseumawe dan kabupaten Aceh Utara  karena dipicu dengan kecintaan mahasiswa terhadap sepak bola,  dan hasil yang diperoleh jauh lebih besar serta keefektifannya dan sistem yang digunakan lebih mudah untuk memainkan permainan judi online tersebut. Kegiatan yang dilakukan oleh para mahasiswa dengan keikutsertaan mereka dalam permainan perjudian online, dapat terjadi karena sesuatu yang membuat mereka tertarik, meskipun tidak terdapat sebuah kepastian didalamnya. Mahasiswa yang diharapkan sebagai penerus bangsa terpengaruh oleh adanya situs permainan perjudian online.

       Berdasarkan observasi awal peneliti dilapangan melalui interaksi dengan teman-teman mahasiswa (observasi 4 November 2015) peneliti menemukan sebuah fenomena bahwa terdapat beberapa mahasiswa yang terlibat didalam permainan perjudian online ini. mengedepankan efektifitas dan sistem yang sederhana, judi dan taruhan sepak bola mendapatkan tempat tersendiri di hati para penggemarnya sebagai aktivitas yang sulit untuk ditinggalkan. Judi bola online di Indonesia sendiri sudah merupakan salah satu akar budaya yang sangat kental, walaupun sifatnya laten karena secara hukum masih ilegal.

           Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk meneliti dan mengkaji masalah tersebut sebagai bentuk karya ilmiah atau skripsi dengan judul “Perjudian Online Sepak Bola” (Studi Kasus Pada Mahasiswa Universitas Malikussaleh  Di Keude Krueng Geukeuh Kecamatan Dewantara Kabupaten Aceh Utara).

1.2 Rumusan Masalah

         Dari latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan yang akan dilihat oleh peneliti dalam penelitian ini, yaitu :

  1. Apa motif yang mendasari para mahasiswa Universitas Malikussaleh untuk bermain perjudian online sepak bola?
  2. Apa saja dampak dari perjudian online sepak bola yang dimainkan oleh Mahasiswa Universitas Malikussaleh ?

1.3 Fokus Penelitian

           Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka yang menjadi fokus utama dalam penelitian ini adalah :

  1. Motif yang mendasari para mahasiswa Universitas Malikussaleh untuk bermain permainan perjudian onlin sepak bola.
  2. Dampak yang disebabkan dari perjudian online sepak bola yang dimainkan oleh mahasiswa Universitas Malikussaleh.

1.4 Tujuan Penelitian

         Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

  1. Untuk mengidentifikasi dan menganalisis motif apa saja yang mendasari para mahasiswa Universitas Malikussaleh bermain perjudian online sepak bola
  2. Untuk mendeskripsikan dan menganalisis bagaimana dampak yang dihasilkan dari permainan perjudian online sepak bola dikalangan mahasiswa Universitas Malikussaleh

1.5 Manfaat Penelitian

            Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Manfaat teoritis

        Hasil Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan masukan yang bermanfaat untuk memperkaya kepustakaan dan pengembangan Sosiologi, perjudian online sepak bola di kalangan mahasiswa Universitas Malikussaleh. bagi peneliti sendiri, dalam rangka meningkatkan kemampuan dan wawasan tentang perjudian online sepak bola.

  1. Manfaat Praktis

         Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi masukan dan bahan pertimbangan bagi pihak pemerintah daerah dan pihak Universitas dalam mengambil kebijakan dalam rangka mengantisipasi terjadinya perjudian online sepak bola yang dilakukan para mahasiswa.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu

     Penelitian Ridhallah (2014) dengan judul ‘Fenomena perjudian online pada masyarakat Aceh” Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan bagaimana tanggapan masyarakat terhadap judi online yang berlangsung di Kecamatan Samudra Kabupaten Aceh Utara, teknik analisi data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif, untuk menggali data yang lebih akurat saudara Ridhallah menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi.

         Hasil penelitian, menyatakan bahwa judi atau judi online itu tidak ada bedanya, karena permainan ini dianggap merugikan dan membuat orang malas untuk melakukan aktifitas pekerjaan sehari-hari, selain itu permainan judi online ini juga bertentangan dengan agama dan negara. Maraknya permainan judi online yang terjadi sekarang ini  telah membawa dampak negatif terhadap kalangan remaja, dimana waktu yang seharusnya mereka lakukan untuk beraktifitas atau bekerja terbuang sia-sia diwarung internet.

         Kaitan penelitian saudara Ridhallah (2014) dengan peneliti,kami sama-sama meneliti tentang perjudian online dan fenomenanya. Adapun perbedaannya adalah peneliti terdahulu lebih menekankan kepada fenomena perjudian online di kalangan masyarakat Aceh khususnya, sedangkan penulis lebih menekankan kepada perjudian online sepak bola yang dilakukan oleh para mahasiswa di Universitas Malikussaleh. Tempat melakukan penelitian saudara Ridhallah adalah kecamatan Samudra Aceh Utara khusunya di tiga gampong di kecamatan tersebut yaitu Gampong Mancang, Gampong Asan, dan Gampong Blang Peuria. Sedangkan penulis melakukan penelitian pada mahasiswa Universitas Malikussaleh.

         Penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penulis juga pernah dilakukan oleh Zakaria (2014) dengan judul penelitian “Pengaruh Judi Online Terhadap Perilaku Remaja Gampong Blang Panyang Kecamatan Muara Satu Kota Lhokseumawe”penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perjudian online terhadap perilaku remaja. Di dalam penelitian ini saudara zakaria mengguanakan metode kuantitatif yang berbasis pada studi lapangan  (field research), dalam penelitian ini data diperoleh melalui observasi, angket dan dokumentasi.

           Hasil penelitian,menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara permainan judi online dengan perilaku remaja Gampong Blang Panyang adalah tinggi atau bekorelasi secara signifikan. Hali ini ditunjukan oleh hasil perhitungan statistik terhadap nilai r (pengaruh) sebesar -1,0417 %, sehingga harga t dihitung diperoleh sebesar 38,614, sedangkan t tabel diperoleh daftar dengan derajat kebesaran (dk) N=120 adalah 1,657.

        Kaitan penelitian saudara Zakaria (2014) dengan peneliti adalah, kami sama-sama meneliti tentang tentang perjudian online dan khalayak yang diteliti adalah pemuda atau remaja. Adapun perbedaannya adalah penelitian terdahulu lebih meneliti kepada pengaruh judi online terhadap perilaku remaja. Sedangkan penulis lebih menekankan perjudian online dikalangan mahasiswa. Tempat melakukan penelitian saudara Zakaria di gampong Blang Panyang kota Lhokseumawe, maka penulis, melakukan penelitian pada mahasiswa yang menempuh pendidikan di Universitas Malikussaleh.

         Penelitian yang berkaitan dengan penelitian penulis juga pernah dilakukan oleh Nasruddin (2014) dengan judul penelitian “Fenomena perjudian taruhan sepak bola dikalangan pemuda gampong” penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak yang dihasilkan dari taruhan judi bola dikalangan pemuda gampong serta mengetahui penilaian dari masyarakat tentang apa yang disebabkan dari perjudian taruhan sepak bola yang dilakukan para pemuda. Didalam penelitian ini saudara Nasrudin menggunakan metode kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif, didalam penelitian ini data diperoleh melalui obserasi, wawancara, dan dokumentasi.

           Hasil dari penelitian ditemukan bahwa perilaku perjudian di Gampong U Baro Kecamatan Cot Girek terlihat sudah berlangsung lama dan tekesan terbiarkan begitu saja oleh orang tua, pemuda-pemudi, tetangga dan tokoh masyarakat, serta tingginya angka perilaku perjudian bola dikalangan pemuda Gampong U Baro kecamatan Cot Girek dipacu karena rasa semangat dalam mendukung tim dalam pertandingan pada tontonan permainan olah raga sepak bola tersebut. Rasa semangat dan pengisi waktu luang ini berubah menjadi suatu perilaku yang dilakukan berulang-ulang dan pada akhirnya menjadi masalah ekonomi yang didapatkan dari hasil perjudian tersebut. Perjudian bola yang dilakukan oleh sejumlah pemuda Gampong U Baro Kecamatan Cot Girek dan pemuda tetangga lainnya secara jelas dan nyata memberikan dampak yang tidak bagus terutama kepada pelaku penggemar judi sendiri yang menyebabkan pelaku judi malas-malasan bangun pagi dan juga malas bekerja.

           Kaitan penelitian saudara Nasruddin (2014) dengan peneliti, kami sama-sama meneliti tentang perjudian dan khalayak yang diteliti adalah mahasiswa dan pemuda. Adapun perbedaannya adalah peneliti terdahulu lebih menekankan kepada fenomena perjudian taruhan sepak bola yang dilakukan oleh pemuda desa, sedangkan penulis lebih menekankan kepada  perjudian online sepak bola yang dilakukan oleh mahasiwa. Tempat melakukan penelitian saudara Nasruddin dilakukan di Gampong U Baro Kecamatan Cot Girek Kabupaten Aceh Utara, sedangkan penulis melakukan penelitian pada mahasiswa yang menempuh pendidikan di Universitas Malikussaleh.

2.2 landasan Teori

2.2.1 Teori Differential Association

        Salah satu teori yang berlandaskan sosiologis adalah teori belajar atau sosialisasi yang dikemukakan oleh Edwin H. Sunderland, teori ini menyebutkan bahwa perilaku menyimpang adalah hasil dari suatu proses belajar, menurutnya penyimpangan bersumber pada deferential assosiation pada pergaulan yang berbeda. Penyimpangan dipelajari melalui proses alih budaya (Cultural Transmission).  Melalui teorinya Edwin H. Sunderland mengemukakan perilaku menyimpang adalah hasil dari proses belajar atau yang dipelajari. Ini berarti bahwa penyimpangan bukan hal yang diwariskan atau diturunkan dan bukan juga hasil dari intelegensi yang rendah. (Kamanto Sunarto, 2004: 178).

          Tindakan yang dilakukan oleh mahasiswa yang ikut terlibat dalam perjudian online sepak bola dapat dikatakan sebagai perilaku yang menyimpang. Tindakan menyimpang yang dilakukan oleh mahasiswa ini terjadi dikarenakan adanya proses belajar yang dilakukan oleh mereka. Proses belajar ini terjadi karena adanya keinginan  dari individu yakni mahasiswa untuk mengetahui agar mereka dapat melakukan apa yang menurut mereka menarik sehingga mereka dapat melakukan hal tersebut. Di dalam penelitian ini teori belajar atau defferential assosiation digunakan untuk mengkaji penyimpangan yang terjadi sehingga mahasiswa ikut terlibat di dalam perjudian online sepak bola ini.

2.3 Landasan Konseptual

2.3.1 Perilaku Menyimpang

    Perilaku menyimpang disini adalah hasil rumusan para ahli yang telah melakukan studinya di berbagai kelompok masyarakat, menurut Clinard dan Meier, 1987: 4-7 (Narwoko dan Suyanto, 2013:103). Berdasarkan studi tersebut maka perilaku menyimpang dapat di definisikan secara berbeda berdasarkan empat sudut pandang:

         Pertama, secara statistikal. Definisi secara statistikal ini adalah salah satu yang paling umum dalam pembicaraan awam. Adapun yang dimaksud dengan penyimpangan secara statistikal ini adalah segala perilaku yang bertolak dari suatu tindakan yang bukan rata-rata atau perilaku yang jarang dan tidak sering dilakukan. Pendekatan ini berasumsi bahwa sebagian besar masyarakat dianggap melakukan cara-cara dan tindakan yang benar. Definisi ini sulit untuk diterima karena dapat mengarah pada beberapa kesimpulan yang membingungkan. Misalnya, ada kelompok-kelompok minoritas yang memiliki kebiasaan berbeda dari kelompok mayoritas maka apabila menggunakan definsi statistikal kelompok-kelompok tersebut dianggap sebagai orang-orang yang menyimpang.

          Kedua, tindakan absolut atau mutlak. Definisi penyimpangan yang berasal dari kaum absolutis ini berangkat dari aturan-aturan sosial yang dianggap sesuatu yang “mutlak” atau jelas dan nyata, sudah ada sejak dulu, serta berlaku tanpa terkecuali untuk semua warga masyarakat. Kelompok absolutis berasumsi, bahwa aturan-aturan dasar dari suatu masyarakat adalah jelas dan anggota-anggotanya harus menyetujuinya tentang apa yang disebut sebagai penyimpangan dan bukan. Itu karena standar atau ukuran dari suatu perilaku yang dianggap conform sudah ditentukan terlebih dahulu begitu pula apa yang disebut menyimpang juga sudah ditetapkan secara tegas. Dengan demikian diharapkan setiap orang dapat bertidak sesuhai dengan nilai-nilai yang dianggap benar dan menghindari perilaku yang dianggap menyimpang.

      Ketiga, secara reaktif. Perilaku menyimpang menurut kaum reaktivis bila berkenanan dengan reaksi masyarakat atau agen kontrol sosial terhadap tidakan yang dilakukan seseorang. Artinya apabila ada reaksi dari masyarakat atau agen kontrol soaial dan kemudian mereka memberi cap atau tanda (labeling), pelaku yang dianggap menyimpang. menurut Becker (Clinard dan Meier 1989:5) penyimpangan dalah sesuatu akibat yang kepada siapa cap itu telah berhasil diterapkan; perilaku menyimpang adalah perilaku yang dicapkan kepadanya atau orang lain telah memberi cap kepadanya. Dengan demikian apa yang menyimpang dan apa yang tidak, tergantung dari ketetapan-ketetapan (atau reaksi-reaksi) dari anggota masyarakat terhadap suatu tindakan.

       Keempat, secara normatif. Sudut pandang ini didasarkan atas asumi bahwa penyimpangan adalah suatu pelanggaran dari suatu norma sosial. Norma dalam hal ini adalah suatu standar tentang “apa yang seharusnya atau tidak seharusnya dipikirkan, dikatakan, atau dilakukan oleh warga masyarakat pada suatu keadaan tertentu”. Pelanggaran-pelanggaran terhadap norma, sering kali diberi sanksi oleh penonton sosialnya. Sanksi-sanksi tersebut merupakan tekanan dari sebagian besar anggota masyarakat yang merasa konfrom dengan norma-norma tersebut. Ada dua konsepsi tentang norma, yaitu: (1) Sebagai satu evaluasi atau penilaian dari tingkah laku, yaitu penilaian perilaku yang dianggap baik atau tidak seharusnya terjadi; (2) Sebagai suatu tingkah laku yang diharapkan atau dapat diduga, yaitu menunjuk pada aturan-aturan tingkah laku yang didasarkan pada kebiasaan atau adat istiadat masyarakat. Konsep mengenai penyimpangan perilaku dari kaum normatif ini dapat memberikan jawaban atas pertanyaan yang muncul dari kaum reaktivis. Ada dua argumen yang menarik yaitu, (1) Dengan dasar atau landasan apa orang-orang memberikan reaksi atau suatu tingkah laku; (2) Jika suatu penyimpangan memang diidentifikasi melalui reaksi orang lain, bagaimana atau dengan apa orang tersebut  bereaksi atau mencap/memberi label terhadap suatu kejadian atau tingkah laku tersebut. Jawaban dari kedua pertanyaan tersebut adalah norma-norma sosial. (Narwoko dan Suyanto, 2013 : 105)

     Menurut Paul Horton dalam Simamora (2007 : 31) menjelaskan bahwa penyimpangan sosial adalah setiap perilaku yang dianggap pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat. Perilaku dianggap menyimpang apabila tidak sesuhai dengan nilai-nilai dan norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat atau dengan kata lain penyimpangan adalah segala macam pola perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri terhadap kehendak suatu kelompok masyarakat.

    Menurut Hirschi (Narwoko dan Suyanto 2013:116) dalam teori kontrol menyatakan penyimpangan merupakan hasil dari kekosongan kontrol atau pengendalian sosial. Teori ini dibangun atas dasar bahwa pandangan setiap manusia cenderung untuk tidak patuh pada hukum atau memiliki dorongan untuk melakukan pelanggaran hukum. Para ahli teori konrol menilai perilaku menyimpang adalah konsekuensi logis dari kegagalan seseorang untuk menaati hukum.

           Berdasarkan proposisi Harschi kurang lebih ada empat unsur utama di dalam kontrol sosial internal, yaitu attachement (kasih sayang), commitment (tanggung jawab), involvement (keterlibatan atau partisipasi), dan believe (kepercayaan/keyakinan). Keempat unsur tersebut dianggap merupakan sosial bonds yang berfungsi untuk mengendalikan perilaku individu.

         Sedangkan menurut Merton (Kamanto Sunarto 2004:180) bahwa dalam struktur sosial dan budaya dijumpai tujuan, sasaran atau kepentingan yang didefinisikan oleh kebudayaan sebagaitujuan yang sah bagi seluruh maupun  sebagian anggota masyarakat. Tujuan budaya teresebut merupakan hal yang “pantas diraih” , selain itu melalui institusi dan aturan struktur budaya mengatur dan cara yang harus ditempuh untuk meraih tujuan budaya tersebut. Aturan tersebut bersifat membatasi cara tertentu seperti menipu atau memaksa, misalnya tidak dibenarkan.

          Hipotesis Merton ialah bahwa perilaku menyimpang merupakan pencerminan tidak adanya kaitan antara aspirasi yang ditetapkan kebudayaan dan cara yang dibenarkan struktur sosial untuk mencapai tujuan tersebut. Menurut Merton struktur sosial menghasilkan tekanan kearah anomie (strain toward anomie) dan perilaku menyimpang.

2.3.2 Perjudian

         Perjudian diartikan sebagai suatu kegiatan pertarungan untuk memperoleh keuntungan dari hasil suatu pertandingan, permainan atau kejadian yang hasilnya tidak dapat diduga sebelumnya. Sedangkan Kartono dalam Sitorus (2007 : 58) menjelaskan judi adalah pertarungan dengan sengaja yaitu pertaruhan satu nilai atau sesuatu yang dianggap bernilai dengan menyadari adanya resiko dan harapan-harapan tertentu pada peristiwa permainan, pertandingan perlombaan dan kejadian-kejadian yang tidak atau belum pasti hasilnya.

        Dalam bahasa Belanda judi disebut dengan kata kansspelyang berarti permainan yang berdasarkan untung-untungan. (Wijowasito, 1981:329). Dalam bahasa Inggris perjudian ataupun judi dikenal dengan kata Gamble yang memiliki pengertian “to risk (money, proprtty,etc) on the result of something uncertain, such as a card game, a horse race, etc. (Longman, 1987: 426)

        Pada perkembangannya berbagai macam bentuk perjudian sudah demikian merebak dalam kehidupan masyarakat sehari-hari baik yang bersifat terang- terangan maupun sembunyi-sembunyi. Sebenarnya judi sudah mulai marak dikenal di Indonesia sejak lama dimana kegiatan perjudian ini di samarkan oleh pemerintah sehingga terkesan bahwa itu bukan merupakan sebuah perjudian dan terlibat seperti sumbangan sosial seperti PORKAS atau SDSB  (sumbangan dermawan sosial berhadiah)  sehingga sebagian masyarakat sudah cenderung terbiasa dan seolah-olah memandang perjudian sebagai suatu hal yang wajar. (Simanjuntak, 1981 : 352-354).

     Dari pengertian diatas makaada tiga unsur agar suatu perbuatan dapat dinyatakan sebagai judi, yaitu:

  1. Perlombaan, perbuatan yang dilakukan biasanya berbentuk permainan atau perlombaan. Judi dilakukan semata-mata untuk bersenang-senang atau kesibukan untuk mengisi waktu kosong guna menghibur hati, jadi bersifat reaktif, namun disini perilaku tidak harus terlibat dalam permainan, karena boleh jadi mereka adalah penonton atau orang yang ikut bertaruh terhadap jalannya sebuah permainan atau perlombaan.
  2. Untung-untungan, artinya untuk memenangkan permainan atau perlombaan ini lebih banyak digantungkan kepada unsur spekulatif dari kebetulan atau untung-untungan,atau kemenangan yang diperoleh dikarenakan kebiasaan atau kepintaran pemainan yang sudah sangat terbiasa atau terlatih.
  3. Adanya taruhan. Dalam permainan atau perlombaan ini ada taruhan yang dipasang oleh para pihak pemain atau bandar. Baik dalam bentuk uang ataupun harta benda lainnya. Kadang istri pun bisa dijadikan taruhan. Akibat dari adanya taruhan maka tentu saja ada pihak yang diuntungan dan ada yang dirugikan. Unsur ini merupakan unsur yang paling utama untuk menentukan apakah sebuah perbuatan dapat disebut sebagai judi atau bukan.

         Menurut Eko Wahyu, diakses agustus 2012 dalam Ridhalah (2014:8) membagi lima katagori perjudian berdasarkan karakteristik psikologis mayoritas para penjudi. Kelima kategori tersebut adalah sebagai berikut:

  1.  Sociable games

         Dalam sociable games, setiap orang yang menang atau kalah selalu bersama-sama. Biasanya para penjudi ini selalu ingin menang, walaupun mereka sadar jika tidak akan selalu mendapatkan hal tersebut namun mereka merasa senang karena paling tidak mereka sudah mendapatkan kesempatan yang baik untuk mencoba permainannya. Contoh gambling yang termasuk kategori ini adalah Dadu, Baracccat, Black Jack, Pai Gow Poker, Lite In Ride, Roulette America.

         2. Analytical Games

        Analytical Games sangat bagi orang yang mempunyai kemampuan menganalisis data dan mampu membuat keputusan sendiri. Perjudian model ini memerlukan riset dan informasi yang cukup banyak serta kemampuan menganalisis berbagai kejadian. Contoh gambling yang termasuk dalam kategori ini adalah pacuan kuda, Sport betting.\

         3. Games You Can Beat

          Didalam jenis gambling ini biasanya penjudi sangat kompetitif dan ingin sekali untuk menang. Penjudi jenis ini biasanya suka berusaha ekstra keras untuk dapat menguasai permainanan. Permainan judi jenis ini adalah permainan yang dirancang khusus bagi penjudi yang hanya mementingkan kemenangan. Contoh permainan judi yang termasuk dalam permainan ini adalah Black Jack, Pai Gow Poker, Poker, Video Poker, Sport Betting.

     4. Escape From Reality

      Pada permainan Escape From Reality para pemain yang menjalankan slot machine atau video games dalam waktu yang cukup lama akan berasa seperti terbawa ke alam lain. Permainan ini bukan hanya menyajikan hal-hal yang menarik tetapi juga membuat penjudi terbuai menunggu hasil yang tidak terduga, meski penjudi pada akhirnya selalu mengalami kekalahan contoh permainan yang termasuk dalam kategori ini adalah slot machines dan video games.

    5. Patience Games

        Permainan ini merupakan jenis permainan yang paling digemari oleh para penjudi yang ingin santai dan tidak ingin terburu-buru dalam mendapatkan hasil. Bagi para penjudi masa-masa menunggu sama menariknya ketika mereka memasang taruhan, mulai bermain atau pun mengakhiri permainan, contoh permainan.

2.3.3 Sejarah Perjudian

         menurut cohan (1964) dalam haryono (2013:4) perjudian sudah ada sejak jaman prasejarah perjudian bahkan sering dianggap seusia dengan peradaban manusia itu sendiri. Dalam cerita Mahabrata dapat diketahui bahwa Pandawa menjadi kehilangan kerajaan dan dibuang kehutan selama 13 tahun karena kalah dalam permainan judi dengan Kurawa. Didunia batar perilaku berjudi sudah dikenal sejak jaman Romawi kuno.

        Orang Romawi kuno sangat menyukai permainan melempar koin dan lotre yang dipejari dari China. Orang Yunani kuno juga menggunakan hal yang sama, selain itu mereka juga menyenangi permainan dadu. Pada zamanYunani kuno permainan dadu menjadi sangat populer. Para raja seperti Neuro dan Claudin menganggap permainan dadu sebagai bagian penting dalam acara kerajaan. Namun permainan dadu menghilang bersama dengan keruntuhan kerajaan Romawi, dan baru ditemukan kembali beberapa abad kemudia di sebuah benteng Arab bernama Hazart. Semasa perang salib. (Batavia Digital, diakses 2015)

       Sedangkan di Indonesia sendiri perjudian mempunyai latar belakang yang panjang, setidaknya sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda, pada tahun 1960-an judi sudah ada di Indonesia dalam bentuk lotre dengan nama lotre buntut, pada masa itu di Bandung ada lotre yang disebut Toto Raga sebagai upaya pengumpulan dana mengikuti pacuan kuda, sedangkan di Jakarta semasa Gubernur Ali Sadikin muncul undian lotre yang diberi nama Toto dan Nato (National Lotre).

           Pada tahun 1965 Presiden Soekarno mengeluarkan Keppres No 113 tahun 1965 yang menyatakan Lotre Buntut merusak moral bangsa dan masuk dalam kategori subversi. Namun memasuki jaman orde baru lotre ini terus berkembang. Tahun 1968 Pemerintah kota Surabaya mengeluarkan Toto (Lotre Totalisator) PON Surya yang tidak ada kaitannya dengan penyelenggaraan olahraga hanya berdasarkan undian. Tujuannya menghimpunan dana bagi PON VII yang diselenggarakan disurabaya tahun 1969. (Suara Merdeka, diakses November 2015)

2.3.4 Perjudian Online

       Menurut Nico Fergiyono, (diakses September 2015) Perjudian online pada dasarnya sama dengan perjudian lain karena di dalamnya terdapat unsur kalah atau menang, serta terdapat suatu nilai yang dipertaruhkan, namun disini yang membedakan perjudian online dan perjudian pada umumnya adalah tempat dan sarana yang digunakan. Perjudian online merupakan perjudian yang memanfaatkan jaringan internet didalam permainannya, sehingga pelaku dalam berjudi dapat memainkannya dimana saja dan kapan saja asalkan tersedianya jaringan internet baik itu di perangkat komputer maupun perangkat smartphone mereka.

        Selain menggunakan jaringan internet di dalam permainannya, perjudian online juga memanfaatkan situs website judi yang telah disediakan oleh penyedia jasa perjudian online yang telah banyak tersebar di dunia maya baik itu situs perjudian online lokal maupun internasional. Situs perjudian online lokal yang menawarkan jasa permainan judi online ini misalnya adalah situs website, Dewapoker.com, Agenjudibola.net, Winning365.com. sedangkan situs perjudian online internasional yang menawarkan jasa permainan judi online ini diantaranya, Bwin.com, Bet365.com, Betfair.com.

     Selain itu, menurut Aldo S.Sitepu (2015:3) perjudian online merupakan permainan yang dapat dimainkan dirumah, sekolah, dikampus, bahkan ditempat-tempat umum. Media yang biasanya digunakan untuk bermain judi bola online ini adalah komputer, laptop, dan handphone yang telah dilengkapi fasilitas internet.

2.3.5Perjudian Online Sepak Bola

     Menurut Zakaria (2014:16) perjudian online sepak bola adalah kegiatan pertaruhan yang paling luas dan paling besar apabila dihitung-hitung bisa jutaan dolar perputaran uang setiap tahun dalam bisnis judi online sepak bola ini. Perjudian online sepak  bola ini meliputi pertandingan pertandingan lokal sampai level international sampai pertandingan tertinggi di ajang piala dunia

      Menurut Haryono (2013:12) perjudian sepak bola merupakan permainan perjudian dengan mengguanakan media olahraga untuk melakukan pertaruhan, dimana dalam pertandingan tersebut salah satu penjudi harus memilih salah satu tim sepak bola yang akan bertanding. Meraka membuat perjanjian tentang ketentuan permainan apa yang dipertaruhkan dan apabila timnya menang dalam pertandingan maka ia berhak, mendapatkan semua yang dipertaruhkan.

Menurut Nico Fergiyono (diakses september 2015) Model pemasangan taruhan dalam permainan judi online sepak bola   ini ada bermacam cara seperti sistem taruhan memang-kalah-seri, tebak skor, taruhan dengan voor, seta bola jalan. Kalah menang seri adalah model taruhan yang dilakukan beberapa saat sebelum kick off dimulai dimana para petarung harus sudah memasang uang taruhan mereka. Sedangkan dalam taruhan tebak skor adalah taruhan menebak skor hasil pertandingan yang dimainkan. Untuk sistem bola jalan adalah model taruhan yang dapat dilakukan ketika dan selama pertandingan itu berlangsung. Sedangkan untuk model voor terdapat beberapa sistem:

  1. Voor 1/4, pada model ini keuntungan uang untuk hasil seri yang diberikan kepada suatu tim.
  2. Voor 1/2, pada taruhan ini hasil pertandingan baik menang kalah atau seri, uang taruhan akan didapat dengan penuh.
  3. Voor 3/4, pada taruhan ini apabila pertandingan berakhir dengan selisih satu gol maka akan diperoleh setengah dari uang taruhan.
  4. Voor 1, adalah pertandingan dengan selisih dua gol untuk tim yang memberi voor.

2.3.6 Pengertian Mahasiswa

         Mahasiswa adalah seseorang yang sedang dalam proses menimba ilmu ataupun belajar dan terdaftar sedang menjalani pendidikan pada salah satu perguruan tinggi yang terdiri dari akademik, politeknik, sekolah tinggi institut, dan universitas. (Hartaji, 2012:5)

            Dalam kamus bahasa Indonesia (KBI) mahasiswa didefinisikan sebagai orang yang belajar di perguruan tinggi (Kamus Bahasa Indonesia Online, KBBI Web.id, diakses november 2015)

            Menurut Siswoyo (2007:121) mahasiswa dapat didefinisikan sebagai individu yang sedang menuntut ilmu ditingkat perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta atau lembaga yangsetingkat dengan perguruan tinggi. Mahasiswa dinilai memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi kecerdasan dalam berfikir dan perencanaan dalam bertindak. Berfikir kritis bertindak dengan cepat dan tepat merupakan sifat yang cenderung melekat pada diri setiap mahasiswa, yang merupakan prinsip saling melengkapi.

          Sedangkan mahasiswa Universitas Malikussaleh merupakan mahasiswa yang sedang dalam proses menimba ilmu dan terdaftar sedang menjalani studi di Universitas Malikussaleh, baik itu di kampus utama yang berlokasi di jalan Medan-Banda Aceh, Cot Tengku Nie, Reuleuet, Kabupaten Aceh Utara, dan kampus lain yang berada di tiga lokasi yaitu Bukit Indah, Cunda, dan lancang Garam Kota Lhokseumawe. (Wikipedia, diakses November 2015)

2.3.7 Cyber Crime (Kejahatan Mayantara)

            Pesatnya perkembangan dibidang teknologi informasi ini merupakan dampak dari semakin kompleksnya kebutuhan manusia akan informasi itu sendiri. Adanya hubungan diantara informasi dan teknologi jaringan komunikasi telah menghasilkan dunia maya yang sangat luas yang bisa disebut dengan teknologi cyber space. Teknologi ini memuat kumpulan-kumpulan informasi yang dapat diakses oleh semua orang dalam bentuk jaringan-jaringan komputer yang disebut jaringan internet. (Ginanjar Sapto, 2012:15).

            Kehadiran internet memberi dampak yang luar biasa terhadap manusia. Pada awalnya teknologi internet merupakan suatu yang bersifat netral, yaitu bebas nilai tidak dapat dilekati  sifat baik maupun jahat. Akan tetapi pada perkembangannya, internet membawa dampak positif maupun negatif. Negatifnya adalah membuka peluang munculnya pihak-pihak yang menyalahgunakan internet. Kejahatan lahir sebagai dampak negatif dari perkembangan internet disebut dengan istilah cybercrime.

            Kejahatan dunia maya (cyber crime) adalah jenis kejahatan yang berkaitan dengan pemanfaatan sebuah teknologi informasi tanpa batas serta memiliki karakteristik yang kuat dengan sebuah rekayasa teknologi yang mengandalkan kapada tingkat keamanan yang tinggi dan kredibilitas dari sebuah informasi yang disampaikan dan di akses oleh pelanggan internet itu (Ginanjar Sapto, 2012:20).

    Berdasarkan laporan kongres PBB X/2000 dinyatakan bahwa cyber crime atau computer-related crime mencangkup keseluruhan bentuk baru dari kejahatan yang ditunjukan pada computer, jaringan computer, dan para penggunanya, dan bentuk-bentuk kejahatan tradisional yang sekarang dilakukan dengan menggunakan atau dengan bantuan peralatan komputer. (Arief, 2003: 259).

        Cyber Crime merupakan keseluruhan bentuk kejahatan yang ditujukan terhadap computer, jaringan computer dan para penggunanya, dan bentuk-bentuk kejahatan konvensional yang menggunakan atau dengan bantuan peralatan computer. Kejahatan tersebut diedakan menjadi dua kategori yakni cyber crime dalam arti sempit dan cyber crime dalam arti luas. cyber crime dalam arti sempit adalah kejahatan terhadap sistem computer, sedangkan cyber crime dalam arti luas mencangkup kejahatan terhadap sistem atau jaringan computer dan kejahatan yang menggunakan sarana komputer. (Widodo, 2013: 12)

       Belum ada kesatuan pendapat dikalangan para ahli mengenai definisi cyber crime. Hal itu disebabkan karena kejahatan ini (cyber crime) merupakan kejahatan yang relatif baru dibandingkan dengan kejahatan-kejahatan konvensional. Ada yang menerjemahkannya dengan kejahatan siber, kejahatan didunia maya, kejahatan virtual, bahkan ada yg menggunakan istilah aslinya yaitu cyber crime. Untuk memudahkan klasifikasi cyber crime tersebut, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Perbuatan yang dilakukan secara ilegal, tanpa hak atau tidak etis tersebut terjadi dalam ruang atau wilayah cyber (cyber space), sehingga tidak dapat dipastikan yurisdiksi negara mana yang berlaku terhadapnya.
  2. Perbuatan tersebut dilakukan dengan menggunakan peralatan apapun yang terhubung dengan internet.
  3. Perbuatan tersebut menyebabkan kerugian material maupun inmaterial
  4. Pelakunya adalah orang yang menguasai penggunaan internet beserta aplikasinya.
  5. Perbuataan tersebut sering dilakukan secara transnasional atau melintasi batas negara. (Wahib dan Labib, 2005: 76)

     Salah satu bentuk kejahatan mayantara (cyber crime) adalah permainan perjudian sepak bola online. Permainan perjudian sepak bola online  masuk kedalam salah satu bentuk cyber crime karena pelakunya menguasai penggunaan internet dan perbuatanya sering melintasi batas negara, selain itu permainan perjudian sepak bola online juga tidak dapat dipastikan yuridiksi negara mana yang berlaku. Situs judi bola online yang terus berkembang dapat membahayakan masyarakat dan generasi muda, sehingga kemudian pemerintah Indonesia mengesahkan UU ITE untuk dijadikan pertimbangan dalam menangani kasus hukum di dunia maya.

 

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi Penelitian

          Lokasi penelitian adalah tempat dilakukannya suatu penelitian ilmiah.Lokasi penelitian ini dipusatkan pada warung kopi dan rumah kost di Keude Krueng Geukuh, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara. Menurut pengamatan peneliti banyak mahasiswa yang bermain judi online sepak bola dibeberapa titik baik itu di rumah kost dan warung kopi. Sedangkan waktu penelitian adalah batas waktu kegiatan penelitian yang dibutuhkan dalam suatu penelitian ilmiah. Adapun waktu kegiatan penelitian ini dilakukan berdasarkan surat keterangan (SK) penelitian mahasiswa yang dikeluarkan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh.

          Alasan memilih mahasiwa sebagai subjek penelitian dikarenakan mahasiswa tersebut lebih antusias dalam kesehariannya menggunakan akses internet untuk belajar dan menjelajah dunia maya untuk menghilangkan jenuh karena seharian belajar dikampus serta umumnya mahasiswa banyak yang terlibat bermain perjudian online. Dari segi tempat, penelitian ini merupakan jenis penelitian lapangan, yaitu suatu penelitian yang dipilih sebagai lokasi untuk menyelidiki gejala objektif yang terjadi dilokasi tersebut. (Abdurrahman Fathoni, 2006:96)

3.2 Pendekatan Penelitian 

       Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Menurut Miles dan Huberman (2004 : 3) metode penelitian kualitatif merupakan suatu pendekatan yang berusaha menafsirkan  makna suatu peristiwa sebagai interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu. Pelaksanaan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif hanya berbatas sampai pada pengumpulan dan penyusunan data, tetapi sangat kompleks dan luas meliputi analisis dan interprestasi tentang data tersebut, selain itu juga dikumpulkan juga kemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang diteliti.

       Alasan pemilihan penggunaan metode kualitatif bersifat deskriptif tersebut adalah pertama menggunakan pendekatan kualitatif tidak di kualifikasikan,  kedua wawancara secara formal untuk mendapatkan data, ketiga penulis dapat berhubungan langsung dengan informan dan keempat, pendekatan ini dapat menyesuaikan diri dengan penajaman pengaruh bersama dan terhadap pola-pola yang dihadapi.

3.3Informan Penelitian

    Penelitian ini, peneliti mengambil sampel pada mahasiswa Universitas Malikussaleh yang melakukan permainan judi online sepak bola. Pada penelitian ini menggunakan prosedur kuota, dalam  prosedur ini bertujuan memutuskan saat merancang penelitian, berapa banyak orang dengan karakteristik yang di inginkan untuk dimasukkan sebagai informan. Kriteria yang dipilih memungkinkan peneliti untuk fokus pada orang yg diteliti perkirakan akan paling mungkin memiliki pengalaman dan tahu tentang atau memilikiwawasan ketopik penelitian. (Burhan Bungin, 2007:108)

3.4Sumber Data

        Pada penelitian ini peneliti menggunakan dua jenis data yang dipergunakan yaitu : pertama data primer yaitu data yang diperoleh dilapangan melalui hasil wawancara mendalam dan observasi untuk mencari dan mengumpulkan data yang kemudian akan diolah untuk mendeskripsikan tentang fenomena perjudian online sepak bola dikalangan mahasiswa. Kedua data sekunder atau data penunjang dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan (library research) metode ini peneliti gunakan untuk mendapatkan data sekunder dengan cara membaca dan mempelajari buku-buku, surat kabar, artikel dan data statistik yang berkaitan dan berhubungan dengan masalah penelitian yang peneliti teliti.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

      Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data (Sugiyono, 2011: 224). Adapun teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Observasi

      Observasi adalah metode pengumpulan data, dimana peneliti mencatat hasil informasi yang sebagaimana yang mereka saksikan selama penelitian ( W.Gulo, 2004 : 116) dalam melakukan penelitian ini peneliti melakukan pengamatan langsung terhdap mahasiswa yang bermain perjudian online sepak bola di warung kopi dan rumah kost. Observasi dianggap sebagai bentuk penelitian yang paling murah sebab dapat dilakukan seorang diri tanpa memerlukan biaya. Menurut Daymon dan Holloway, 2008:321-322, (Nyoman Khuta, 2010:217)  Teknik observasi tidak melakukan intervensi dan dengan demikian tidak mengganggu objektivitas penelitian.  Disini peneliti akan mengamati dua lokasi yaitu warung kopi dan rumah kost. Fokus pengamatan ke dua tempat tersebut didasarkan karena kedua tempat ini banyak mahasiswa yang bermain perjudian online sepak bola. Disini peneliti melakukan pengamatan pada siang dan malam hari, hal ini dilakukan agar mendapatkan data yang akurat. Ada pun hal-hal yang di amati adalah bagaimana minat mahasiswa dalam bermain judi online sepak bola dan motif apa yang mendasari mereka bermain permainan judi online sepak bola.

  1. Wawancara

    Selain dengan pengamatan langsung, peneliti juga menggunakan teknik pengumpulan data wawancara, wawancara merupakan proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara menjawab sambil bertatap muka antara pewawancara dan informan atau orang yang di wawancarai dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, dimana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama (Burhan Bungin, 2007:111). Penulis akan melakukan pengumpulan data dengan cara wawancara menggunakan pedoman wawancara (interview guide) agar wawancara tetap pada fokus penelitian. Informan yang akan penulis wawancarai untuk pengumpulan data ini ialah Mahasiswa yang terlibat langsung dalam permainan perjudian online sepak bola, hal ini bertujuan agar penggalian data lebih mendalam menyangkut minat dan motif mahasiswa terhadap permainan perjudian online sepak bola.

  1. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah ada, bisa berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya menumental dari seseorang dalam penelitian ini pendukung data dalam hal tertulis atau dokumen diambil dari berbagai arsip-arsip, serta melalui berbagai warta berita.

  1. Studi literatur

        Studi literatur merupakan bahan-bahan yang diterbitkan secara berkala, baik secara rutin maupun berkala, seperti buku, Jurnal dan Majalah (Burhan Bungin, 2007:125).

3.6 Teknik Analisis Data

        Data dianalisis berdasarkan model analisis interaktif yang diberikan oleh Milles dan Huberman dalam Sugiyono (2011:245) yang terdiri dari tiga langkah yaitu: Reduksi data, klasifikasi data dan penarikan kesimpulan.

  1. Reduksi data

     Peneliti melakukan penyeleksi dan penyederhanaan terhadap data yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi, selanjutnya data tersebut dikelompokan sesuhai dengan topik permasalahan penelitian.

  1. Penyajian data

         Peneliti menyajikan dalam bentuk kalimat setiap data yang diperoleh dari hasil wawancara dan obserasi serta data yang diperoleh dari dokumentasi guna menghasilkan konsep yang bermakna

  1. Penarikan kesimpulan atau verifikasi

       Peneliti melakukan penarikan kesimpulan terhadap data yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi, serta dokumentasi berdasarkan hasil interprestasi data.

 

 

DAFTAR PUSTAKA 

Buku

Abdul Wahid Dan Mohammad Labib. 2005. Kejahatan Mayantara (Cyber Crime). Bandung.Refika Aditama.

Simanjuntak. 1981. Pengantar Kriminologi dan Patologi Sosial. Bandung: Tarsito.

Bungin, Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif; Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, Dan Ilmu Sosial Lainnya, Edisi Kedua. Jakarta. Kencana.

Dwi Siswoyo, Dkk. 2007. Pengantar Ilmu Pendidikan. Yogyakarta. UNY Pres.

Fathoni, Abdurrahman. 2006. Metodologi Penelitian Dan Yeknik Penyusunan Skripsi. Jakarta. Rineka Cipta.

Kartono, Kartini. 2011. Patologi Sosial Jilid I. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Longman. 1987. Dictionary Of Contemporary English New Edition. Burn Hill, Harlow. Longman Grup UK Limited.

Narwoko Dan Bagong Suyanto. 2013. Sosiologi Teks Pengantar Dan Terapan. Jakarta: Kencana.

Nawawi Arief, Berda. 2003. Kapitaselekta Hukum Pidana. Bandung. Citra Aditya Bakti.

Ratna, Nyoman Khuta. 2010. Metodologi Penelitian Kajian Budaya Dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Simamora, Sahat. 2007. Anak didik dalam intraksi  edukasi. Jakarta: Rineka Cipta

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi Edisi Revisi. Jakarta. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Widodo. 2013. Hukum Pidana Bidang Teknologui Informasi Cyber Crime Law; Teoritik Dan Bedah Kasus. Yogyakarta. Aswaja Pressindo.

W.Gulo. 2004. Metode Penelitian Sosial. Jakarta: Grasindo.

Wijowasito. 1981. Kamus Umum Belanda Indonesia. Jakarta. Ictiar Baru Vanttoeve.

 

  1. Jurnal Penelitian/Skripsi

Hartaji, Damar. A. 2012. Motivasi Berprestasi Pada Mahasiswa yang Berkuliah Dengan Jurusan Pilihan Orang Tua. Fakultas Psikologi. Universitas Gunadharma.

Haryono. 2013. Fenomena Judi Sepak Bola Dikalangan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Skripsi Universitas Sumatera Utara.

Nasrudin. 2014. Fenomena Perjudian Taruhan Sepak Bola Dikalangan Pemuda Gampong (Studi Kasus Gampong U Baro Kecamatan Cot Girek). Skripsi Universitas Malikussaleh.

Ridhallah.2014. Fenomena Perjudian Online Pada Masyarakat Aceh(Studi Kasus Pada Kecamatan Samudra Kab Aceh Utara). Skripsi Uniersitas Malikussaleh.

Sitepu, Aldo Serena. 2015. Judi Online (Studi Etnografi pada Mahaisiwa Penjudi Online di Pasar 1, Padang Bulan, Medan. Skripsi Universitas Sumatera Utara.

Zakaria. 2014. Pengaruh Judi Online Terhadap Perilaku Remaja (Studi Kasus Pada Gampong Blang Panyang Koa Lhokseumawe). Skripsi Universitas Malikussaleh.

Ginanjar Sapto. 2012. Tindak Pidana Cyber Crime Dalam Perspektif Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Indormasi Dan Transaksi Elektronik. Skripsi Universitas Pembangunan Nasional UPN.

 

  1. Media Massa/Internet

Eko W. Budianto, 2012, Kategori Perjudian  Berdasarkan Karakteristik       Psikologis,http://mediaindonesia.com/read/2012/09/02/345132/37/5/polisi bongkar-judi-di-Muara-Karang. Diakses agustus 2012.

Hukum Online, 2016, Peraturan Hukum Perjudian Online.m.hukumonline.com /klinik/detail/it506967a9b1ed2/apa-hukuman-maksimal-bagi-pelaku-judi-bola-online. Diakses 19 januari 2016

Nico Fergiyono, 2015, Fenomena Perjudian Online Dikalangan Mahasiswa.http://nicofergiyono.blogspot.com/2015/01/fenomena-judi-bola-online-di-kalangan.html. diakses tanggal 6 1 november 2015

Rudi. 2016. Perilaku menyimpan, http://Rudiblg perilakumenyimpang. Diakses 19 januari 2016

RESPONSIVITAS PELAYANAN KESEHATAN BAGI PESERTA BPJS SOSIAL ( Studi di Rumah Sakit PT. Arun Kota Lhokseumawe)

BAB I

PENDAHULUAN 

1.Latar Belakang Masalah

       Pelayanan publik merupakan bentuk kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah di tingkat pusat, daerah, dan di lingkungan BUMN dalam bentuk barang atau jasa, baik guna memenuhi kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan perundang-undanga.

     Pelayanan publik juga merupakan segala kegiatan yang dilaksanakan oleh penyelenggara pelayanan publik sebagai upaya pemenuhan kebutuhan penerima pelayanan, dalam pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan. Peningkatan pelayanan publik yang efisien dan efektif akan mendukung tercapainya efisiensi dan efektif akan mendukung tercapainya efisiensi pembiayaan, artinya ketika pelayanan umum yang diberikan oleh penyelenggara pelayanan kepada pihak yang dilayani berjalan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya atau mekanisme atau prosedurnya tidak berbelit-belit, akan mengurangi biaya atau beban bagi pihak pemberi pelayanan dan juga penerima pelayanan.

         Oleh karenanya instansi pemerintah yang terbagi ke dalam unit-unit pelayanan yang secara langsung memberikan pelayanan kepada masyarakat. Ukuran keberhasilan pelayanan akan tergambar pada indeks kepuasan masyarakat yang diterima oleh para penerima pelayanan berdasarkan harapan dan kebutuhan mereka yang sebenarnya. Namun sebenarnya pelayanan publik dapat bekerja sama dengan pihak swasta atau diserahkan kepada swasta apabila memang dipandang lebih efektif dan sepanjang mampu memberikan kepuasan maksimal kepada masyarakat.

           Dalam Undang-Undang Dasar 1945 menjelaskan bahwa negara wajib melayani setiap warga negara dan penduduk untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.Seluruh kepentingan publik harus dilaksanakan oleh pemerintah sebagai penyelenggara negara yaitu dalam berbagai sektor pelayanan,terutama menyangkut pemenuhan hak-hak sipil dan kebutuhan dasar masyarakat.Dengan kata lain seluruh kepentingan yang menyangkut hajat hidup orang banyak itu harus atau perlu adanya suatu pelayanan.Selanjutnya Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik dalam pasal 18dijelaskan masyarakat berhak mendapatkan pelayanan yang berkualitas sesuai dengan asas dan tujuan pelayanan.

       Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS) juga menetapkan jaminan sosial nasional akan diselenggarakan oleh BPJS, yang terdiri dari BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. BPJS kesehatan menyelenggarakan program jaminan kesehatan dan BPJS ketenagakerjaan menyelenggarakan program jaminan keselamatan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun,dan jaminan kematian.

        Pelayanan kesehatan masyarakat miskin seperti saat ini juga menggunakan BPJS juga harus bermutu dan efektif. Pelayanan yang bermutu dan efektif merupakan salah satu tolak ukur kepuasan yang berdampak pada keinginan pasien untuk kembali kepada institusi yang memberikan pelayanan kesehatan yang  efektif. Umtuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pasien sehingga dapat memperoleh kepuasan yang pasa akhirnya meningkatkan kepercayaan terhadap rumah sakit melalui pelayanan prima.

          Fenomena yang terjadi, Pada 29 Februari 2016 sekitar pukul 14.00 WIB Badriah Daud (56), asal Geulumpang Sulu Timur, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, dibawa ke RS Arun atas keluhan diabetes. Hasil pemeriksaan, pasien harus dirawat inap.Beberapa hari dirawat, jempol kaki ibunya makin membengkak. Hasil konsultasi, dokter bedah menyatakan harus dilakukan operasi untuk pembersihan. Pada 3 Maret 2016, Badriah dioperasi dua jam setelah dioperasi tanpa konfirmasi pada pihak keluarga pihak rumah sakit melakukan transfusi darah, pasien memiliki golongan darah O sedangkan darah yang ditransfusi golongan B. (www.modusaceh.co.id,diakses12Januari 2017).

       Saat proses transfusi berlangsung, pasien langsung kejang-kejang, menggigil kedinginan dan keluar keringat hingga pingsan,tetapi saat itu transfusi darah tetap dilanjutkan hingga habis satu kantong. Besoknya, kondisi pasien  masih lemah, mual, dan muntah-muntah, kemudian tanggal 7 Maret 2016 pasien diintruksikan pulang walaupun masih mual dan muntah-muntah.

        Setelah pulang, pada 8 Maret 2016 pukul 20.30 WIB, pasien kembali kejang-kejang hingga pingsan, dan langsung dibawa kembali ke RS Arun. Saat diperiksa lagi, dikatakan gula drop sehingga dirawat di ruang Kondesat.Selama dirawat di situ kondisi pasien makin lemah, bahkan sempat muntah darah, esoknya. Badriah harus dirawat di ICU. Sehari kemudian kembali mengalami kejang-kejang hingga pingsan lagi. Pada malam 10 Maret petugas medis dan meminta mempersiapkan pasien untuk menjalani cuci darah dengan darah O. Perbedaan permintaan darah saat transfusi dengan permintaan darah saat operasi cuci darah akibat dugaan gagal ginjal menjadi bukti awal bahwa pihak rumah sakit telah melakukan tindakan malpraktek terhadap pasien.

     Mal praktek yang sudah diketahui publik dari rumah sakit PT.Arun Kota Lhokseumawe dalam melayani pasien BPJS sosial. Kesalahan dalam transfusi darah, pada pasien menjadi masalah besar dan pelayanan yang buruk terhadap pasien BPJS social. Oleh karena itu, pasien dan keluarga pasien merasa dirugikan dan dikecewakan oleh pihak rumah sakit sehingga pihak keluarga melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH).

         Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh Pos Lhokseumawe meminta Polres Lhokseumawe agar mengusut dugaan malpraktek yang dilakukan Rumah Sakit PT. Arun, yang salah melakukan transfusi darah kepada pasien tersebut.Pada 13 Maret 2016 pihak LBH menerima laporan dugaan malpraktek berupa salah transfusi darah. Pasien yang memiliki golongan darah O namun mendapatkan transfusi darah golongan B saat dirawat di Rumah Sakit Arun Lhokseumawe.Pihak LBH siap membantu keluarga pasien dengan meninjau ulang ke rumah sakit PT.Arun Kota Lhokseumawe terhadap kasus malpraktek yang telah terjadi. (www.serambiindonesia.co.id,diakses 12 Januari 2017).

          Setiap pelayanan publik harus memiliki standar pelayanan dan dipublikasikan sebagai jaminan adanya kepastian bagi penerima pelayanan merupakan ukuran yang harus dimiliki dalam penyelenggaraan pelayanan publik yang wajib ditaati pemberi dan penerima pelayanan.Salah satu fungsi utama pemerintah adalah menyelenggarakan kegiatan pembangunan dan pelayanan sebagai bentuk dari tugas umum pemerintah untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Birokrasi merupakan instrumen pemerintah untuk mewujudkan pelayanan publik yang efisien, efektif, berkeadilan, transparan, dan akuntabel.Hal ini berarti untuk mampu melaksanakan fungsi pemerintahan dengan baik maka organisasi birokrasi harus profesional, aspiratif dan memiliki daya tanggap yang tinggi terhadap tuntutan masyarakat yang dilayani agar masyarakat pengguna jasa merasa puas terhadap pelayanan yang diterimanya.

           Maka dari itu peneliti ingin melihat dan akan mengadakan penelitian dalam bentuk proposal skripsi dengan judul Responsivitas Pelayanan Kesehatan Bagi Peserta BPJS Sosial ( Studi di Rumah Sakit PT. Arun Kota Lhokseumawe)”.

1.2 Rumusan Masalah

        Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

  1. Bagaimana responsivitas rumah sakit PT.Arun Kota Lhokseumawe dalam melayani pasien BPJS sosial ?
  2. Upaya apa yang dilakukan pihak rumah sakit PT.Arun Kota Lhokseumawe

          untuk meningkatkan responsivitas dalam melayani pasien BPJS sosial ?

1.3 Fokus Penelitian

           Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah diatas, maka yang menjadi fokus penelitian adalah :

  1. Responsivitas rumah sakit PT.Arun Kota Lhokseumawe dalam melayani pasien BPJS sosial. Fokus penelitian pada pelayanan/malpraktek peserta BPJS Sosial.
  2. Upaya yang dilakukan pihak rumah sakit PT.Arun Kota Lhokseumawe untuk meningkatkan responsivitas dalam melayani pasien BPJS sosial. Fokus penelitian pada pelayanan/malpraktek peserta BPJS Sosial.

1.4 Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan responsivitas rumah sakit PT.Arun Kota Lhokseumawe dalam melayani pasien BPJS sosial. Fokus penelitian pada pelayanan/malpraktek peserta BPJS Sosial.
  2. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan Upaya yang dilakukan pihak rumah sakit PT.Arun Kota Lhokseumawe untuk meningkatkan responsivitas dalam melayani pasien BPJS sosial. Fokus penelitian pada pelayanan/malpraktek peserta BPJS Sosial.

1.5 Manfaat Penelitian

1.5.1 Manfaat Praktis

  1. Hasil penelitian ini nantinya akan memberi sumbangan pemikiran bagi pihak rumah sakit PT.Arun Kota Lhokseumawe dalam melayani pasien BPJS sosial.
  2. Dapat menjadi acuan serta informasi kepada pihak rumah sakit PT.Arun Kota Lhokseumawe tentang responsivitas dalam melayani pasien BPJS sosial.

1.5.2 Manfaat Teoritis

  1. Dapat menjadi masukan dalam bidang pendidikan untuk dapat memahami teori pelayanan publik.
  2. Dapat memberikan pemahaman dan referensi serta literature untuk penelitian selanjutnya.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Penelitian Terdahulu

     Hasil penelitian terdahulu yang memiliki keterkaitan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Marzuki (2013) dengan judul penelitian “Dampak Responsivitas Keuchik Dalam Pelayanan Publik (Studi Pada Gampong Baloy Kec. Blang Mangat Kota Lhokseumawe)”.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak responsibilitas Keuchik terhadap tugas dan kewajibannya dalam pelayanan yang diberikan untuk Gampong Baloy Kec.Blang Mangat dirasakan oleh masyarakat masih kurang maksimal tidak seperti yang diharapkan masyarakat setempat. Keuchik kurang menjaga tentang kelestarian adat istiadat di Gampong yang seharusnya mengembangkan para generasi sekarang. Hal ini dikarenakan perhatian Keuchik masih kurang terhadap tugas dan kewajibannya dalam melayani masyarakat, dan membangun perekonomian masyarakat.

        Persamaan penelitian Marzuki dengan penulis adalah dimana penelitian ini sama-sama meneliti tentang Responsivitas dengan menggunakan metode pendekatan kualitatif. Letak perbedaannya penelitian Marzuki memfokuskan pada Dampak Responsivitas Keuchik Dalam Pelayanan Publik (Studi Pada Gampong Baloy Kec.Blang Mangat Kota Lhokseumawe) sedangkan penelitian penulis memfokuskan Responsivitas Pelayanan Kesehatan Bagi Peserta BPJS Sosial (Studi di Rumah Sakit PT. Arun Kota Lhokseumawe).Penelitian yang sama juga di lakukan oleh Maiviza (2016) dengan judul “Kualitas Pelayanan BPJS Dalam Aspek Penyediaan Obat (Studi Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia Kab. Aceh Utara)”.

        Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan BPJS Dalam Aspek Penyediaan Obat Di Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia Kab. Aceh Utara, pada standar pelayanan pemberian obat selama ini dilakukan belum sesuai dengan standar formularium nasional, dalam memberikan obat kepada pasien pengguna BPJS di Rumah Sakit Cut Meutia diberikan wewenang kepada kepala farmasi di rumah sakit yang dilayani oleh petugas apotik, dalam prosedur pemberian obat kepada pasien berdasarkan resep yang diberikan dokter dan diperiksa kembali oleh petugas, dalam memberikan pelayanan kepada pasien pengambilan obat untuk obat diracik terlebih dahulu membutuhkan watu 60 menit sedangkan untuk obat tidak perlu racikan hanya membutuhkan waktu 30 menit. Namun pelayanan yang diberikan kepada masyarakat belum maksimal untuk pengguna kartu BPJS karena masyarakat harus mengatri berjam-jam untuk mendapatkannya.

         Persamaan penelitian Maiviza dengan penulis adalah dimana penelitian ini sama-sama meneliti tentang konsep pelayanandengan menggunakan metode pendekatan kualitatif.Letak perbedaannya penelitian Maiviza (2016) dengan judul “Kualitas Pelayanan BPJS Dalam Aspek Penyediaan Obat (Studi Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia Kab.Aceh Utara) sedangkan penelitian ini memfokuskan pada Responsivitas Pelayanan Kesehatan Bagi Peserta BPJS Sosial (Studi di Rumah Sakit PT. Arun Kota Lhokseumawe).

1.2 Landasan Teori

2.2.1 Pelayanan

2.2.1.1 Konsep dan Pengertian Pelayanan

          Pelayanan publik menurut Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 pasal 1 ayat (1) bahwa pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai peraturan perundang-undangan dan setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik.

         Sementara menurut Dwiyanto (2005:141), pelayanan publik dapat didefinisikan sebagai serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh birokrasi publik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.Pelayanan publik yang diberikan kepada masyarakat harus sesuai dengan standar pelayanan, karena masyarakat berhak mendapatkan pelayanan dari pemerintah secara prima atau pelayanan yang berkualitas.

         Menurut Mahmudi (2010:223), pelayanan publik adalah segala kegiatan yang dilaksanakan oleh penyelenggara pelayanan publik sebagai upaya pemenuhan kebutuhan publik dan pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam hal ini, yang dimaksud penyelengara pelayanan publik adalah instansi pemerintah yang meliputi:

  1. Satuan kerja/satuan organisasi Kementrian
  2. Departemen
  3. Lembaga Pemerintah Non Pemerintah
  4. Kesekretariatan Lembaga Tertinggi dan Tinggi Negara, misalnya: Sekretariat Dewan (Setwan), Sekretaris Negara (Setneg), dan sebagainya.
  5. Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
  6. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)
  7. Badan Hukum Milik Negara (BHMN)
  8. Instansi Pemerintah lainnya, baik Pusat maupun Daerah termasuk dinas-dinas dan badan-badan.

      Berdasarkan paparan tersebut, dapat penulis simpulkan bahwa pelayanan publik adalah kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dalam memenuhi kewajibannya yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat, karena masyarakat berhak mendapatkan pelayanan dari pemerintah secara prima atau pelayanan yang berkualitas.

2.2.1.2 Prinsip-Prinsip Pelayanan

        Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur  Negara  (MENPAN) Nomor 63 tahun 2003 disebutkan bahwa penyelenggaraan pelayanan publik harus memenuhi beberapa prinsip sebagai berikut:

  1. Kesederhanaan, yaitu prosedur pelayanan publik tidak berbelit-belit, mudah dipahami dan mudah dilaksanakan.
  2. Kejelasan yang terdiri dari persyaratan teknis dan administratif pelayanan publik, unit kerja /pejabat yang berwenang dan bertanggungjawab dalammemberikan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan /sengketa dalam pelaksanaan pelayanan publik serta rincian biaya pelayanan publik dan tata cara pembayaran.
  3. Kepastian Waktu, yaitu pelaksanaan pelayanan publik dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan.
  4. Akurasi dan Keamanan, yaitu produk pelayanan publik diterima dengan benar, tepat dan sah.Proses dan produk pelayanan publik memberikan rasa aman dan kepastian hukum.

    Menurut Dwiyanto (2005:98), penyelenggaraan pelayanan publik harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Transparansi, yaitu pemberian pelayanan harus bersifat terbuka, mudah dan dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan dan disediakan secara memadai serta mudah dimengerti.
  2. Akuntabilitas, yaitu pelayanan publik harus dapat dipertanggung jawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
  3. Kondisional, yaitu pemberian pelayanan publik harus sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima pelayanan dengan tetap berpegang pada prinsip efisiensi dan efektivitas.
  4. Partisipatif, yaitu mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik dengan memperhatikan aspirasi, kebutuhan dan harapan masyarakat.
  5. Tidak diskriminatif, yaitu pemberian pelayanan publik tidak boleh bersifat diskriminatif, dalam artian tidak membedakan suku, ras, agama, golongan, gender, status sosial dan ekonomi.
  6. Kesimbangan hak dan kewajiban, yaitu pemberi dan penerima pelayanan publik harus memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak.

       Menurut Mahmudi (2010:228), prinsip-prinsip dalam penyelenggaraan pelayanan publik yaitu:

  1. Tanggung Jawab
  2. Kelengkapan Sarana dan Prasarana
  3. Kemudahan Akses
  4. Kedisiplinan, Kesopanan dan Keramahan Kenyamanan

          Kesimpulan yang diperoleh berdasarkan paparan diatas yaitu sederhana, jelas, pasti, akurat, aman dan bertanggung jawab dalam penyelenggaraannya pelayanan publik sangat diperlukan.Prinsip-prinsip tersebut sangat berpengaruh terhadap kulitas pelayanan yang diberikan oleh aparatur kepada masyarakat.

2.2.1.3 Standar Pelayanan Prima

        Setiap penyelenggaraan pelayanan publik harus memiliki standar pelayanan dan dipubliskan sebagai jaminan adanya kepastian bagi penerima pelayanan. Standar pelayanan merupakan ukuran yang dilakukan dalam penyelenggaraan pelayanan publik yang wajib ditaati oleh pemberi dan atau penerima pelayanan.

          Menurut Keputusan MENPAN Nomor 63 Tahun 2004 Tentang Azas dan Hakikat Pelayanan Publik. Standar pelayanan sekurang-kurangnya meliputi :

  1. Prosedur Pelayanan

     Prosedur pelayanan yang dilakukan bagi pemberi dan penerima pelayanan termasuk pengaduan.

    2. Waktu penyelesaian

       Waktu penyelesaian yang ditetapkan sejak saat pengajuan permohonan sampai dengan penyelesaian pelayanan termasuk pengaduan.

    3. Biaya pelayanan

   Biaya/tariff pelayanan termasuk rinciannya yang ditetapkan dalam proses pemberian pelayanan.

   4. Produk pelayanan

            Hasil pelayanan yang akan diterima sesuai dengan ketentuan yang telah di tetapkan.

  5. Sarana dan Prasarana

    Penyediaan sarana dan prasarana pelayanan yang memadai oleh penyelenggaraan pelayanan publik.

  6. Kompetensi petugas pemberi pelayanan

       Kompetensi petugas pemberi pelayanan harus ditetapkan dengan tepat berdasarkan pengetahuan, keterampilan, sikap,dan perilaku yang dibutuhkan. (Ratminto, 2005:23).

         Pada dasarnya azas dan hakikat pelayanan publik merupakan kewajiban dalam melayani masyarakat dengan efektif dan efesien, tanggungjawab, terbuka, tidak berbelit-belit baik sehingga masyarakat dengan mudah dapat kembali ke instansi atau pihak pemberi pelayanan tersebut.

2.2.2 Konsep Responsivitas

2.2.2.1 Pengertian Responsivitas

    Responsivitas atau daya tanggap adalah kemampuan organisasi untuk mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, menyusun prioritas kebutuhan, dan mengembangkannya kedalam berbagai program pelayanan. Responsivitas mengukur daya tanggap organisasi terhadap harapan, keinginan dan aspirasi, serta tuntutan warga pengguna layanan. ( Agus Dwiyanto,2006 : 148 ).

         Responsivitas menurut Levin ( 2003: 188 ) yaitu daya tanggap penyedia layanan terhadap harapan, keinginan, aspirasi, maupun tuntutan pengguna layanan. Sedangkan menurut Zeithaml, Parasuraman & Berrry ( 2007 : 26) Responsivitas adalah kerelaan untuk menolong pengguna layanan dan menyelenggaraan pelayanan secara ikhlas.

    Responsivitas adalah kemampuan provider untuk mengenali kebutuhan masyarakat, menyusun agenda dan prioritas pelayanan, serta mengembangkan program-program pelayanan sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Secara singkat dapat dikatakan bahwa responsivitas ini mengukur daya tanggap provider terhadap harapan, keinginan dan aspirasi serta tuntutan customers. (Ratminto & Atik Septi Winarsih, 2005 : 180-181 ). Responsivitas sebagai salah satu indikator pelayanan berkaitan dengandaya tanggap aparatur terhadap kebutuhan masyarakat yang membutuhkan pelayanan sebagaimana diatur didalam perundang-undangan.

    Sementara itu,Siagian ( 2000 ) dalam pembahaannya mengenai teori pengembangan organisasi mengindikasikan bahwa responsivitas menyangkut kemampuan aparatur dalam menghadapi dan mengantisipasi aspirasi baru, perkembangan baru, tuntutan baru, dan pengetahuan baru. Birokrasi harus merespon secara cepat agar tidak tertinggal dalam menjalankan tugas dan fungsinya. ( YogiSuprayogi Sugiandi, 2011 : 124 ).

      Menurut Hassel Nogi S. Tangkilisan (2005 : 177) Responsivitas adalah kemampuan birokrasi untuk mengenali kebutuhan masyarakat, menyusun agenda dan prioritas pelayanan, serta mengembangkan program-program pelayanan sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Secara singkat responsivitas disini menunjuk pada keselarasan antara program dankegiatan pelayanan dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat.

       Dari beberapa pendapat mengenai responsivitas dapat disimpukan bahwa responsivitas merupakan bentuk tanggapan dan kerelaan penyedia layanan dalam membantu memberikan pertolongan kepada masyarakat dalam bentuk pelayanan. Birokrasi dalam mendekatkan layanan terhadap masyarakat perlu upaya untuk mengenali apa saja kebutuhan masyarakat. Kemudian pengenalan kebutuhan masyarakat tersebut menjadi agenda penting bagi pemerintah untuk mengembangkan pemberian layanan, sehingga masyarakat dapat merasa puas.

2.2.2.2 Indikator Responsivitas

        Menurut Zietham, dkk dalam Hardiyansyah (2011 : 46) responsivitas dijabarkan menjadi beberapa indikator, seperti meliputi :

  1. Merespon setiap pelanggan / pemohon yang ingin mendapatkan pelayanan. Indikator ini mencakup sikap dan komunikasi yang baik dari para penyedia layanan.
  2. Petugas / aparatur melakukan pelayanan dengan cepat. Pelayanan dengan cepat ini berkaitan dengan kesiapan dan ketulusan penyedia layanan dalam menjawab pertanyaan dan memenuhi permintaan pelanggan.
  3. Petugas / aparatur melakukan pelayanan dengan tepat, yaitu tidak terjadi kesalahan dalam melayani , artinya pelayanan yang diberikan sesuai dengan keinginan masyarakat sehingga tidakada yang merasa dirugikan atas pelayanan yang didapatnya.
  4. Petugas / aparatur melakukan pelayanan dengan cermat. Berarti penyedian layanan harus selalu fokus dan sungguh-sungguh dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
  5. Petugas / aparatur melakukan pelayanan dengan waktu yang tepat. Waktu yang tepat berarti pelaksanaan pelayanan kepada masyarakat dapat diselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan sehingga dapat memberikan kepastian pelayanan kepada masyarakat.
  6. Semua keluhan pelanggan direspon oleh petugas. Bahwa setiap penyedia layanan harus menyediakan akses kepada masyarakat untuk dapat menyampaikan keluhannya dan dapat dicarikan solusi yang terbaik.

2.2.2.3 Responsivitas Pelayanan Publik

    Responsivitas pelayanan publik sangat diperlukan, karna sebagai bukti kemampuan organisasi publik untuk menyediakan apa yang menjadi tuntutan seluruh rakyat disuatu Negara. Dalam hal ini responsivitas merupakan cara yang efisiensi dalam mengatur urusan baik ditingkat pusat maupun tingkat daerah atau lokal dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, karenanya baik pemerintah pusat maupun daerah dikatakan responsive terhadap kebutuhan masyarakat apabila kebutuhan masyarakat tadi diidentifikasi oleh para pembuat kebijakan dengan pengetahuan yang dimiliki, secara tepat dan dapat menjawab apa yang menjadi kepentingan publik (Widodo, 2007 : 272).

        Menurut Agus Dwiyanto (2005 : 149-154) Untuk meningkatkan responsivitas organisasi terhadap kebutuhan pelanggan, terdapat dua strategi yang dapat digunakan, yaitu:

  1. Menerapkan Strategi KYC (know your customers)

      Merupakan sebuah prinsip kehati-hatian, yang dapat digunakan untuk mengenali kebutuhan dan kepentingan pelanggan sebelum memutuskan jenis pelayanan yang akan diberikan. Namun dalam konteks penyelenggaraan pelayanan publik, prinsip KYC dapat digunakan oleh birokrasi publik untuk mengenali kebutuhan dan kepentingan pelanggan sebelum memutuskan jenis pelayanan yang akan diberikan. Untuk mengetahui keinginan, kebutuhan dan kepentingan penggunaatau pelanggan, birokrasi pelayanan publik harus mendekatkan diridengan pelanggan. Tidak ada alasan bagi birokrasi pemerintah untuk tidak berbuat seperti itu ( Osborne dan Gaebler, 2001 ). Beberapa metode yangdapat digunakan untuk mengetahui keinginan dan kebutuhan parapelanggan adalah survai, wawancara dan observasi.

       2. Menerapkan model Citizen’s Charter

     Agar birokrasi lebih responsif terhadap pelanggan atau pengguna layanan, Osborne dan plastrik (2001) mengenalkan ide citizen’scharter (kontrak pelayanan), yaitu standar pelayanan yang ditetapkan berdasarkan aspirasi dari pelanggan, dan birokrasi berjanji untuk memenuhinya. Citizen’s charter adalah suatu pendekatan dalam menyelenggarakan layanan publik yang menempatkan pengguna layanan atau pelanggan sebagai pusat perhatian. Citizen’s charter pada dasarnya merupakan kontrak social antara birokrasi dan pelanggan untuk menjamin kualitas pelayanan publik. Melalui kontrak pelayanan, hak dan kewajiban pengguna maupun penyedia layanan disepakati, didefinisikan, dan diatur secara jelas.Prosedur, biaya, dan waktu pelayanan juga harus didefinisikan dan disepakati bersama, tentunya dengan mengkaji peraturan yang ada secara kritis.

2.2.2.4 Prinsip dan Hakekat Responsivitas Pelayanan Publik

       Potter dalam Acmad Nurmandi 2010 : 49-50 menyampaikan lima prinsip tentang Hakekat Responsivitas di dalam pelayanan publik yaitu :

      1 . Access : warga negara berhak mengetahui apa kriteria-ktriteria perwakilan                 politiknya yang harus diterapkan dan alasannya.

  1. Choice : sistem quasi market yang diterapkan di dalam pelayanan pendidikan dan kesehatan akan memperluaskan “choise” pada orang tuadan pasien. Potter juga mengusulkan sistem tambahan seperti sistem complain yang mudah, pengawasan independent pihak eksternal, publikasi indikator kinerja yang diketahui publik sejauh mana unit pelayanan memenuhi kebutuhan pengguna perlindungan klien.
  2. Information : pengguna pelayanan memerlukan informasi tentang : Eksistensi pelayanan, Tujuan pelayanan, Standar atau kualitas pelayanan yang ditawarkan, Hak untuk memanfaatkan pelayanan dan complain jika memuaskan. Cara pelayanan dan pengambilan keputusan diorganisir, keputusan-keputusan khusus yang diambil, alasan-alasan membuat keputusan tersebut.
  3. Redres, keberadaan publisitas dan menanggapi complain
  4. Respensentation, konsumen seharusnya terlibat di dalam semua tahapandalam pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingannya.

2.2.3   Pelayanan Kesehatan

2.2.3.1 Pengertian Pelayanan Kesehatan

     Kesehatan merupan salah satu faktor penunjang keberlangsungan hidup manusia. Namun seringkali pelayanan kesehatan yang diterima masyarakat tidak sesuai dengan yang diharapkan.

      Pelayanan Kesehatan menurut Levey dan Loomba yang dikutif oleh Azwar adalah setiap upaya yang diselenggarakan secara individu atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara, meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok, dan masyarakat.

     Pelayanan kesehatan adalah bagian dari pelayanan kesehatan yang tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit dengan sasaran utamanya adalah masyarakat ( Dedi Alamsyah, SKM, 2011: 21-22 ).

       Sedangkan menurut Benyamin Lumenta, (2011 : 35) pelayanan kesehatan adalah segala upaya dan kegiatan pencegahan dan pengobatan penyakit, semua upaya dan kegiatan peningkatan pemulihan kesehatan yang dilaksanakan oleh suatu lembaga yang ditunjukkan oleh masyarakat.

       Pelayanan kesehatan menurut Pusdokkes Polri (2006) pelayanan kesehatan adalah upaya, pekerjaan atau kegiatan kesehatan yang ditunjukkan untuk mencapai derajat kesehatan perorangan/masyarakat yang optimal/setinggi-tingginya. Dan Pelayanan kesehatan menurut DEPKES RI (2009) adalah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan ataupun masyarakat.

      Menurut Azrul Azwar (dalam buku Bustami MS, MQIH, 2011 : 16) Mutu Pelayanan Kesehatan adalah derajat dipenuhinya kebutuhan masyarakat atau perorangan terhadap asuhan kesehatan yang sesuai dengan standar profesi yang baik dengan pemanfaatan sumber daya secara wajar, efisien, efektif dalam keterbatasan secara aman dan memuaskan pelanggan sesuai dengan norma dan etika yang baik.

         Menurut Kemenkes RI (dalam buku A.A. Gde Muninjaya, 2011 : 19) Memberikan pengertian tentang mutu pelayanan kesehatan yang meliputi kinerja yang menunjukan tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan, tidak saja yang dapat menimbulkan kepuasan bagi pasien sesuai dengan kepuasan rata-rata penduduk tetapi juga sesuai dengan standar dan kode etik profesi yang telah ditetapkan.

2.2.3.2 Bentuk dan Jenis Pelayanan Kesehatan

    Bentuk dan jenis pelayanan kesehatan banyak bentuknya, namun jika disederhanakan secara umum dapat dibedakan atas dua, yaitu:

  1. Pelayanan Kedokteran

        Pelayanan kesehatan termasuk dalam kelompok pelayanan kedokteran (medical services) ditandai dengan cara pengorganisasian yang dapat bersifat sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi. Tujuan utamanya adalah menyembuhkan penyakit dan memulihkan kesehatan, serta sasarannya terutama untuk perseorangan dan keluarga.

  1. Pelayanan Kesehatan Masyarakat

    Pelayanan kesehatan yang termasuk dalam kelompok pelayanan kesehatan masyarakat (publik health services) ditandai dengan cara pengorganisasian yang umumnya secara bersama-sama dalam satu organisasi, tujuan utamanya untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit, serta sasaran utamanya untuk kelompok dan masyarakat. (Hodgetts dan casio dalam Azwar, 2011 : 36).

2.2.3.3 Faktor yang Mempengaruhi Pelayanan Kesehatan

       Menurut WHO (2000) ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengguanaan pelayanan kesehatan, yaitu:

  1. Pemikiran dan Perasaan (Thoughts and feeling)

         Berupa pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan, dan penilaian-penilaian

seseorang terhadap obyek, dalam hal ini kesehatan.

  1. Orang penting sebagai referensi (personal referensi)

       Seseorang lebih banyak dipengaruhi oleh seseorang yang dianggap penting atau berpengaruh terhadap dorongan penggunaan pelayanan kesehatan.

  1. Sumber Daya (resources)

      Mencakup fasilitas, uang, waktu, tenaga, dan sebagainya. Sumberdaya juga berpengaruh terhadap prilaku seseorang atau kelompok masyarakat dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan. Pengaruh tersebutdapat bersifat positif dan negative.

  1. Kebudayaan (culture)

        Berupa norma-norma yang ada di masyarakat dalam kaitannya dengan konsep sehat sakit.

        Menurut Gde Muninja (2004: 239) kepuasan pengguna jasa pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor :

      1.Pemahaman pengguna jasa tentang jenis pelayanan yang akan diterimanya.

  1. Empati (sikap peduli) yang ditunjukkan oleh petugas kesehatan.
  2. Biaya (cost).
  3. Penampilan fisik (kerapian) petugas, kondisi kebersihan dan kenyamanan ruangan (tangibility).
  4. Jaminan keamanan yang ditunjukkan oleh petugas kesehatan (assurance)
  5. Keandalan dan keterampilan (reability) petugas kesehatan dalam memberikan perawatan.
  6. Kecepatan petugas memberikan tanggapan terhadap keluhan pasien (responsiveness).

2.2.3.4 Dimensi Mutu Pelayanan Kesehatan

            Mutu merupakan fenomena yang komprehensif dan dan multi facet. Menurut Lori Di Prete Brown dalam bukunya Quality Assurance of Health Carein Developing Countries yang dikutip oleh Djoko Wijoyo (2008), kegiatan menjaga mutu dapat menyangkut dimensi berikut:

  1. Kompetensi Teknis

          Kompetensi teknis terkait dengan keterampilan, kemampuan, dan penampilan petugas, manajer dan staf pendukung. Kompetensi teknis berhubungan dengan bagaimana cara petugas mengikuti standar pelayanan yang telah ditetapkan dalam hal dapat dipertanggungjawabkan atau diandalkan (dependability), ketepatan (accuracy), ketahanan uji (reliability), dan konsistensi (consistency).

  1. Akses terhadap pelayanan

      Pelayanan kesehatan tidak terhalang oleh keadaan geografis, sosial, ekonomi, budaya, organisasi, atau hambatan bahasa.

  1. Efektivitas

Kualitas pelayanan kesehatan tergantung dari efektivitas yang menyangkut norma pelayanan kesehatan dan petunjuk klinis sesuai standar yang ada.

  1. Hubungan antar manusia

Hubungan antar manusia yang baik menanamkan kepercayaan dan kredibilitas dengan cara menghargai, menjaga rahasia, menghormati, responsif, dan memberikan perhatian. Hubungan antar manusia yang kurang baik akan mengurangi efektivitas dari kompetensi teknis pelayanan kesehatan.

  1. Efisiensi

       Pelayanan yang efisien akan memberikan perhatian yang optimal dari pada memaksimalkan pelayanan yang terbaik dengan sumber daya yang dimiliki. Pelayanan kurang baik karena norma yang tidak efektif atau pelayanan yang salah harus dikurangi atau dihilangkan. Dengan cara ini kualitas dapat ditingkatkan sambil menekan biaya.

  1. Kelangsungan pelayanan

      Klien akan menerima pelayanan yang lengkap yang dibutuhkan (termasuk rujukan) tanpa interupsi, berhenti atau mengulangi prosedur diagnose dan terapi yang tidak perlu. Klien harus mempunyai akses terhadap pelayanan rutin dan preventif yang diberikan oleh petugas kesehatan yang mengetahui riwayat penyakitnya. Klien juga mempunyai akses rujukan untuk pelayanan yang spesialistis dan menyelesaikan pelayanan lanjutan yang diperlukan.

  1. Keamanan

      Mengurangi resiko cedera, infeksi, efek samping, atau bahaya lain yang berkaitan dengan pelayanan.

     8.Kenyamanan dan kenikmatan

      Dalam dimensi kenyamanan dan kenikmatan berkaitan dengan pelayanan kesehatan yang tidak berhubungan langsung dengan efektivitas klinis, tetapi dapat mengurangi kepuasan pasien dan bersedianya untuk kembali ke fasilitas kesehatan untuk memperoleh pelayanan berikutnya.

2.2.4 Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS)

2.2.4.1 Konsep BPJS

            Kebijakan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 Tentang Sistem Jaminan Nasional, dinyatakan bahwa BPJS merupakan lembaga yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial di Indonesia.

         Berdasarkan kebijakan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tersebut maka BPJS akan menggantikan sejumlah lembaga jaminan sosial yang ada di, yaitu lembaga asuransi jaminan kesehatan PT. Askes Indonesia menjadi BPJS Kesehatan dan lembaga jaminan sosial ketenagakerjaan PT. Jamsostek menjadi BPJS Ketenagakerjaan. Implementasi kebijakan transformasi PT. Askes dan PT. Jamsostek menjadi BPJS dilakukan secara bertahap.Pada awal 2014, PT. Askes Indonesia menjadi BPJS Kesehatan, selanjutnya pada 2015 PT. Jamsostek menjadi BPJS Ketenagakerjaan. (Sumber : Buku Petunjuk Pelaksanaan BPJS Tahun 2014:43).

          Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 Tentang BPJS menyebutkan bahwa BPJS kesehatan berfungsi menyelenggarakan program jaminan kesehatan dan diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi dengan tujuan menjamin agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dan kesehatan.

Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana tersebut diatas maka BPJS bertugas untuk melakukan dan/atau menerima pendaftaran peserta, memungut dan mengumpulkan iuran dari peserta dan pemberi kerja, menerima bantuan iuran dari pemerintah, mengelola dana jaminan sosial untuk kepentingan peserta, mengumpulkan dan mengelola data peserta program jaminan sosial, membayarkan manfaat atau membiayai pelayanan kesehatan sesuai dengan ketentuan program jaminan sosial dan memberikan informasi mengenai penyelenggaraan program jaminan sosial kepada peserta dan masyarakat.

      Dengan demikian, tugas BPJS meliputi : pendaftaran kepesertaan dan pengelolaan data kepesertaan, pemungutan, pengumpulan iuaran termasuk menerima bantuan iuran dari pemerintah, pengelolaan dana sosial, pembayaran manfaat atau membiayai pelayanan kesehatan dan tugas penyampaian informasi dalam rangka sosialisasi program jaminan sosial dan keterbukaan informasi.

       Jaminan Kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya di bayarkan oleh pemerintah. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial ( BPJS ) Kesehatan adalah Badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan kesehatan.

2.2.4.2 Peserta BPJS Kesehatan

          Kelompok Peserta Jaminan Kesehatan, yaitu :

  1. Penerima Bantuan Iuaran ( PBI ) Jaminan Kesehatan : fakir miskin dan orang tidak mampu
  2. Bukan Penerima Bantuan Iuran ( PBI ) Jaminan Kesehatan yaitu : Pekerja Penerima Upah,Pegawai Negeri Sipil, anggota TNI, anggota Polri, Pejabat Negara, Pegawai pemerintah non pegawai negeri, pegawai swasta dan pekerja lainnya yang menerima upah.
  3. Pekerja Bukan Penerima Upah ( PBPU ), yaitu : Pekerja di luar hubungan kerja atau pekerja mandiri, Pekerja lain yang memenuhi kriteria pekerja bukan penerima upah, Bukan Pekerja ( BP ), Investor, pemberi kerja, penerima pensiunan, veteran, perintis kemerdekaaan, dan bukan pekerja yang mampu membayar iuran.

2.2.4.3 Manfaat Jaminan BPJS Kesehatan

  1. Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, yaitu pelayanan kesehatan non speasialistik : Administrasi Pelayanan, Pelayanan Promotif dan preventif, Pemeriksaan, pengobatan, konsultasi medis, Tindakan medis nonspesialistik, baik operatif maupun non-operatif, Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai, Transfusi darah sesuia kebutuhan medis, Pemeriksaan penunjang diagnose laboratorium tingkat pertama, Rawat inap tingkat pertama sesuai indikasi.
  2. Pelayanan kesehatan rujukan tingkat lanjutan, yaitu pelayanan kesehatan :
  3. Rawat Jalan, meliputi: Administrasi pelayanan, Pemeriksaan, Pengobatan, dan konsultasi speasialistik oleh dokter spesialis dan subspesialis, Tindakan medis spesialistik, baik bedah maupun nonbedah sesuai dengan indikasi medis, Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai, Pelayanan penunjang diagnostic lanjutan sesuai dengan indikasimedis, Rehabilitasi medis, Pelayanan darah, Pelayanan dokter forensic, Pelayanan jenazah di fasilitas kesehatan.
  4. Rawat Inap yang meliputi : Perawatan inap nonintensif, Perawatan inap di ruang intensif, Pelayanan kesehatan lain yang ditetapkan oleh mentri.

2.2.4.4 Hak dan Kewajiban Peserta Jaminan Kesehatan

  1. Hak Peserta meliputi : Mendapatkan kartu peserta sebagai bukti sah untuk memperoleh pelayanan kesehatan, memperoleh manfaat dan informasi tentang hak dan kewajiban serta prosedur pelayanan kesehatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, mendapatkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan, dan menyampaikan keluhan/pengaduan, kritik dan saran secara lisanatau tertulis ke Kantor BPJS Kesehatan.
  2. Kewajiban Peserta, meliputi : Mendaftarkan dirinya sebagai peserta serta membayar iuran yang besarannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku, Melaporkan perubahan data peserta, baik karena pernikahan, perceraian, kematian, kelahiran, pindah alamat atau pindah fasilitas kesehatan tingkat I, menjaga Kartu Peserta agar tidak rusak, hilang atau dimanfaatkan oleh orang yang tidak berhak, mentaati semua ketentuan dan tata cara pelayanan kesehatan.

2.2.5    Rumah Sakit

2.2.5.1 Pengertian Rumah Sakit

       Hospital (rumah sakit) berasal dari kata Latin, yaitu hospes (tuan rumah), dan hospitality (keramahan).Rumah sakit adalah pusat dimana pelayanan kesehatan masyarakat, pendidikan serta penelitian kedoktoran diselenggarakan.

      Menurut WHO (World Health Organization), Rumah Sakit adalah suatu bagian dari organisasi sosial dan kesehatan dengan fungsi menyediakan pelayanan paripurna (komprehensif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pencegahan penyakit (prevensif) kepada masyarakat. Rumah sakit juga merupakan pusat pelatihan bagi tenaga kesehatan dan tempat penelitian medik.

          Menurut Adikoesoesmo, Suparto (2003) dalam buku (Dedy Alamsyah, 2011:100) Rumah sakit adalah bagian integral dari keseluruhan system pelayanan kesehatan yang dikembangkan melalui rencana pembangunan kesehatan. Rumah Sakit juga merupakan tempat dimana orang sakit mencari dan menerima pelayanan kedokteran serta tempat dimana pendidikan klinik untuk mahasiswa kedokteran, perawat dan berbagai tenaga profesi kesehatan masyarakat lainnya diselelenggarakan.

            Berdasarkan beberapa definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa Rumah Sakit adalah suatu organisasi yang didalamnya tersedia tenaga medis profesional yang memberikan pelayanan kesehatan kepada orang sakit serta sebagai sarana pendidikan dan penelitian.

2.2.5.2 Jenis Rumah Sakit

      Dalam Peraturan Kementerian Kesehatan Nomor 56 Tahun 2014 Tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit, berdasarkan jenis pelayanannya rumah sakit dapat digolongkan menjadi :

  1. Rumah Sakit Umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit.
  2. Rumah Sakit Khusus adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan utama pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ, jenis penyakit, atau kekhususan lainnya.

            Berdasarkan pengelolaannya, rumah sakit dibagi atas :

  1. Rumah Sakit Publik

        Rumah Sakit Publik adalah rumah sakit yang dapat dikelola oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan badan hukum yang diselenggarakan berdasarkan pengelolaan Badan Layanan Umum atau Badan Layanan Umum Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

  1. Rumah Sakit Privat

        Rumah Sakit Privat adalah rumah sakit yang dikelola oleh badan hukum dengan tujuan profit yang berbentuk perseroan terbatas atau persero.

       Jika ditinjau dari kemampuan yang dimiliki, Rumah Sakit di Indonesia dibedakan atas lima macam, yakni:

  1. Rumah Sakit Kelas A

         Rumah Sakit kelas A adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan subspesialis luas. Oleh pemerintah, Rumah Sakitkelas A ini telah ditetapkan sebagai tempat pelayanan rujukan tertinggi atau disebut pula sebagai Rumah Sakit Pusat.

  1. Rumah Sakit Kelas B

           Rumah Sakit kelas B adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis luas dan subspesialis terbatas. Direncanakan rumah sakit kelas B didirikan di setiap Provinsi yang menampung pelayanan rujukan.

  1. Rumah Sakit Kelas C

       Rumah Sakit kelas C adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis terbatas. Pada saat ini ada empat macam pelayanan spesialis ini yang disediakan yakni pelayanan penyakit dalam, pelayanan bedah, pelayanan kesehatan anak serta pelayanan kebidanan dan kandungan. Rumah sakit kelas C ini menampung pelayanan rujukan dari PUSKESMAS.

  1. Rumah Sakit Kelas D

          Rumah Sakit kelas D adalah rumah sakit yang bersifat transisi karena pada satu saat akan ditingkatkan menjadi rumah sakit kelas C. Pada saat ini kemampuan rumah sakit kelas D hanya memberikan pelayanan kedokteran umum dan kedokteran gigi.

  1. Rumah Sakit Kelas E

        Rumah Sakit kelas E adalah rumah sakit khusus yang menyelenggarakan satu macam pelayanan kedokteran. Misalnya rumah sakit jiwa, rumah sakit kusta, rumah sakit kanker dan lain sebagainya. (Azrul Azwar, 2006 : 89-90).

2.2.5.3 Fungsi Rumah Sakit

     Dalam Peraturan Kementerian Kesehatan Nomor 56 Tahun 2014 Tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit, rumah sakit memiliki beberapa fungsi, yaitu:

  1. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan strandar pelayanan rumah sakit.
  2. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis.
  3. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan.
  4. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.

2.2.5.4 Indikator Mengukur Kinerja Rumah Sakit

        Indikator merupakan variabel ukuran atau tolak ukur yang dapat menunjukkan indikasi-indikasi terjadinnya perubahan tertentu. Untuk mengukur kinerja rumah sakit ada beberapa indikator, yaitu :

  1. Input, yang dapat mengukur pada bahan alat sistem prosedur atau orangyang memberikan pelayanan misalnya jumlah dokter, kelengkapan alat, prosedur tetap dan lain-lain.
  2. Proses, yang dapat mengukur perubahan pada saat pelayanan yang misalnya kecepatan pelayanan, pelayanan yang ramah dan lain-lain.
  3. Output, yang dapat menjadi tolok ukur pada hasil yang dicapai, misalnya jumlah yang dilayani, jumlah pasien yang dioperasi, kebersihan ruangan.
  4. Outcome, yang menjadi tolok ukur dan merupakan dampak dari hasil pelayanan sebagai misalnya keluhan pasien yang merasa tidak puas terhadap layanan dan lain-lain.
  5. Benefit, adalah tolok ukur dari keuntungan yang diperoleh pihak rumah sakit maupun penerima pelayanan atau pasien misalnya biaya pelayanan yang lebih murah, peningkatan pendapatan rumah sakit.

 

BAB III

METODE PENELITIAN

1.1 Lokasi Penelitian

         Lokasi penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit PT. Arun Kota Lhokseumawe, peneliti memilih melakukan penelitian di Rumah Sakit PT. Arun Kota Lhokseumawe karena rumah sakit ini merupakan salah satu tempat berlangsungnya pelayanan masyarakat disaat masyarakat membutuhkan jasa pihak rumah sakit (sakit) dan salah satu rumah sakit yang menerima pasien dari kalangan bawah dengan memberi izin jaminan bagi peserta BPJS sosial. Tahun 2016 terungkap ke publik bahwa rumah sakit PT.Arun Kota Lhokseumawe telah melakukan malpraktik terhadap pasien BPJS Sosial, kasus ini membuktikan rumah sakit tidak reponsivitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat khususnya bagi peserta BPJS Sosial.

1.2 Pendekatan Penelitian

     Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini pendekatan kualitatif. Penelitian yang menghasilkan data deskriptif mengenai kata-kata lisan maupun tertulis, dan tingkah laku yang dapat diamati dari orang-orang yang diteliti ( Bagong Suyanto, 2006:5). Pertimbangan pilihnya pendekatan kualitatif tersebut dikarenakan masalah yang akan diteliti masih bersifat kompleks, dinamis, dan bertujuan untuk memahami fenomena sosial serta tidak bermaksud generalisasi.

        Teknik penentuan informan yang peneliti gunakan adalah teknik purposive sampling, dimana peneliti memilih informan menurut kriteria tertentu yang telah ditetapkan.Kriteria ini harus sesuai dengan topik penelitian, mereka yang dipilih pun harus dianggap kredibel untuk menjawab masalah penelitian.

1.3 Informan Penelitian

          Peneliti mendapatkan sumber data yaitu dari informan, orang-orang diamati adalah orang yang akan memberikan data-data yang akurat untuk menunjang akan informasi untuk keberlanjutan skripsi. (Sugiyono, 2012:308). Informan yang diambil dalam penelitian ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Direktur Rumah Sakit PT.Arun Kota Lhokseumawe.
  2. Staf Rumah Sakit PT.Arun Kota Lhokseumawe.
  3. Kepala BPJS Sosial Cabang Rumah Sakit PT.Arun Kota Lhokseumawe.
  4. Staf BPJS Cabang Rumah Sakit PT.Arun Kota Lhokseumawe.
  5. Perawat/Dokter Kepala BPJS Cab. Rumah Sakit PT.Arun Kota Lhokseumawe.
  6. Peserta BPJS Sosial/ korban malpraktek Rumah Sakit PT.Arun Kota Lhokseumawe.

1.4 Sumber Data

       Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder, yaitu :

  1. Data primeryaitu data yang diperoleh dari lapangan dengan melakukan wawancara dan melalui observasi terhadap informan yang terkait dalam permasalahan di atas (Burhan Bungin, 2011: 132).
  2. Data sekunder adalah data yang di peroleh dari sumber kedua atau sumber sekunder dari data yang di perlukan seperti Undang-Undang, surat kabar, studi pustaka dari teori-teori yang relevan, laporan penelitian, jurnal, penelusuran informasi dari internet dan hasil-hasil penelitian terdahulu. (Burhan Bungin, 2011: 132).

1.5 Teknik Pengumpulan Data

   Untuk memperoleh validitasi data, maka penulis menggunakan teknik pengumpulan data antara lain :

  1. Observasi

Observasi dilakukan untuk melihat dan mengamati secara langsung keadaan dilapangan agar peneliti memperoleh gambaran yang lebih luas dan valid tentang permasalahan yang diteliti, (Mulyana, 2001:175). Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik.

  1. Wawancara

Teknik wawancara merupakan salah satu cara pengumpulan data dalam suatu penelitian yang dipergunakan untuk mendapatkan informasi (data) dari responden dengan cara bertanya langsung secara bertatap muka dan dapat juga dengan memanfaatkan sarana komunikasi lain, misalnya melalui telepon dan internet. (Bagong, 2006 : 69)

         Dalam penelitian ini, jenis wawancara atau interview yang peneliti gunakan adalah wawancara terstruktur (structured interview).Estenberg dalam Sugiyono (2010: 233) wawancara terstruktur (structured interview) digunakan sebagai teknik pengumpulan data bila peneliti telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Oleh karena itu, dalam melakukan wawancara pewawancara telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya pun telah disiapkan. Dengan wawancara terstruktur ini, setiap responden diberi pertanyaan yang sama dan pengumpul data mencatatnya.

           3. Dokumentasi

       Dokumentasi adalah salah satu metode pengumpulan data yang di gunakan dalam metodologi penelitian sosial. Pada intinya metode dokumentasi adalah metode yang di gunakan untuk menelusuri data historis. (Burhan Bungin, 2011: 154).

1.6 Teknik Analisis Data

          Dalam melakukan analisis data, penulis menggunakan model analisis kualitatif secara interaktif berdasarkan model yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman dalam Burhan (2003 : 70), yaitu melalui beberapa langkah, diantaranya:

  1. Reduksi Data

          Dalam penelitian kualitatif  dipahami bahwa data kualitatif perlu direduksi dan dipindahkan untukmembuatnya lebih mudah diakses, dipahami dan digambarkan dalam berbagai tema dan pola.Jadi reduksi data adalah lebih memfokuskan, menyederhanakan, mengabstrakkan dan memindahkan data mentah kebentuk yang lebih mudah dikelola, tugasnya reduksi data adalah membuat ringkasan, mengkode, menelusuri tema, membuat gugus, membuat bagian,penggolongan dan menulis memo.

  1. Penyajian Data

        Penyajian data adalah sebagai kumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan suatu tindakan atau menyajikan data dalam bentuk mudah dipahami (diringkas atau dirangkum dalam bagan).

  1. Menarik kesimpulan/ Verifikasi

        Setelah data disajikan yang juga dalam rangkaian analisis data maka proses selanjutnya adalah penarikan kesimpulan. Proses verifikasi dalam hal ini adalah tinjauan ulang terhadap catatan lapangan.

 

 

KEPUSTAKAAN 

  1. Buku-Buku

Alamsyah, Dedi. 2011,”Manajemen Pelayanan Kesehatan”, Pontianak:Nuha

          Medika

Bungin, Burhan. 2011, “ Metodologi Penelitian Kuantitatif ”. Indonesia: Kencana Prenada Media Group.

Dwiyanto, Agus. (2005). Mewujudkan Good Governance Melalui Pelayanan

Publik, Jakarta: Balai Pustaka

Mahmudi. (2010). Manajemen Kinerja Sektor Publik, Sekolah Tinggi Ilmu

Manajemen YKPN, Yogyakarta

Mulyana, Deddy. 2001,“Metodologi Penelitian Kualitatif Paradigma Baru Ilmu Komunikasi Ilmu Sosia lLainnya”. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Silalahi, Ulber. 2010, “Metode Penelitian Sosial”. Bandung: Refika Aditama.

Suyanto, Bagong dkk. (2006). Metode Penelitian Sosial, Jakarta: Kencana

Suyanto, Bagong. (2005). Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternative

Pendekatan. Jakarta: Prenada Media.

Soehartono, Irawan. 2008, “Metode Penelitian Sosial”. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sugiyono.2012, “Memahami Penelitian Kualitatif”. Bandung: Alfabeta.

  1. Penelitian atau Skripsi

Audina, Rista. 2016, “Proses Pelayanan Kesehatan Untuk Pasien Hidrossefalus.”

          Lhokseumawe: Fisip-Unimal.

Maiviza. 2016, “Kualitas Pelayanan BPJS Dalam Aspek Penyediaan Obat,” Lhokseumawe: Fisip-Unimal.

Marzuki. 2013, “Dampak Responsivitas Keuchik Dalam Pelayanan Publik,” Lhokseumawe: Fisip-Unimal.

  1. Jurnal

Kusumah, Nuralam Budi. “Responsivitas Pelayanan Publik Peserta Pasien BPJS Rumah Sakit Umum Labuang Baji Makassar”,  Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin, Makassar. Diakses 05 Maret 2017.

  1. Media Massa/Internet

 Http://Konsep Pelayanan Publik.wordpress.com, diakses 05 Maret 2017.

http://www. Pengertian dan Prinsip-Prinsip Pelayanan Publik.go.id, diakses 05 Maret 2017.

http:// Konsep, Indikator dan Hakekat Responsivitas. com, diakses 11 Maret 2017.

http:// Konsep Tentang BPJS.com, diakses 11 Maret 2017.

Modus Aceh.(2016), Gugatan Pihak Keluarga Terhadap Malpraktek Rumah Sakit PT.Arun Kota Lhokseumawe. http://www.modusaceh.co.id,diakses 12 Januari 2017)

 Serambi Indonesia.(2016), Malpraktek Rumah Sakit PT. Arun Kota Lhokseumawe. http://www.serambiindonesia.co.id,diakses 12 Januari 2017

  1. Dokumentasi

Undang-Undang Dasar 1945.

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik.

Undang-UndangNomor 24 Tahun 2011 Tentang BPJS

 Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur  Negara Nomor 63 Tahun 2003,Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Publik

 

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 129/MENKES/SK/II/

2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit

 

FENOMENA MEME DI SOSIAL MEDIA FACEBOOK

         

BAB I
PENDAHULUAN

          1. Latar Belakang

 

      Situs jejaring sosial merupakan sebuah web berbasis pelayanan yang memungkinkan penggunanya untuk membuat profil, melihat daftar pengguna yang tersedia, serta mengundang atau menerima teman untuk bergabung dalam situs tersebut. Tampilan dasar situs jejaring sosial ini menampilkan halaman profil pengguna, yang di dalamnya terdiri dari identitas diri dan foto pengguna. Kemunculan situs jejaring sosial ini diawali dari adanya inisiatif untuk menghubungkan orang-orang dari seluruh belahan dunia. Akhir – akhir ini banyak situs jejaring sosial bermunculan, seperti Friendster, My space, Twitter, Facebook dan lain sebagainya. Tapi pada saat ini, situs jejaring sosial yang paling popular adalah  Facebook,  menurut  situs  alexa.comFacebook  berada  pada posisi dua besar situs yang paling sering diakses, dan merupakan situs nomor satu yang paling sering diakses diantara situs – situs jejaring sosial lainnya.

     Facebook adalah sebuah layanan jejaring sosial dan situs web yang diluncurkan pada Februari 2004 yang dioperasikan dan dimiliki oleh Facebook.   Menurut   (statistic.com),   pada   Januari   2011,   Facebook memiliki lebih dari 500 juta pengguna aktif. 50% pengguna aktif masuk ke  Facebook  dalam setiap  harinya,  dan  rata-rata  pengguna  memiliki seratus lima puluh teman. Pengguna dapat membuat profil pribadi, menambahkan pengguna lain sebagai teman dan bertukar pesan, termasuk pemberitahuan otomatis ketika mereka memperbarui profilnya. Selain itu, pengguna dapat bergabung dengan grup yang memiliki tujuan tertentu, yang diurutkan berdasarkan tempat kerja, sekolah, perguruan tinggi, atau karakteristik lainnya. Nama layanan Facebook ini berasal dari  nama  buku,  yang  diberikan  kepada  mahasiswa  pada  tahun akademik pertama oleh administrasi universitas di Amerika Serikat, dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain. Facebook juga memungkinkan setiap orang berusia minimal tiga belas tahun menjadi pengguna aktif di situs jejaring sosial ini.

       Belakangan ini Facebook sangat digemari, bahkan dalam jangka waktu satu   tahun,   Facebook   mampu   menarik   perhatian   puluhan   juta masyarakat Indonesia. Hal ini terlihat dari seringnya masyarakat membuka situs ini, baik itu dari warung internet, rumah, kantor atau bahkan yang tercepat kini lewat ponsel sekalipun. Akun Facebook dapat dengan mudah diakses, sekedar untuk memperbaharui status, hampir jadi  kebiasaan  dalam keseharian.  Dengan  Facebook  siapapun  dapat berkomunikasi melalui dunia maya, baik dengan keluarga, atau teman yang sudah bertahun-tahun tidak ketemu Bahkan bisa berkomunikasi dengan orang terkenal yang selama ini diidolakan.

         Situs ini juga bisa digunakan untuk menyebarluaskan informasi, seperti halnya undangan pernikahan, kampanye sosial atau bahkan iklan suatu produk tertentu. Namun,  manfaat positif  Facebook  dapat  disalahgunakan  oleh oknum pengguna yang tidak bertanggung jawab, seperti memperbaharui status yang dapat menyinggung perasaaan    orang lain, atau dapat mencemarkan nama baik seseorang, dan unggah foto-foto vulgar atau yang  tidak  layak  dilihat  oleh  orang  banyak.

         Menurut Richard Dawskin (1984)meme (mim) adalah neologi yang dikenal sebagai karakter dan budaya, yang termasuk didalamnya yaitu gagasan, perasaan, ataupun perilaku (tindakan). Berikut merupakan contoh meme : gagasan, ide, teori, penerapan, kebiasaan, lagu, tarian dan suasana hati. Meme dapat bereplikasi dengan sendirinya  (dalam bentuk peniruan), dan membentuk suatu budaya, cara seperti ini mirip dengan penyebaran virus (tetapi dalam hal ini terjadi diranah budaya).

           Sebagai unit terkecil dari evolusi budaya, dalam beberapa sudut pandang meme serupa dengan gen. Richard Dawskins, dalam bukunya selfish genepada tahun 1996, menceritakan apa dan bagaimana dia menggunakan istilah meme untuk menceritakan bagaimana prinsip Darwinian untuk menjelaskan penyebaran ide ataupun fenomena budaya. Dawskins juga memberi contoh meme yaitu nada, kaitan dari susunan kata, kepercayaan, gaya berpakaian dan perkembangan teknologi.Meme juga diartikan sebagai ide, perilaku atau gaya yang menyebar dari satu orang ke orang lain. Internet meme mengambil bentuknya dalam sebuah gambar, hyperlink, video, website, atau hastag.

         Richard Dawskin juga mencirikan meme internet sebagai kreativitas manusia. Tidak hanya sebagai bahan guyonan, meme internet juga bisa menjadi strategi pemasaran oleh pengiklan, professional marketing serta publicrelations. Mereka bisa memakai meme internet untuk menciptakan pemasaran gerilya atau viral marketing bagi produk atau layanan mereka.

         Namun disisi lain diera modern pada saat ini munculnya ide kreatif dari beberapa ilustrator yang bernama Matt Oswald dan Whynne (seorang userDeviantART) yang membuat meme menjadi lebih jreng dengan suasana baru yang dimana mereka menciptakan beberapa karakter 2D ataupun melalui gambar-gambar lucu dari beberapa tokoh dunia dan tokoh biasa yang wajahnya memiliki nilai humor membuat para pengguna internet terutama sosial media khususnya facebook menjadi lebih tertarik dengan meme tersebut.

        Pada saat ini kita lihat disosial media fenomena meme merupakan hal yang sudah menjalar bagi pengguna sosia media, sudah tidak asing lagi bagi kita melihat sebuah gambar-gambar yang lucu mengenai masalah yang terjadi pada saat ini. Pada saat ini segala kejadian pasti akan dijadikan sebuah meme, baik itu kejadian mengenai politik yang terjadi pada saat ini, olahraga layaknya bola, basket, dan sejenisnya, bahkan figure seseorang pun sering dijadikan meme pada saat ini.

         Dengan adanya meme yang banyak beredar pada saat ini yang memiliki berbagai tema pada halaman-halamannya, mempengaruhi masyarakat ketika menyampaikan pendapat mereka mengenai tema-tema yang sedang happening,terlebih saat ini masyarakat Indonesia khususnya, merupakan masyarakat yang welcome terhadap hal-hal baru yang bermunculan di sosial media.

          1.2 RumusanMasalah 

 

  1.      1. Untuk memperjelas permasalahan penelitian ini, maka perlu adanya rumusan masalah sehingga perlunya adanya keseimbangan antara teori dan realita yang terjadi dilapangan, rumusan masalah ini adalah :

    2.    Bagaimana fenomena mememengubah seseorang dalam menyampaikan pesan, ide, gagasan dan mempengaruhi interaksi antar pengguna sosial media facebookmengenai pertadingan sepak bola

    1.3 FokusPenelitian

  2.    Berdasarkanlatarbelakangpermasalahan diatas, makayang menjadi fokusdalam penelitianini adalah :
    1. Fenomena Meme pada halaman Sosial Media Facebook
    2. Meme tentang olahraga sepak bola
    3. Pengaruh Meme terhadap interaksi pengguna sosial media facebook dalam menyikapi ulasan pertandingan sepak bola

    4. Halaman facebook seperti Troll Football, Troll FootballIndonesia, Footy                   Jokes Indonesia dan Real Madrid: Ruling Clubs Since 1902

       1.4 TujuanPenelitian

Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah :

  1.           Mengetahui dan mendeskripsikanfenomena memeyang mempengaruhi interaksi antar pengguna sosial media facebook dalam menyampaikan ide dan pesan mengenai pertandingan sepak bola.

      1.5 ManfaatPenelitian

  1. ManfaatTeoritis
  1.  Untuk menambah kajian dalam bidang ilmu komunikasi terutama yang menggunakan metode kualitatif pada umumnya, melalui perkembangan hal-hal yang berhubungan dengan sosial media yang sudah mendunia bagi setiap orang tidak terlepas bagi mahasiswa.
  2. ManfaatPraktis
  1.     Dapat menjadi bahan evaluasi dan masukan bagi mahasiswa ilmu komunikasi serta institusi media sosial, khususnya bagaimana fenomena yang dihasilkan dari sebuah meme.
  2.        Dapat menjadi referensi bagi mahasiswa ilmu komunikasi yang tertarik dengan penelitian yang berhubungan dengan sosial media.

 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.   Penelitian Terdahulu

     Penelitian terdahulu adalah untuk mendukung penelitian dan menambah referensi guna mengetahui perbandingan antara hasil penelitian yang dilakukan penulis dengan penulis sebelumnya.

      Penelitian oleh Rosa Redia Pusanti (2014) dengan judul “Representasi Kritik Dalam Meme Politik (Studi Semiotika Meme Politik Dalam Masa Pemilu 2014 pada jejaring Sosial “Path” Sebagai Media Kritik di Era Siber). Hasil penelitian tersebut menunjukkananalisis semiotik meme politik yang dipilih dan observasi ke “netizen” tentang praktek mereka posting meme di media sosial untuk menyampaikan pesan untuk mengkritik partai yang berkuasa, aktor-aktor politik, kampanye politik dan peristiwa politik lainnya melalui pesan lucu membentuk dikenal sebagai meme.

       Kesamaan antara penelitian ini dengan penelitian penulis, pertama adalah sama-sama meneliti meme, tujuan dan manfaat penelitian Redia Pusanti, yaitu penelitian menunjukkan ikon, indeks dan simbol dalam meme politik memiliki potensi untuk kuat menyampaikan pesan dalam bentuk visual dan vernakular untuk menjembatani keterlibatan politik bermain di jaringan sosial “Path” dengan kesadaran kritis isu-isu politik. meme politik yang dipilih menyebar selama pemilu tahun 2014 menunjukkan representasi kritik pada beberapa peristiwa politik di Indonesia.

      Sedangkan yang menjadi perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian penulis adalahpada latar belakang, rumusan masalah dan salah satu fokus penelitiannya yang bertujuan mengetahui meme politik memiliki potensi untuk kuat menyampaikan pesan dalam bentuk visual dan vernakular untuk menjembatani keterlibatan politik bermain di jaringan sosial “Path” dengan kesadaran kritis isu-isu politik.Maka penelitian penulis hanya terfokus pada bagaimana fenomenameme yang berkembang pada saat ini dapat mengubah seseorang dalam menyampaikan pesan, ide ataupun gagasan dalam menyikapi dan menilai sebuah kejadian saat ini. Selanjutnya penelitian penulis sama-sama menggunakan pendekatan kualitatif dan semiotika.

         Menurut penelitian oleh Warshano Sahar (2014) yang berjudul “Fenomena New Media 9Gag (Studi Observasi Penggunaan situs 9Gag dan Meme Oleh Remaja).”Hasil penelitian tersebut menunjukkan remaja masa kini sangat peka dengan eksitensi new media dan salah satu situs sosial yang kerap dikunjungi adalah situs 9gag dimana meme merupakan konten inti dari situs tersebut. Melihat bagaimana perilaku seorang remaja setelah menggunakan situs 9gag.

   Persamaan penelitian ini terdapat pada tujuan penelitian dan sama-sama memaparkan bagaimana pengguna meme pada masa kini dengan new media yang selalu mengikuti perkembangan populer. Selain itu persamaan juga terdapat pada pendekatan yang digunakan yaitu menggunakan pendekatan kualitatif.

    Sedangkan yang menjadi perbedaan yaitu teori penelitian penulis yang menggunakan teori interaksionisme simbolik, berbeda dengan  teori seperti penelitian Warshano Sahar yang menggunakan teori uses and gratification. Selanjutnya, lokasi, waktu dan informan antara penelitian penulis dan penelitian Warshano Sahar berbeda pula.

2. Teori Interaksionisme Simbolik

         Beberapa orang ilmuwan punya andil utama sebagai perintis interaksionisme simbolik, diantaranya James Mark Baldwin, William James, Charles H. Cooley, John Dewey, William I.Thomas, dan George Herbert Mead. Akan tetapi Mead-lah yang paling populer sebagai perintis dasar teori tersebut. Mead mengembangkan teori interaksionisme simbolik pada tahun 1920-an dan 1930-an ketika ia menjadi professor filsafat di Universitas Chicago. Namun gagasan-gagasannya mengenai interaksionisme simbolik berkembang pesat setelah para mahasiswanya menerbitkan catatan dan kuliah-kuliahnya, terutama melalui buku yang menjadi rujukan utama teori interaksi simbolik, yakni : Mind, self, and society (1934) yang diterbitkan tak lama setelah Mead meninggal dunia. Penyebaran dan pengembangan teori Mead juga berlangsung melalui interpretasi dan penjabaran lebih lanjut yang dilakukan para mahasiswanya, terutama Herbert Blumer. Justru Blumer-lah yang menciptakan istilah “interaksi simbolik” pada tahun (1937) dan mempopulerkannya dikalangan komunitas akademis.

      Interaksi simbolik merupakan suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manusia, yakni komuikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna. Blumer menyatukan gagasan-gagasan tentang interaksi simbolik lewat tulisannya, dan juga diperkaya dengan gagasan-gagasanya dari John Dewey, William I. Thomas, dan Charles H. Cooley.

      Mead adalah pemikir yang sangat penting dalam sejarah interaksionisme simbolik.  Karya tunggal Mead yang amat penting dalam hal ini terdapat dalam bukunya yang berjudul mind, self, dan society. Mead mengambil tiga konsep kritis yang diperlukan dan saling mempengaruhi satu sama lain untuk menyusun sebuah teori interaksionisme simbolik. Dengan demikian, pikiran manusia (mind), dan interaksi sosial (diri/self) digunakan untuk mengiterpretasikan dan memediasi masyarakat (society).

  1. Pikiran (mind)

           Pikiran yang didefinisikan Mead sebagai proses percakapan seseorang dengan dirinya sendiri, tidak ditemukan didalam diri individu, pikiran adalah fenomena sosial.Pikiran muncul dan berkembang dalam proses sosial dan merupakan bagian integral dari proses sosial. Proses sosial mendahului pikiran, proses sosial bukanlah produk dari pikiran. Jadi pikiran juga didefinisikan secara fungsional ketimbang secara subtansif, Karateristik istimewa dari pikiran adalah kemampuan individu untuk memunculkan dalam dirinya sendiri tidak hanya satu respon saja, tetapi juga respon komunitas secara keseluruhan. Itulah yang kita namakan pikiran.

          2. Diri (self)

    Banyak pemikiran Mead pada umumya, dan khususnya tentang pikiran, melibatkan gagasannya mengenai konsep diri. Pada dasarnya diri adalah kemampuan untuk menerima diri sendiri sebagai sebuah objek. Diri adalah kemampuan khusus untuk menjadi subjek maupun objek. Diri adalah kemampuan khusus untuk menjadi subjek maupun objek. Diri muncul dan berkembang melalui aktivitas dan antara hubungan sosial. Menurut Mead adalah mustahil membayangkan diri yang muncul dalam ketiadaan pengalaman sosial. Tetapi, segera setelah diri berkembang ada kemungkinan baginya untuk terus ada tanpa kontak sosial.

           3. Masyarakat (Society)

       Pada tingkat paling umum, Mead menggunakan istilah masyarakat (society) yang berarti proses sosial tanpa henti yang mendahului pikiran dan diri.Masyarakat penting perannya dalam membentuk pikiran dan diri. Di tingkat lain, menurut Mead, masyarakat mencerminkan sekumpulan tanggapan terorganisir yang diambil alih oleh individu dalam bentuk “aku” (me). Menurut pengertian individual ini masyarakat mempengaruhi mereka, memberi mereka kemampuan melalui kritik diri, untuk mengendalikan diri mereka sendiri. Sumbangan terpenting Mead tentang masyarakat terlertak dalam pemikirannya mengenai pikiran dan diri.

2.2.1 Mazhab Chicago

      George Herbert Mead pada umumnya dipandang sebagai pemula utama dari pergerakan, dan pekerjaannya pasti membentuk inti dari Aliran Chicago.Herbert Blumer, Mead merupakan pemikir terkemuka, menemukan istilah interaksionisme simbolik, suatu ungkapan Mead sendiri tidak pernah menggunakan Blumer mengacu pada label ini sebagai suatu sedikit banyaknya pembentukan kata baru liar yang didalam suatu jalan tanpa persiapan. Ketiga konsep utama didalam teori Mead, menangkap didalam jabatan pekerjaan terbaik yang dikenalnya, adalah masyarakat, diri, dan pikiran. Kategori ini adalah aspek yang berbeda menyangkut proses umum yang sama, sosial anda bertindak. Tindakan sosial adalah suatu sumbu konsep payung yang mana hampir semua psikologis lain dan proses sosial jatuh.

          Tindakan adalah suatu unit yang lengkap melakukan itu tidak bisa dianalisa ke dalam spesifik sub bagian. Suatu tindakan anda mungkin sederhana dan singkat, seperti ikatan suatu sepatu, atau anda mungkin saja merindukan dan mempersulit, seperti pemenuhan suatu rencana hidup. Tindakan berhubungan dengan satu sama lain dan dibangun ujung sepanjang umur hidup. Tindakan andai kalau dengan suatu dorongan hati mereka melibatkan tugas dan persepsi maksud, latihan mental, dengan alternatif berat, dan penyempurnaan.

       Dalam Format paling dasarnya, suatu tindakan sosial melibatkan tiga satuan hubungan bagian : suatu awal mengisyaratkan dari seseorang, suatu tanggapan untuk isyarat itu oleh orang lain dan suatu hasil. Hasil menjadi maksud komunikator untuk tindakan. Maksudnya berada didalam hubungan ketiga dari semuanya.

      Hubungan umur dapat meresap, memperluas dan menghubungkan sampai jaringan diperumit. Para aktor jauh diperhubungkan ahirnya didalam jalan berbeda, tetapi kontroversi ke pemikiran populer, “suatu jaringan atau suatu institusi tidak berfungsi secara otomatis oleh karena beberapa kebutuhan sistem atau dinamika bagian dalam : berfungsi sebab orang orang pada poin berbeda lakukan sesuatu yang, dan apa yang mereka lakukan adalah suatu hasil bagaimana mereka disebut ke atas tindakan.” Dengan ini gagasan untuk sosial bertindak dalam pikiran, kemudian lebih lekat disegi yang pertama dari analisa masyarakat median.

       Bagi Blumer, obyek terdiri dari tiga fisik yaitu tipe (barang), sosial (orang-orang), dan abstrak (gagasan). Orang-orang menggambarkan obyek yang dengan cara berbeda, tergantung pada bagaimana mereka biarkan kearah obyek itu.

2.2.2 Asumsi dasar Teori Interaksionieme Simbolik

         Asumsi dasar teori interaksionisme simbolik menurut herbert Mead adalah : (1) Manusia bertindak terhadap benda berdasarkan “arti” yang dimilikinnya, (2) Asal muasal arti atas benda-benda tersebut muncul dari interaksi sosial yang dimilikinya seseorang, (3) Makna yang demikian ini diperlukan dan dimodifikasikan memalui proses interpretasi yang digunakan oleh manusia dalam berurusan dengan benda-benda lain yang diterimanya.

          Ketiga asumsi tersebut kemudian melahirkan pokok-pokok pemikiran interaksi simbolik yang menjadi ciri-ciri utamanya yaitu ; (1) Interaksi simbolik adalah proses-proses formastif dalam haknya sendiri, (2) karena hal tersebut, maka ia (interaksi simbolik) membentuk proses terus-menerus yaitu proses pengembangan atau penyesuaian tingkah laku, dimana hal ini dilakukan melalui proses dualisme definisi dan interpretasi, (3) Proses pembuatan interpretasi dan defiinisi dari tindak satu orang ke orang lain berpusat dalam diri manusia melalui interaksi simbolik yang menjangkau bentuk-bentuk umum hubungan manusia secara luas.

2.2.3 Keterkaitan Teori Interaksionisme Simbolik Dengan Penelitian

     Interaksionisme Simbolik merupakan perilaku seseorang dipengaruhi oleh simbol yang diberikan oleh orang lain, demikian pula perilaku orang tersebut, melalui pemberian isyarat berupa simbol, maka kita dapat mengutarakan isi perasahaan, pikiran, maksud dan sebaliknya dengan membaca simbol yang ditampilkan oleh orang lain.

          Jadi dengan adanya meme yang pada saat ini hadir dikehidupan sosial media yang sering kita gunakan, tanpa kita sadar kita juga sering menggunakan meme yang merupakan sebuah simbolsebagai salah satu penyampaian pesan, perasahaan, pikiran ataupun yang lainnya. Jadi hal inilah yang membuat penulis juga menghubungkan teori ini dengan penelitian nantinya untuk diteliti.

2.3 Sosial Media di Indonesia

          Perubahan teknologi dalam dunia internet telah membuka ruang komunikasi yang lebih interaktif yang semula komunikasi satu arah menjadi komunikasi berbagai arah. Sosial media memungkinkan pertukaran informasi yang cepat serta masif. Ruang baru yang coba ditawarkan adalah mendorong politik menggunakan sosial media. Kehadiran media sosial setidaknya memerdekakan nalar kita akan arti sesuai kemerdekaan berpendapat, menguatkan akan arti penting pilihan sesuai kebutuhan, dalam hal ini itulah yang   menjelaskan   perbedaan   substansial   sosial   media   dengan   media mainstream.  Media  baru  tidak  memiliki  keterbatasan  konten  dan  memberi kontrol   yang   lebih   besar   kepada   pengguna   baik   atas   informasi   yang diterimanya atau informasi apa yang akan ditransmisikan.

    Sosial media di Indonesia sendiri telah berkembang sejak kemunculan “Friendster”, “Facebook”, “Twitter”. Sebagai negara berkembang, Indonesia menjadi negara dengan kebutuhan internet yang cukup tinggi dengan keaktifan yang terbilang luar biasa karena menempati setidaknya urutan ke 4 sebagai pengguna “Facebook” serta “Twitter” terbanyak di tahun 2013 dan selalu memasuki jajaran 5 besar.

          Kecenderungan percakapan di sosial media sosial di Indonesia memang masih sebagian besar terkait pesan-pesan ringan, yaitu sekitar 80% dan 20% telah memanfaatkan media sosial untuk  promosi bisnis dan politik. Melihat keaktifan netizen Indonesia.Namun semakin berkembangnya sosial media maka kepentingan yang lain akan berbaur dengan yang lainnya, seperti pada saat ini banyak orang yang menggunakan sosial media sebagai media untuk menyelesaikan tujuannya, seperti bisnis online yang saat ini meraja lela di sosial media untuk menjual barang-barang umum maupun khusus, dari yang sering dibutuhkan orang sampai hanya sekedar hobi dan aksesoris semata.

           Ada juga yang menggunakan sosial media sebagai alat untuk membuat dirinya menjadi terkenal dengan membuat hal yang yang lucu dan menarik seperti di instagram banyak yang membuat video lucu, video seru, ataupun video yang dapat membuat orang terkagum melihatnya, ada juga sebagai sumber informasi berbagi dalam sebuha komunitas dan yang lainnya, ada juga sebagai alat untuk mempopulerkan diri sebagai alat politik dan masih banyak contoh lainnya.

        Perkembangan sosial media yang selalu update saat ini berhasil membuat jutaan orang semakin terus bertambah banyak menggunakanya dari segala umur, dan latar belakang yang ia miliki, sosial media berhasil menjadi alat utama komunikasi yang terjadi pada kehidupan modern pada saat ini.

2.4 Meme

    Meme merupakan kata yang dipopulerkan oleh Richard Dawkins yang digunakannya untuk menceritakan bagaimana prinsip darwinian untuk menjelaskan penyebaran ide ataupun fenomena budaya. Richard Brodie mengembangkan teori ini dalam penelitiannya Virus of The Mind: The New Science of the Meme, yang menyebutkan bahwa meme adalah suatu unit informasi yang tersimpan di benak seseorang, yang mempengaruhi kejadian di lingkungannya sedemikian rupa sehingga makin tertular luas di benak orang lain. Pengertian-pengertian tersebut dapat membawa kita pada kesimpulan bahwa meme merupakan suatu informasi yang berupa ide, ideologi, gambar, musik, video maupun susunan kata serta hashtag yang menjadi populer karena tersebar  begitu  cepat  dan  mampu  mendiami  benak  masyarakat  selayaknya virus.  Meskipun  pengertian  Dawkins  berkisar antara analogi  gen,  meme di internet  memiliki  karakteristik  yang  sangat  mirip.  Meme  dapat  menyebar sangat cepat dalam lingkungan online, sifatnya dapat menghibur, mendidik dan bahkan berpotensi digunakan sebagai media kritik.

     Meme adalah unit yang tersebar melalui sosial media bersamaan dengan reportase jurnalistik. Meme merupakan hasil produksi rakyat yang digunakanuntuk memberikan komentar pada peristiwa dengan diikuti template tertentu dari gambar-gambar  online  populer. Walaupun  tidak  selalu  berbentuk gambar, secara spesifik, meme adalah istilah yang digunakan di cyberspace untuk mendeskripsikan gambar-gambar yang telah melalui proses pengeditan dari penggalan-penggalan video maupun foto yang tersebar melalui internet.

         Meme tidak hanya mengandung humor tapi juga sentilan, kritik serta ungkapan akan gagasan-gagasan mengenai fenomena terkini yang sedang hangat. Meme dikemas sedemikian rupa untuk memunculkan makna akan kritik netizen mengikuti tema yang diusung oleh kreatornya sebagai bentuk menyampaikan gagasan maupun bentuk kritik terhadap peristiwa politik serta kebijakan pemerintah yang kini marak tersebar di dunia maya, terutama jejaring sosial “Facebook”.

           Komik meme adalah suatu komik yang berisikan gambar-gambar singkat yang menceritakan guyonan atau lelucon yang mudah kita pahami hanya dengan melihat gambarnya dan membaca sedikit tulisannya. Komik meme yang akhir-akhir ini booming adalah meme tentang sindiran terhadap naiknya harga rokok.Sejarah asal mula meme (dibaca: mim) berasal dari bahasa yunani, negeri para dewa yaitu ”mimema” yang berarti ”imitasi”.

      Meme berarti sebuah kebudayaan yang berupa apresasi ide, gagasan, teori, perilaku, dan emosi seseorang terhadap suatu hal yang menjadi obesesinya, baik itu kesukaannya, hal yang ia benci, hal yang mengganggunya, atau hal yang dirasa tidak wajar baginya. Pengekspresian perasaan tersebut disalurkan melalui gambar dan tulisan, itulah yang disebut dengan meme. Meme biasanya berupa komik yang simpel dan singkat dan mudah dipahami. Meme bisa berupa cerita, sindiran, banyolan, dan obsesi lainnya. Gambar yang diunakan untuk membuat meme biasanaya berupa Ekspresi manusia atau hewan, selebritis, gambar produk, dan gambar bebas. Selain itu, ada beberapa karakter yang sengaja dibuat untuk mengekspresiakn emosi pada komikmeme, salah satunya adalah ” Troll Face”

 

BAB III
METODE PENELITIAN

 

3.1 Subjek dan ObjekPenelitian

      Lokasi penelitian adalah tempat penelitian ilmiah dilakukan. Adapun lokasi penelitian ini dipusatkan pada sosial media facebook itu sendiri melalui halaman-halaman yang bertemakan meme dengan melihat pengguna facebook yang meng-like halaman meme sepak bola itu sendiri.

3.2 PendekatanPenelitian

    Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini dengan pendekatan fenomenologi. Menurut Craswell (1998) fenomenologi adalah suatu metode yang berusaha untuk mengungkap dan mempelajari serta memahami suatu fenomena beserta konteksnya yang khas dan unik yang dialami oleh pengguna individu hingga tataran keyakinan yang bersangkutan.

        Pada penelitian ini peneliti berusaha menganalisis fenomena meme di sosial media facebook. Metode kualitatif yaitu mengumpulkan, mengolah, berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu sehingga dapat memberikan suatu gambaran sistematis.

         Data kualitatif bersifat deskriptif yang berupa kata-kata lisan atau ungkapan dan gambaran dimana data tersebut diperoleh dari hasil wawancara dan pengamatan dari tingkah laku orang yang diteliti. Sehingga data yang berada di lapangan mampu mengungkapkan interpretasi subjekakan perilakunya(Moeleong, 2005:6).

3.3 Informan Penelitian

    Informan pada penelitian  ini adalah orang-orang yang bisa memberikan informasi atau data terkait tentang latar dan masalah penelitian yang sedang dikaji. (Moeleong, 2005:132). Adapun informan pada penelitian ini adalah pengguna aktif media Facebook yang berkecimpung dihalaman-halaman facebook yang bertemakan sepak bola, seperti halaman Troll Football, Troll Football Indonesia, Footy Jokes Indonesia dan Real Madrid: Ruling Clubs Since 1902.

3.4 Sumber Data

       Pengumpulan data adalah pencatatan peristiwa-peristiwa  sebagian atau seluruh elemen populasi yang akan mendukung penelitian. Adanya penentuan sumber sebagai validalitas data yang diperoleh pada teknik pengumpulan data, yaitu data yang relevan. Berdasarkan hal tersebut maka sumber data dibagi menjadi dua jenis, yaitu :

  1. Data Primer, yaitu data utama yang diperoleh secara langsung dari informan penelitian. Data ini diperoleh dengan cara melihat langsung aktifitas pengguna halaman pada sosial media facebook yang menyukai meme sepak bola.
  2. Data Sekunder, yaitu sumber data penelitian yang diperoleh secara tidak langsung melalui perantara (pihak lain), umumnya berupa bukti, buku catatan atau laporan yang dipublikasikan maupun tidak dipublikasikan.

3.5 TeknikPengumpulan Data

1. Observasi (Pengamatan)

  1.      Observasi merupakan pengamatan langsung dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala dan organisasi yang tampak terhadap subjek penelitian dengan tujuan untuk memperoleh data langsung.

  2. 2. Wawancara

  3.      wawacara adalah percakapan dua pihak antara yang mengajukan pertanyaan dengan yang memberikan jawaban,dilakukan dengan mendalam sesuai kebutuhan dan karakteristik sosial-budaya. Teknik wawancara yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah strata dan purposive sampling, yaitu pemilihan informan secara berurut berdasarkan tingkat kedudukan informan yang dianggap mempunyai sangkut pautnya dengan karakteristik yang sudah diketahui sebelumnya (Ruslan, 2006:146)

     

    3. Dokumentasi

          Dokumentasia dalah suatu cara atau metoded alam mengumpulkan data     sekunder dari dokumen barang-barang tertulis untuk melengkapi data primer.

3.6 TeknikAnalisis Data

             Menurut Nasution (dalamArdianto, 2010:216), analisis data dalam penelitian kualitatif harus dimulai sejakawal. Data yang diperoleh dalam lapangan harus segera dituangkan dalam bentuk tulisan dan dijelaskan. Berikut cara yang dianjurkan:

  1. Reduksi Data

          Data diuraikan dengan merinci hal-hal pokok laporan, untuk menggolongkan dan membuang yang tidak perlu.Jadi laporan lapangan sebagai bahan “mentah” perlu disingkatkan atau dirangkum pada fokus yang penting, di cari tema atau  . Laporan ini akan terus menerus bertambah, maka data yang direduksi mempermudah peneliti untuk mencari kembali data bila diperlukan.Hasil pengamatanpenulisakan senantiasa ditinjau kembali untuk mengurutkan, mengarahkan dan mempertajam maksud dari penelitian.

          2. Penyajian data

           Peneliti mengumpulkan informasi yang telah tersusun serta memungkinkan pengambilan tindakan dengan membuatmatriks dangrafik. Maksud ini agar memudahkan peneliti untuk melihat gambaran secara keseluruhan bagian penelitian atau pengorganisasian data dalam bentuk tertentu sehingga terlihat lebih jelas.

        3. Penarikan Kesimpulan

      Peneliti mencari hubungan (makna), persamaan, hipotesis, dansebagainya. Selama penelitian berlangsung, kesimpulan senantiasa harus diverifikasi (pencarian kebenaran), untuk memperoleh inti data.

 

DAFTAR PUSTAKA

Burhan,Bungin, 2008. Kontruksi Sosial Media Massa.Jakarta : PT. Kencana

Mulyana, Deddy. 2008. Komunikasi Massa Kontroversi, TeoridanAplikasi. WidyaPadjajaran : Bandung

James Lull, 1997. Media komunikasi,  Kebudayaan; Suatu Pendekatan Global.Jakarta : yayasan Obor Indonesia

Mulyana, Deddy, 2001: metode penelitian kualitatif : paragdima Barui Ilmu komunikasi dan ilmu sosial lainnya. Bandung : Remaja Rosdakarya

Herdiansyah, Harris. 2010: Metode Penelitian Kualitatif : untuk ilmu-ilmu sosial. Jakarta Selatan : Salemba Humanika

Muhadjir, Noeng. 1998. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Reka Sarasin

Suprapto, Riyadi. 2002: Interaksi simbolik; Perspektif Sosiologu Modern. Malang : Averrous Press Bekerjasama dengan penerbitpustaka pelajar Yogyakarta.

Arifianti, Widya. 2015: If you know what happened in MCI. Jakarta : Loveable

Adhiwijayanti, Anindita. 2015: Meme dibaca mim. Jakarta Selatan : Bukune

Meme Comic Indonesia. 2015: Bukan Meme Comic Indonesia. Jakarta : Lintas kata

Sumber lainnya:

BukuPanduanPenulisanSkripsiFisipUnimal, 2011

Media Massa:

Rosa, Redia, Pusanti Haryanto. 2014.  Representasi Kritik Dalam meme Politik (Studi Semiotika Meme Politik dalam Masa Pemilu 2014 pada jejaring Sosial “Path” sebagai Media Kritik di era Siber). UniversitasSebelas Maret: Skripsi

Arshano, Sahar. 2014. Fenomena New Media 9Gag (Studi Observasi Terhadap Penggunaan Situs 9Gag dan Meme Oleh Remaja. UniversitasIndonesia: Skripsi

http://sitamagfirawordpress.com/2010/08/budayapopulerdanpenciptaankebutuhan/

https://id-id.facebook.com/facebook

4muda.com/10-situs-jejaring-sosial-terpopuler/

http://www.statistic.com